AMBON, Siwalimanews – Kerusakan talud SMPN 1 Ambon akibat bencana longsor yang melanda Kota Ambon pada 2012 sampai saat ini tidak diperhatikan pemerintah. Akibatnya nyawa manusia terancam saat musim penghujan tiba.

Disaat musim penghujan, aktivitas sekolah dihentikan lantaran keberadaan talud yang mengancam pihak sekolah. Beruntung kondisi pandemik corona menyebabkan sekolah diliburkan, sehingga ketakutan yang selama ini menghantui pihak sekolah bisa diatasi.

Pihak sekolah menyayangkan pemerintah daerah yang terkesan tutup mata. Padahal pasca bencana longsor sampai sekarang sudah delapan tahun tidak ada perhatian.

“Delapan tahun sudah sejak terjadinya bencana lonsor yang melanda beberapa kawasan di Kota Ambon pada tahun 2012 kemarin termasuk talud milik SMPN 1 Ambon, namun sampai saat ini tak ada perhatikan pemerintah untuk memperbaiki talud tersebut,” kata. Wakil Kepala SMPN I Ambon Maurits Wermasubun kepada wartawan  Rabu (4/11).

Wermasubun mengatakan, belum dibangunnya talud yang longsor sejak tahun 2012 ini sangat mengganggu kenyama­nan mereka saat melakukan aktivitas di sekolah. Pihak seko­-lah berharap, Pemkot Ambon dan Pemprov Maluku serius melihat kondisi talud tersebut.

Baca Juga: BMKG Minta Warga Waspadai Angin Kencang

Kendati demikian, Wermasubun mengaku talud itu masih dalam perbaikan, itupun belum selesai juga, sehinhga  pihak sekolah berharap ada keseriusan dari pemerintah. Keberadaan talud itu masih ditutup dengan terpal bantuan pihak kelurahan dan PMI.

Kepala SMPN 1 Ambon Getruida Patty menambahkan, untuk perbaikan talud ini, pihaknya telah mengkordinasikan dengan Dinas PU dan berdasarkan penjelasan mereka, anggaran untuk perbaikan talud ini telah dianggarkan di tahun 2021.

Ia menyesali sikap pemerintah yang baru menganggarkan pembangunan talud itu ditahun 2021. Seharusnya pendidikan itu menjadi prioritas, namun demikian pemerintah tutup mata.

“Kita hanya bisa tunggu realisasi pemerintah. Semoga saja apa yang disampaikan pihak PU ini bisa menjadi perhatian serius dan talud itu bisa diperbaiki sesuai rencana,” ujarnya.

Menurutnya, saat musim penghujan tahun ini, para siswa sementara diliburkan akibat pandemi, sehingga, kerusakan talud itu tidak begitu mengancam para siswa.

Ditanya soal anggaran perbaikan talud Patty mengaku, informasinya untuk pekerjaan talud bagian belakang dianggarkan sebesar Rp 1 miliar lebih. Namun dengan adanya covid-19, sejumlah anggaran pada dinas direfocusing sehingga anggarannya tinggal Rp 500 juta.

“bagi kami anggaran sebesar Rp 500 juta ini tidak cukup, karena kerusakannya cukup parah. Semoga perbaikan talud ini bisa dapat dikerjakan secepatnya,” harap Patty. (Cr-5)