NAMROLE, Siwalimanews – Warga Desa Leku protes terhadap sikap tim gugus Covid-19 Buru yang menyatakan salah satu warga desa ini berinisial JW positif Covid-19 versi rapid test.

Nasir Huat, salah satu pemuda didampingi Kepala desa Leku, Abubakar Letetuni dan sejumlah warga kepada wartawan di Namrole, mengaku kecewa dengan keputusan yang disampaikan Ketua Gugus Tugas dalam hal ini Bupati Bursel, Tagop Sudarsono Soulisa, terkait hasil rapid test dari JW.

Menurut mereka, ada sejumlah ke­janggalan yang ditemukan, sebab JW yang merupakan warga Desa Le­ku ini sudah mengalami sakit se­be­lum adanya wabah corona muncul.

“Kami menyesalkan hal ini, kami ingin sampaikan bahwa ibu JW jni sudah alami sakit sebelum wabah corona ini, beliau itu ke Wamsisi hanya menemui anaknya dan beliau sakit disana, makanya dibawa ke Puskesmas dan selanjutnya ke RSUD Namrole,” jelas Huat.

Menurutnya, bagaimana mungkin JW bisa tertular sementara beliau bukan pelaku perjalanan maupun pernah bersentuhan dengan pasien yang sudah terkonfirmasi positif.

Baca Juga: Pasein Kasus 23 Minta Maaf ke Masyarakat Buru

“JW ini adalah petani, setiap hari beliau hanya di rumah lalu ke kebun, aktivitasnya setiap hari seperti itu. Jadi kalau terpapar corona ini bagai­mana,” ucapnya.

Disamping itu, Nasir juga kesal dengan pernyataan salah satu dok­ter RSUD Namrole yang tanpa mela­lui pemeriksaan sesuai dengan meka­nisme kesehatan telah terburu-buru menjatuhkan vonis.

“Sangat disayangkan, waktu ke­luarga dan warga Desa Leku meng­antarkan JW ke RSUD, ketika baru tiba beberapa menit ada salah satu dokter yang datang ke keluarga dan mengatakan bahwa pasien positif corona. Padahal belum ada pemerik­saan apa-apa. Ini yang buat warga panik ditambah lagi keesokan hari­nya ada pernyataan bupati selaku ketua gugus bahwa JW positif ber­dasarkan rapid test,” paparnya.

Warga lainnya Abdulatif Khan menegaskan, seharusnya selaku ketua gugus lebih berhati-hati dalam menyampikan informasi sebab de­ngan kondisi ini, warga Desa Leku sudah dikucilkan oleh warga Bursel umumnya.

“Kami telah investigasi ke Pus­kesmas Waesama bersama kades dan dari keterangan salah satu bi­dan di puskesmas tersebut bahwa saudara kami JW hanya sakit mual-mual, HB rendah dan sedikit pusing, tapi kenapa saat di RSUD gejala kli­nisnya sudah berbeda. Apa ini sengaja digiring agar yang ber­sang­kutan ditetapkan sebagai pasien dengan positif Corona?,” cetusnya.

Untuk itu ia minta agar tim gugus lebih jelih dalam memberikan infor­masi, sebab banyak kejanggalan yang terjadi.

“Kami minta pak bupati selaku ketua tim untuk mengevaluasi tim­nya, sebab dengan pernyataan dok­ter kepada pihak keluarga dan disak­sikan oleh warga desa setelah sau­dara kami masuk RSUD telah mem­buat masyarakat panik, bahkan yang mengantar pasien ini harus mandi air laut pukul 04.00 WIT. Karena me­reka panik sampai gemetaran,” bebernya.

Ia juga menyesalkan, pasca dite­tapkan JW reaktif Corona hasil rapid test, tidak ada sama sekali kepedu­lian dari pemda melalui gugus tugas untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat di Desa Leku sehingga semakin mengucilkan masyarakat setempat.

“Seharusnya ada sosialisasi yang disampaikan kepada warga setelah pak bupati menyatakan warga kami positif versi rapid test. Misalnya ada himbauan untuk kami supaya tidak panik, atau rajin cuci tangan maupun hal-hal yang lain, tapi sampai saat ini tidak ada,” ucapnya kesal.

Ditegaskan, pernyataan dokter kepada keluarga dan masyarakat ha­rus dipertanggung jawabkan, sebab setelah mendengar apa yang disam­paikan dokter telah menimbulkan keresahan di tengah-tengah masya­rakat.

Sementra itu, Ketua Pemuda Desa Leku, Sariman Solissa turut membe­narkan apa yang disampaikan dokter itu, bahkan dia berani bersaksi bah­wa dokter telah menyatakan JW positif corona setelah beberapa menit JW tiba di RSUD.

“Jadi waktu kami antar pasien itu, beberapa menit kemudian ada salah satu oknum dokter datang dan tanya suami dan keluarga yang pasien yang mana, saat itu suami JW ini berdiri bersama saya juga berdiri dan dokter itu sampaikan bahwa pasien positif Corona, dari pernyataan itu langsung kami semua panik, sampai suaminya hanya pasrah,” ucapnya.

Solissa mengatakan, seharusnya dokter tidak serta merta menyatakan hal itu, tetapi harus melalui tahapan-tahapan kesehatan yang ada.

“Pernyataan itu yang buat kami panik dan berimbas sampai saat ini ba­nyak warga yang tak ingin ber­temu dengan kami, padahal tidak ada masalah apa-apa, kami ingin masa­lah ini harus segera diklarifikasi,” pungkasnya. (S-35)