AMBON, Siwalimanews – Setelah berjibaku di lapangan untuk mengikuti kontestasi politik yang berlangsung 14 Februari 2024 kemarin, Jumat (23/2), sejumlah anggota DPRD Kota Ambon mulai terlihat di Baileo Rakyat Belakang Soya.

Pantauan Siwalimanews, terlihat sejumlah anggota mulai berkantor diantaranya Ketua Komisi II Christianto Laturiuw, Zeth Pormes, Harry Putra Far Far, Patrick Moenandar dan Mourits Tamaela.

Tidak hanya mereka yang dipastikan lolos dalam kontestasi Pileg kemarin, beberapa anggota yang masih pada posisi tidak aman, seperti Ferderika Latupapua, Tan Indra Tanaya, Juliana Pattipeilohy dan Ketua Komisi I Jafry Taihuttu, Johan Van Capele juga terlihat berkantor.

Khusus komisi I, juga telah digelar rapat internal untuk membahas agenda-agenda komisi kedepannya sampai masa tugas DPRD periode 2019-2024 berakhir pada September 2024 nanti.

Bahkan untuk komisi I, telah diagendakan rapat bersama mitra terkait pada Selasa mendatang.

Baca Juga: Ini Penjelasan Diskominfo Soal Fungsi Command Center

Kita sudah agendakan untuk Selasa itu ada rapat bersama dengan Pemerintah Kota, untuk menindaklanjuti surat masuk,”ujar Jafri kepada Siwalimanews, di Baileo Rakyat, Belakang Soya, Jumat (23/2).

Rapat bersama mitra kata Jafri, salah satunya membahas persoalan penetapan Raja Negeri Soya. Pasalnya, pasca berakhirnya masa jabatan Raja Negeri Soya pada November 2203 lalu, proses penetapan raja yang baru mulai dilakukan.

Namun dalam perjalanan, terjadi polimik. Proses yang berjalan pada mata rumah parentah terkait pengusulan dan menetapkan Raja Negeri Soya, dianggap tidak sesuai.

Karena itu, salah satu warga Soya yang mengklaim dirinya sebagai bagian dari mata rumah bernama Reno Rehatta mengadukan itu ke DPRD Kota Ambon.

“Jadi kita akan undang Pemerintah Kota Ambon dalam hal ini Asisten I, Kepala Tata Pemerintahan, Kabag Hukum, Camat Sirimau, Pejabat Negeri Soya, dan Tim Pendampingan Percepatan untuk rapat berkaitan dengan proses tahapan pencalonan Raja definitif Negeri Soya,” tandas Jafri

Ditegaskan, dalam rapat itu akan dirumuskan kebijakan bersama agar persoalan Raja Soya segera selesai. Pihaknya bahkan berharap, Maret mendatang, Soya sudah memiliki Raja definitif.

“Rapat sebelumnya batal dan kami minta agar mata rumah dapat berproses untuk mengusulkan siapa yang dicalonkan sebagai raja. Kalau itu sudah selesai, kemudian diverifikasi tingkat saniri negeri, selanjutnya ke kecamatan dan walikota. Saya kira tidak butuh waktu lama lagi Soya sudah bisa punya Raja definitif,” ujar Jafri.

Menurutnya, sebagai roll mode, Soya harus menjaga kultur keambonannya melalui proses adat seperti ini. Ditanya soal posisi Reno Rehatta, Taihuttu menjelaskan, bahwa yang bersangkutan mengklaim bahwa rapat mata rumah saat itu tidak representative, lantaran salah satunya tidak melibatkan yang bersangkutan.

“Kita akan lihat soal itu. Artinya kalau memang harusnya dia diikutsertakan, ya mestinya dilibatkan saja. Nanti kita lihat bersama. Kita berharap jangan hanya gara-gara perbedaan pak Reno dengan mata rumah parenta lain, termasuk dari beberapa anggota seniri sehingga membuat proses pemilihan raja ini terkatung-katung,” ucap Jafri.(S-25)