MASOHI, Siwalimanews – Ketua Forum Pembauran Kebangsaan Kabupaten Maluku Tengah Juslan Idris, berkesempatan menjadi narasumber dalam kegiatan diskusi publik yang di gelar Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT)  dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme di kota Masohi.

Diskusi yang dilaksanakan di salah satu kafe di Kota Masohi, Rabu,(14/6) itu diikuti seluruh tokoh masyarakat dan tokoh agama di wilayah Kota Masohi.

Dalam diskusi publik yang diberi nama “Kenduri” atau kenali dan peduli lingkungan sendiri dengan melibatkan masyarakat untuk melakukan pencegahan radikalisme dan terorisme bersama FKPT Maluku itu, Juslan membangun semangat kebangsaan seluruh peserta diskusi.

Dalam meterinya tentang bela negara serta pengaruh era digital yang mengncam kehidupan berbangsa dan bernegara, Juslan menguatkan pemahaman bela negara serta menjelaskan secara lugas prespektif atau pandangan radikalisme yang akhirnya bermuara pada paham terorisme

“Wawasan kebangsaan adalah konsep politik bangsa Indonesia yang memandang Indonesia sebagai satu kesatuan wilayah, meliputi tanah (darat), air (laut) termasuk dasar laut dan tanah di bawahnya dan udara di atasnya secara tidak terpisahkan, yang menyatukan bangsa dan negara secara utuh menyeluruh mencakup segenap bidang kehidupan nasional yang meliputi aspek politik, ekonomi, sosial budaya, dan hankam,” ujar Juslan.

Baca Juga: Fraksi Golkar Soroti Penghargaan yang Disandang Murad

Dijelaskan, wawasan kebangsaan dalam kerangka NKRI, adalah cara kita sebagai bangsa Indonesia di dalam memandang diri dan lingkungannya dalam mencapai tujuan nasional yang mencakup perwujudan kepulauan nusantara sebagai kesatuan politik, sosial budaya, ekonomi dan pertahanan keamanan, dengan berpedoman pada falsafah Pancasila dan UUD 1945 atau dengan kata lain bagaimana, memahami wawasan nusantara sebagai satu kesatuan Poleksosbud dan hankam.

Tujuan mewujudkan nasionalisme yang tinggi dari segala aspek kehidupan rakyat indonesia yang mengutamakan kepentingan nasional dari pada kepentingan perorangan, kelompok, golongan, suku bangsa atau daerah. Kepentingan tersebut tetap dihargai agar tidak bertentangan dari kepentingan nasional.

Pengaruh media sosial sat ini telah menjadi tantangan kehidupan berbangsa dan bernegara yang secara tidak langsung telah mengikis rasa sikap dan wawasan kebangsaan warga negara. Seperti sikap intoleran dan  lain sebagainya.

“Kemajuan zaman di era digital saat ini telah menjadi tantangan serius dalam membangun keberagaman. contohnya sikap intoleransi. Sikap ini menculnya  penyebaran permusuhan dalam bentuk info hoax dan meme yang dapat memicu konflik. Radikalisme pro kekerasan munculnya penyebaran paham radikal melalui propaganda kelompok teroris. Sementara cyber crime menculnya, pornografi, judi online serta lain sebagainya,” tandas Juslan.

Media sosial kata Juslan, memiliki kerawanan yang lebih besar dibandingkan dengan media konvensional/media mainstrime, karena siapa saja bisa menjadi pemilik media, jurnalis, penulis yang dapat menshare apa saja yang diinginkan. Karena Dia menghimbau masyarakat agar  waspada dan berhati-hati dalam mendownload, menshare berita yang tidak bisa dipastikan tingkat kebenarannya.

Jusaln yang juga Wakil ketua Bidang Kerjasama Persatuan Wartawan Indonesia Provinsi Maluku ini mengaku, kearifan lokal budaya Maluku seperti pela gandong, makan patita serta lain sebagainya harus terus diperkuat untuk menangkal isu serta faham radikalisme yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

” Dunia sebenarnya sudah mengetahui kekayaan sosial kultur budaya orang Maluku. Bahkan Ambon kini menjadi sampel masyarakat bagi Indonesia dan  dunia sebagai kota paling harmonis tahun 2019. Mereka datang untuk belajar kerukunan umat beragama di negeri ini. Pulihnya Maluku dari konflik horizontal berbau agama telah membuka mata dunia, mereka datang untuk melihat dan belajar dari kita. Harusnya kita  bangga karena  memiliki kearifan lokal yang mampu mempersatukan kita ditangah perbedaan dan ini bisa menjadi kekuatan dan senjata untuk memukul serta menghancurkan terorisme dan radikalisme di Indonesia terkhususnya di Maluku,” tandas Juslan.(S-17)