AMBON, Siwalimanews – Maluku termasuk salah satu daerah di kawasan Timur Indonesia yang rawan tsunami termasuk tsunami akibat gunung api. Menindaklanjuti itu, BPBD Maluku meminta kepada masyarakat untuk selalu waspada apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

“Jadi peringatan dini sudah kita sam­paikan ke BPBD kabupaten/kota untuk me­lakukan sosialisasi kepada masyara­kat terkait dengan peringatan dini BMKG,” ujar Kepala BPBD Maluku Henri Far-Far ketika dikonfirmasi Siwalima, Minggu (11/10).

Dijelaskan menindaklanjuti arahan BMKG pihaknya sudah memberikan warning kepada BPBD kabupaten kota untuk melakukan sosialisasi kepada masya­rakat. “Masyarakat tetap kita minta waspada terkait dengan ancaman tersebut baik itu tsunami, gempa bumi, banjir maupun longsor,” ujar Far-Far.

Menurutnya, bahaya memang tidak di­inginkan oleh semua orang, tetapi dengan peringatan yang diberikan, masyarakat diminta harus selalu waspada. “Memang kita di Maluku berada pada zona yang rawan bencana, jadi waspada itu penting dan se­lalu mawas diri. Percayakan dan mende­ngarkan arahan dari pemerintah agar ketika itu terjadi masyarakat sudah tahu caranya menyelamatkan diri,” tan­dasnya singkat.

Peringatan BMKG

Baca Juga: 321 Peserta CPNS Ikuti Tes SKB

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Kar­nawati mengingatkan potensi tsunami akibat gunung api terutama di sebagian wilayah Timur Indonesia.

Dwikorita mengatakan dari fakta dan data menunjukkan tsunami itu tidak hanya dipicu oleh gempa bumi. Namun, tsunami juga diakibatkan oleh gunung api.

“Meskipun kurang lebih 90% dipicu oleh gempa bumi. Tetapi trennya sejak 2018 mulai terjadi kejadian tsunami yang diakibatkan oleh gunung api,” ungkapnya dalam Rakornas Antisipasi Bencana Hidrometeorologi dan Gempa Bumi-Tsunami secara virtual, Rabu (7/10).

Dwikorita mengatakan dari data zona-zona yang rawan tsunami akibat gunung api terjadi di sebagian besar Indonesia Timur. “Mulai dari Nusa Tenggara, Sula­wesi, Maluku Utara, Maluku ya sampai di dekat Papua Barat. Salah satu yang apa yang khusus ada di Selat Sunda. Jadi itu po­tensi tsunami di Indonesia Timur,” paparnya.

Sehingga, kata Dwikorita fenomena La Nina yang saat ini sedang terjadi datangnya dari arah Timur Indonesia yang akan berdampak terjadinya hujan lebat setelah bulan November terutama di Indonesia Tengah, Utara, dan Timur. Bahkan, dikombinasikan terjadinya potensi tsunami akibat gunung api dan juga gempa bumi. “Mungkin saja ada potensi, yang jelas itu potensi La Nina jelas, kemudian yaitu potensi hujan lebat dikombinasikan po­tensi tsunami gunung api dan juga potensi gempa bumi,” katanya.

Selain potensi tsunami gunung api, Dwikorita juga mengatakan ada juga tsunami yang non tektonik yang penyebabnya tidak diketahui. “Tapi faktanya itu terjadi. Ini juga yang rawan termasuk di Kali­mantan Timur kemudian Nusa Tenggara dan Indonesia Timur,” jelasnya.

Dari data dan fakta tersebut, Dwikorita me­minta semua pihak harus siap meng­ha­dapi bencana yang ada di depan mata. “Ini poinnya kita harus bersiap bersama. Ti­dak mungkin hanya satu lembaga yang me­nghadapi. Oleh karena itu tujuan kita adalah untuk melakukan persiapan-per­siapan agar jangan sampai mengalami kor­ban jiwa. Mencegah tidak mungkin, tetapi jangan ada korban jiwa,” tegasnya. (S-39)