AMBON, Siwalimanews – Ketua Majelis Pekerja Klasis Kota Ambon, Pendeta Nick Rutumalessy mengatakan, tema dalam setiap persidangan jemaat kali ini adalah “Allah Kehidupan Tuntunlah Kami Membela dan Merawat kehidupan”.

Tema ini kata Rutumalessy, merupakan tema terakhir di tahun ini, sebab masih saja jemaat diperhadapkan tantangan yang berkaitan berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia, sebab  terkadang hal ini belum dilaksanakan secara maksimal .

“Disisi lain, masih terdapat problem khusus lainnya terkait dengan kemajuan dan perkembangan ilmu dan teknologi (IT),” ujar Rutumalessy dalam arahannya saat membuka persidangan Jemaat GPM Eirene XXVI, yang dipusatkan di lantai II gedung gereja tersebut, Minggu (1/3).

Untuk itu, Rutumalessy minta agar persidangan Jemaat GPM Eirene dapat merumuskan program-program riil untuk menjawab problem-problem yang terjadi dalam kehidupan jemaat.

Selain itu, rencana strategis (Renstra) merupakan yang terakhir, sehingga akan dievaluasi pencapaian setelah 4 tahun dikerjakan apakah sesuai dengan visi dan misi atau tidak.

“Basis data ketika dianalisia dalam renstra tahap kedua kurang valid. Dimana hampir semua jemaat memiliki problem data yang serius, sehingga hal ini butuh perumusan dengan sumber data yang tepat,” ucapnya.

Berikutnya, kata Rutumalessy perlu juga ada penguatan kapasitas bagi seluruh perangkat palayanan agar mampu menterjemahkan tugas-tugas pelayanan dengan maksimal. Selain itu, perlu juga menjadikan sidang jemaat ini untuk merefleksikan apa yang terbaik bagi pelayanan pekerjaan Tuhan.

Sementara itu, Ketua Majelis Jemaat GPM Eirene, Pendeta A Samallo menambahkan, jemaat ini butuh sosialisasi tentang bencana alam, bagaimana mengedukasi diri soal bencana dan bagaimana menyelamatkan diri dari bencana.

“Perlu kalesang lingkungan dengan membangun kesadaran dalam membuang sampah pada tempatnya, sekaligus meningkatkan budaya menjaga keamanan dan ketertiban umum,” ujarnya.

Camat Sirimau Meggy Lekatompessy dalam sambutannya, minta masyarakat menjaga kondisi lingkungan dengan tidak membakar lahan dan meninggalkannya, karena dalam Januari tercatat 31 lahan dan hutan yang terbakar.

“Saya menghimbau masyatakat untuk bersama-sama pemkot terlibat dalam kegiatan “Sabtu Bersih”. Karena program ini sudah dicanangkan namun keterlibatan masyarakat masih minim,” tuturnya.

Pada kesempatan itu, Lekatompessy mengajak masyarakat untuk turut mendukung dan berpartisipasi dalam sensus penduduk, karena perlu satu data kependudukan secara nasional.

Untuk diketahui, persidangan jemaat itu, diikuti oleh 84 peserta yang terdiri dari unsur majelis jemaat, unsur pengurus unit dan unsur badan pembantu. Persidangan itu diawali dengan ibadah Minggu yang dipimpin oleh Pendeta A M Batlajeri dengan pembacaan Firman Tuhan terambil dari Kitab Perjan­jian Baru 1 Timotius 6:11-21.

Batlajeri dalam khotbahnya menekankan pada hidup tahan uji. Dimana, manusia harus perlu ada spiritualitas tahan uji dengan tetap setia, rajin beribadah, sabar, hidup dalam kelemah lembutan dan kerendahan hati. (S-19)