AMBON, Siwalimanews – Akibat cuaca buruk yang melanda perairan Maluku, sejumlah armada laut milik PT Pelni menunda keberangkatannya dan memilih berlabuh di pelabuhan terakhir kapal-kapal tersebut berlabuh.

Penundaan keberangkatan ini, sesuai dengan edaran Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Ambon terkait ijin pelayaran kapal yang memberikan warning cuaca akibat gelombang tinggi yang terjadi di perairan laut Maluku yang diteruskan oleh PT Pelni Cabang Ambon ke seluruh armada lautnya.

Kepala Operasional PT Pelni Cabang Ambon M Assegaff kepada wartawan di Ambon, Sabtu (27/5) mengaku, berdasarkan edara peringatan dini cuaca gelombang tinggi, maka sejumlah kapal milik Pelni menunda keberangkatan dan memilih berlindung di pelabuhan terakhir mereka berlabuh.

“Jadi ada beberapa kapal termasuk KM Pangrango yang berlindung di Saumlaki, dan ada beberapa kapal lain seperti Sabuk Nusantara 71 yang seharusnya berangkat pada Jumat (26/5) kemarin, ditunda satu hari, kalau cuacanya sedikit reda. Sementara di Ambon, selain itu di Banda ada Sabuk Nusantara 106 dan 103 juga berlindung disana. Dan ini 106 ini penundaan keberangkatan Sanus 106 di Amahai dan dia sekarang  berlindung di Amahai sejak kemarin.

Assegaff juga mengaku, hingga sata ini suasana arus balik Lebaran masih terpantau ramai, sebab hingga kini masih banyak penumpang yang dilayani, sehingga pihaknya membuat perpanjangan dispensasi hingga dua hari kedepan.

Baca Juga: Bunuh Teman Sendiri, Birahy Divonis 9 Tahun Penjara

“Kemarin KM Doloronda ke Ternate penumpangnya sekitar 1.600-an, dan itu sudah normal. Jadi kalau bawa 2.000, berarti normal. Demikian juga KM Tidar,”ujarnya.

Ia juga menghimbau kepada calon penumpang yang hendak membeli tiket, agar membelinya di agen-agen resmi, guna menghindari aksi penipuan yang belakangan terjadi, dimana tiket yang dibeli terdapat sejumlah tiket yang justru tidak terbaca saat discan.

“Jadi sebisanya jangan beli tiket online  beli saja di agen-agen resmi yang sudah ditunjuk sama Pelni, agar muda dimonitor. Karena kemarin ada kasus penipuan, dan itu rupanya mereka transaksinya lewat aplikasi WA atau Facebook,” jelasnya.(S-25)