AMBON, Siwalimanews – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Pulau Manipa (HMPM) menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor PT PLN Wilayah Maluku dan Maluku Utara, Senin (12/4).

Mereka mendatangi PLN Wilayah Maluku untuk memprotes pemadaman aliran listrik yang terus terjadi di Manipa, dengan membawa pamflet yang antara lain bertuliskan, Kami Menolak Pemadaman Listrik Secara Bergilir oleh PLN Ranting Manipa, Pelita Lambat Nyala (PLN),  Saat Jatuh Cinta Aku Berani Terus Terang, PLN Harus Berani Terus Terang, PLN Pulau Manipa Mamayo, Lampu Mati Aduh Gelapnya.

Tiba di depan Kantor PLN Wilayah sekitar Pukul 10.00 WIT, Koordinator aksi Sarif Papalia langsung melakukan orasi dan menyebutkan, hingga saat ini penyediaan tenaga listrik di PLN Manipa yang disuplai kepada masyarakat sangat tidak efektif.

“Untuk itu, kami minta PLN Wilayah untuk melihat hal ini secara baik,” ujar Papalia.

Orator lainnya Surahmin Wance juga mengatakan, hari ini selaku mahasiswa mereka datang untuk menyampaikan aspirasi masyarakat kepada PLN Maluku dan Maluku Utara, bahwa masyarakat Kepulauan Manipa sangat resah dengan pemadaman listrik secara bergilir yang tidak jelas.

Baca Juga: Penjemputan Kubah Masjid Assallamah Jadi Hari yang Sakral

“Kami masyarakat Kepulauan Manipa merasa dianak tirikan terkait dengan kelistrikan, apalagi tinggal beberapa hari masyarakat dan umat Muslim lainnya akan menyambut bulan Suci Ramadhan, kami harapkan kepada pihak PLN Maluku dan Maluku Utara untuk tidak ada pemadaman. Jika ada pemadaman mohon segera mungkin diperbaiki,” tandas Wance dalam orasinya.

Setelah berorasi kurang lebih 30 menit atau pukul 10.30 WIT, puluhan mahasiswa Manipa ini diterima oleh Asisten Manager PT PLN Wilayah Maluku Malut Hairul Hattala.

Di depan Hattala Kordinator aksi Sarif Papalia membacakan empat poin tuntutan mereka maisng-masing, Pertama, mendesak PLN Wilayah Maluku dan Maluku Utara agar segera menindak lanjuti dan mengklarifikasikan pemadaman yang dilakukan PLN Ranting Manipa.

Kedua, mendesak PLN Wilayah Maluku dan Maluku Utara segera mungkin mengalihkan PLN Ranting Manipa dari Malteng ke Wilayah SBB. Ketiga, meminta kepada pihak PLN Wilayah Maluku dan Maluku Utara segera memanggil pihak-pihak terkait untuk membijaki persoalan PLN Ranting Manipa, dari tingkat pejabat desa, camat, kepala ranting, DPRD baik SBB maupun Provinsi Maluku.

Kempat, meminta kepada PLN Maluku dan Maluku Utara untuk menambahkan tenaga kerja PLN UP Manipa sesuai wilayah desa/dusun di Kecamatan Pulau Manipa.

Usai membacakan tuntutan tersebut, Papalia kemudian menyerahkannya kepada Asisten Manager PT PLN Wilayah Maluku Malut Hairul Hattala. Ia kemudian mengajak perwakilan demonstran untuk bertemu di ruang kerjannya.

Kepada mahasiswa Manipa, Hattala menyampaikan terimakasihnya sebab, sudah mengontrol kinerja PLN di Kecamatan Pulau Manipa.

“Kami dari Pihak PLN sangat membutuhkan masukan-masukan dari masyarakat kepada kami. Untuk itu kami ucapkan banyak terimakasih,” ucapnya.

Ia mengaku, terjadinya pemadaman secara bergiliran di kecamatan Manipa dikerenakan, salah satu mesin pembangkit mengalami kerusakan dan saat ini sementara dibuat pengajuan ke PLN pusat untuk mendatangkan mesin baru.

Kendala kami sekarang bukan hanya mesin saja, akan tetapi masalah alam juga kami sedang pikirkan seperti kencangnya angin yang menyebabkan tumbangnya ranting pohon yang mengenai jaringan kabel-kabel yang menyuplai listrik dari PLN UP Manipa ke dusun-dusun lainnya,” ungkap Hattala.

Untuk permasalahan tenaga kerja kata Hattala, PLN saat ini sementara memikirkan regenerasi tenaga kerja dan akan merekrut tenaga kerja yang mempunyai keahlian di bidangnya masing untuk diperbantukan di PLN UP di kecamatan-kecamatan yang berada di Wilayah Maluku dan Maluku Utara.

Usai mendengar penjelasan Hattal, sekitar Pukul 11.05 WIT puluhan Mahasiswa Manipa ini kemudian membubarkan diri dengan aman dan tertib meninggalkan Gedung kantor PT PLN Wilayah Maluku dan Maluku Utara. (S-51)