AMBON, Siwalimanews – John Titaley adalah korban kesekian dari anak-anak muda Maluku yang mati sia-sia diperantauan.

Mati karena harus meninggalkan kampung atau daerahnya yang masih miskin dan banyak peng­-ang­guran, padahal kaya akan sumber daya alam. Mati karena tak mampu bersaing akibat indeks pembangunan manusia yang rendah. Mati karena stigma orang Ambon (Maluku.red) adalah preman.

“Iya, tanpa maksud mengge­ne­ralisir, tapi sangat mungkin, John Titaley (37 tahun) sang penjual kopi keliling di Mall Tangerang City, yang meninggal 16 Maret 2020 adalah dampak dari keterting­galan Maluku selama ini. Ketertinggalan yang mendesaknya harus berjualan kopi dari gerobak butut di Tangerang hingga menemui ajal,” ungkap Pemerhati Kawasan Timur Indonesia, Ikhsan Tualeka, dalam releasenya, yang diterima Siwalima, Rabu (18/3).

Kata dia, Titaley meninggal dianiaya oleh oknum anggota TNI dan oknom anggota Pemuda Pancasila hingga tak berdaya. Video pemukulan terhadap Titaley pun beredar luas di media sosial. Sendirian tanpa perlawanan Titaley dipukul dan ditendang hingga tak berdaya. Orang-orang disekeliling pun nampak hanya menonton saja

Sebelum aksi pengeroyokan terhadap Titaley, kata dia, ada bentrok yang terjadi antara kelompok Ali yang diduga berasal dari Ambon dengan oknum anggota TNI di salah satu kafe di Tangerang. Beberapa jam kemudian oknum anggota TNI dan oknum Pemuda Pancasila itu kembali dengan beberapa rekan ke Mall Tangerang City hendak mencari kelompok Ali.

Baca Juga: Polisi Ringkus Pelaku Curanmor Antar Wilayah

Namun orang-orang yang dicari rupanya tidak ada yang kelihatan. Akhirnya John Titaley sang penjual kopi yang ada di lokasi dan tidak tau apa-apa, menjadi sasaran penganiayaan sebagai bentuk luapan emosi para pelaku, hanya karena Titaley berkulit hitam atau gelap. Ini tentu insiden yang kesekian, terlalu panjang daftarnya, hingga orang tak begitu peduli lagi bila ada kejadian begini.

“Peristiwa ini juga mengingatkan beta pada pengalaman sekira tujuh tahun lalu. Waktu itu di sela-sela mengikuti pelatihan peneliti tata kelola pemerintahan, salah satu peneliti asal Nusa Tenggara Timur ditahan oleh security juga di salah satu mall di Tangerang dengan tuduhan pencurian. Ternyata tidak terbukti, usut punya usut rupanya dia ditahan karena diduga mirip dengan pelaku orang ‘timur’ yang lolos. Lagi-lagi karena kulit gelap,” katanya.

Kata dia, memang orang ‘timur’ selain realitasnya masih tertinggal dalam berbagai hal, citra-nya pun turut diperburuk oleh tayangan film atau sinetron.

“Bila ada pemeran penjahat, pengawal, penagih hutang dan peran antagonis lainnya hampir selalu terlihat sebagai orang ‘timur’, tak salah kemudian orang ‘timur’ jadi identik dengan cita yang kurang positif,” ujarnya.

Kembali ke kasus yang menimpa Titaley, lanjut dia, sebelum dianiaya Titaley sempat ditanya oleh para pelaku bahwa apakah dia adalah anak buah Ali ? Titaley membantah, dan katakan bukan bagian dari kelompok manapun, akan tetapi mereka yang sudah dirasuki emosi dan dalam jumlah lebih banyak, langsung mengeroyok hingga Titaley tak berdaya alias tak sadarkan diri ditempat.

Kemudian di Polres Metro Tangerang, kata dia, kuasa hukum dari keluarga korban berkoordinasi dengan penyidik, sehingga perkara yang terkait dengan anggota TNI segera dapat dilimpahkan ke Den­-pom Jaya I Tangerang untuk diproses sesuai dengan kewena­ngan institusi TNI. Sementara pelaku yang dari masyarakat sipil ditangani oleh kepolisian.

“Kita tentu berharap kasus ini dapat ditangani dengan serius hingga tuntas. Semua yang terlibat harus diberikan hukuman yang setimpal. Jangan lagi ada yang main hakim sendiri, kekerasan tak harus selalu dibalas dengan kekerasan. Namun ini juga jadi pelajaran bagi kita semua untuk ke depan tidak lagi menyelesaikan masalah di hilir, tapi mulai membenahi problem dari hulu,” cetusnya.

Menurut Tualeka, saatnya sumber daya manusia  dan lapangan pekerjaan untuk orang Maluku lebih diperhatikan, sehingga tak ada lagi orang Maluku yang jadi korban karena stigma, akibat pilihan pekerjaan yang keras dan menyerempet bahaya, hingga yang tak bersalah pun jadi korban sia-sia, hanya karena berkulit gelap dan berperawakan timur. (S-16)