DOBO, Siwalimanews – Setelah dua hari dirawat di RSUD Cenderawasih Dobo, Satu pasien positif corona di Kabupaten Kepulauan Aru berinisial RL (57) meninggal.

Almarhum tercatat masuk RSUD Cenderawasih pada Jumat (15/1) dengan penyakit bawaan atau komorbid yang menjurus ke covid, dan sesuai hasil rapid test almarhum reaktif.

Kepala Sekretariat Satgas Covid- 19 Aru, Fredrik Hendrik membenarkan satu pasien Covid asal Aru meninggal dunia.

“Pasien ini dirawat sebelumnya karena menderita sakit bawaan, namun setelah masuk dan dilakukan rapid test maupun swab, yang bersangkutan dinyatakan positif Covid-19,” jelas Hendrik.

Ia mengungkapkan, jenazah almarhum 1×24 jam berada di ruang penanganan Covid-19 RSUD Cenderawasih dan baru dimakamkan,

Baca Juga: Satu Pasien Covid-19 di Aru Meninggal

Senin (18/1) karena harus persiapkan seluruh kelengkapan sesuai dengan protokol kesehatan.

“Jenazah baru Senin (18/1) siang sekitar pukul 11.20 WIT dibawah TPU di kawasan kilo meter 7, Desa Durjela, Kecamatan PP Aru,” ujar Hendrik.

Pantauan Siwalima di lokasi pemakaman, terlihat jenazah pasien Covid-19 dimakamkan tak jauh dari dari areal pemakaman umum. Pasalnya, hingga saat ini, Pemda Aru belum menyediakan TPU khusus covid.

103 Warga Terkonfirmasi

Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Aru mencatat sampai dengan, Senin (18/1) sebanyak 103 warga di kabupaten tersebut terkonfirmasi positif Covid-19.

“Sampai dengan hari ini, jumlah pasien terkonfirmasi positif Covid- 19 di Aru sebanyak 103 orang. Namun data secara rincinya kami di sekretariat belum menerimanya,” jelas Kepala Sekretariat Satgas Aru, Fredrik Hendrik kepada Siwalima di ruang kerjannya, Senin (18/1).

Belum diterima data secara rinci oleh pihak sekretariat kata Hendrik, dikarenakan juru bicara satgas Thomas Anmama baru saja selesai menjalani karantina terpusat, karena terkonfirmasi

positif Covid-19.

“Saya sudah komunikasi dengan Pak Anmama, namun ia belum bisa masuk kantor, karena masih jalani karantina mandiri di rumah, sehingga data-data tersebut belum dapat disampaikan ke secretariat satgas,” jelas Hendrik.

Hendrik menambahkan, apa yang disampaikan inimerupakan jumlah secara keseluruhan, sementara secara rincinya tidak dapat disampaikan, sebab data tentang berapa jumlah pasien yang sembuh maupun pasien yang dirawat di RSUD ataupun yang menjalani karantina tidak ada.

“Saya hampir setiap kali rapat dimarahi oleh bupati terkait dengan laporan, namun berdasarkan SK bupati saya tugas sebagai Kepala Sekretariat Satgas dan ada bidang-bidang lain yang

membidangi sesuai tugas masingmasing.

Laporan akan saya sampaikan, apabila data dari bidang-bidang tersebut disampaikan kepada saya, kalau tidak ada, saya mau laporkan data apa,” cetusnya.

Ia berharap, setiap bidang dapat masukan data-data mereka ke sekretariat sehingga laporan maupun apa yang akan dipublikasikan ke media dapat disampaikan secara terperinci. (S-25)