AMBON, Siwalimanews – Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Wendy Pelupessy menegaskan, rapid test terhadap tiga warga Silale yang memiliki kontak dekat dengan pasien A yang hasil swab dinyatakan positif, akan segera dilakukan

Terdapat tiga orang warga yang memiliki kontak dekat dan sesuai dengan prosedur kesehatan, ketiga orang tersebut harus melakukan rapid test untuk memutuskan mata rantai penyebaran Covid-19 di Kota Ambon.

“3 orang tersebut diketahui melakukan kontak dengan pasien terkonfirmasi (positif) Covid-19, dan sesuai dengan protap mau atau tidak, rapid test akan tetap dilakukan terhadap orang-orang yang pernah melakukan kontak dengan pasien tersebut,” ujarnya.

Langkah ini, kata Pelupessy, merupakan langkah yang tepat untuk mengetahui dengan pasti kemana arah langkah penularan virus Covid-19, agar tidak lagi ada penambahan pasien reaktif atau positif di Kota Ambon.

Selain itu, tegasnya, rapid test yang nantinya akan dilaksanakan dilakukan secara gratis oleh pihak Dinas Kesehatan yang merupakan tim penanganan Covid-19 di Kota Ambon.

Baca Juga: Rumbalifar: Desa Wajib Bangun Posko Relawan Covid-19

“Ini adalah langkah tepat untuk melacak dan memutuskan mata rantai penularan Covid-19, sehingga dengan dilakukannya rapid test terhadap ketiga warga tersebut, maka akan diketahui dengan pasti arah penularan virus, dan rapid test yang dilakukan gratis,” tuturnya.

Pelupessy mengakui, penjelasan secara lisan telah dilaksanakan oleh OPD terkait termasuk dalam tim gugus tugas percepatan Penanganan Covid-19 Kota Ambon, dan ditujukan kepada sejumlah warga silale yang tercatat telah melakukan aksi demonstrasi terkait penolakan rapat test.

Karena warga menolak, lanjutnya, maka Dinas Kesehatan Kota Ambon akan melibatkan BPBD, Analis dan Tim Tracing turun ke lokasi dan memberikan penjelasan.

“Besok (hari ini-red), akan dilakukan mediasi oleh Gugus Tugas Kota Ambon, yang pasti secepatnya akan kita lakukan rapid test, karena tidak ada jalan lain selain rapid test. Yang nantinya bila hasil rapid reaktif akan dilanjutkan dengan pemeriksaan SWAB,” katanya.

Ia mengharapkan, masyarakat dapat membantu tenaga medis guna untuk memutuskan mata rantai penyebaran, sebab hal ini harus dilakukan secara bersama tak hanya pemerintah atau gugus tugas saja, namun butuh bantuan dan partisipasi dari masyarakat.

Demo Tolak

Seperti diberitakan sebelumnya, puluhan warga RT 002/04 Kelurahan Silale, Kecamatan Nusaniwe, melakukan aksi demo menolak rapid test oleh Gugus Tugas Penanganan Covid-19, Kota Ambon, Kamis (4/6).

Aksi demo yang dilakukan kurang lebih 80 warga itu,  bermula ketika Gugus Tugas Kota Ambon datang di Kelurahan Silale dengan tujuan melakukan rapid test kepada warga setempat.

Rapid test harus dilakukan berdasarkan hasil tracking dari salah seorang warga setempat berinisial A yang berstatus pasien dalam pengawasan (PDP). Ia saat ini sementara menjalani karantina di Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Maluku.

Namun warga menilai Dinas Kesehatan Kota Ambon tertutup soal hasil swab pasien A tersebut.

“Kami tolak dilakukan rapid test. Kami menunggu hasil swab dari bapak A, yang sekarang diisolasi di LPMP,” tegas penanggung jawab aksi demo, Arfan Arsad.

Arfan menegaskan, Pemkot Ambon menutupi hasil pemeriksaan swab pasien A, padahal pasien tersebut telah menjalani karantina melebihi waktu sesuai aturan protokol Covid-19.

Selain itu, warga juga menyayangkan rapid test yang akan dilakukan tanpa sosialisasi terlebih dulu.

“Sampai sekarang pemeriksaan hasil swab belum disampaikan Gugus Tugas Kota Ambon kepada keluarganya. Selain itu apabila mau melakukan rapid test, terlebih dulu sosialisasi kepada masyarakat,” tegas Arfan.

Akibat aksi demo warga, gugus tugas gagal melakukan rapid test.

Sementara Lurah Silale, Syaripa Soulisa yang dihubungi Siwalima membenarkan penolakan warga untuk dilakukan rapid test. Ia mengaku, sebelum gugus tugas turun, lebih dulu sudah dilakukan koordinasi. Rapid test hanya dilakukan untuk keluarga pasien A.

“Sebelum tim datang sudah dilakukan koordinasi lebih dahulu, tidak tahu masalahnya apa sampai membuat warga demo sehingga rapid test tidak dilakukan,” tandasnya kesal.

Soulisa mengatakan, pihaknya akan melakukan pendekatan lagi agar keluarga pasien A mau dilakukan rapid test.

“Kita nanti koordinasi dengan keluarga karena harus dilakukan rapid test,”  tegasnya.

Disinggung soal alasan warga menolak dilakukan rapid test, karena gugus tugas tidak terbuka soal hasil swab pasien A, dan tidak dilakukan sosialisasi lebih dulu, Soulisa menegaskan, sudah dilakukan koordinasi dengan pihak keluarga pasien A. (Mg-6)