BANDUNG – Hidup sehat saat ini sudah seperti menjadi gaya hidup bagi masyarakat perkotaan.

 

Namun, akibat kurangnya pengetahuan, tidak sedikit masyarakat justru menjalani pola hidup yang membahayakan tubuh, misalnya mengonsumsi makanan yang intoleran terhadap tubuh.

Dokter Spesialis Gizi Klinik, A Firmansah Wargahadibrata mengatakan, ada tiga jenis makanan yang menyebabkan intoleransi terhadap tubuh. Beberapa di antara makanan yang intoleransi terhadap tubuh adalah jenis gluten (seperti terigu), susu sapi dan olahannya, serta kafein dari kopi, teh, vitamin stamina, obat sliming dan lainnya.

“Tiga jenis makanan yang paling intoleran terhadap tubuh, justru ini paling sering dimakan tubuh kita. Sumber makanan ini menjadi penyebab gangguan pencernaan seperti maag, gerd, dan lainnya,” kata Firmansah saat ditemui di Bandung Skin Centre, Jalan Ir Juanda, Kota Bandung, Selasa (25/2).

Bukan hanya menyebabkan masalah pencernaan, mengonsumsi ketiga jenis makanan itu secara berlebihan juga mengakibatkan bertambahnya kadar toksin atau racun di dalam tubuh. Racun tersebut akan mengendap di dalam tubuh. Ketiga jenis makanan itu juga tercatat bakal menguras anti oksidan di dalam tubuh, karena sifat racunnya.

Hasil riset kesehatan terhadap DNA masyarakat di Indonesia dan kawasan Asia menunjukkan mayoritas risiko terhadap ketiga makanan itu. Jenis gluten, tercatat memengaruhi kondisi kesehatan mayarakat Indonesia dan Asia sebesar 8% kategori risiko tinggi, 37% risiko sedang, dan 55% berisiko rendah.

Sedangkan makanan dari jenis susu sapi dan turunannya, akan berisiko terhadap 9 dari 10 orang mayarakat Indonesia. Sementara untuk makanan yang mengandung kafein, 1 dari 2 orang tercatat intoleran. “Untuk beberapa orang yang melakukan diet atau program kesehatan tubuh lainnya, perhatikan jenis makanan yang intoleran terhadap tubuh. Kalau di klinik kami, sebelum lakukan program ada tes DNA, cek intoleransi makanan terhadap tubuh pasien, dan lainnya,” bebernya.

Lebih lanjut, Firmansah memaparkan, banyak masyarakat yang menghubungkan kematian mendadak akibat jantung disebabkan kolesterol. Sehingga, banyak mayarakat yang menghindari makanan berlemak dan mengonsumsi makanan tanpa digoreng.

“Tetapi setelah dicek, ternyata kolesterolnya tetap tinggi. Artinya, belum tentu kolesterol ini disebabkan oleh makanan. Jadi ada pemicu lain. Atau menandakan bahwa badan kita sedang mengalami kerusakan. Kolestrol sedang masuk pembuluh darah, jadi sel rusak,” ungkapnya.

Firmansah pun menyebut, tidak baik bila masyarakat ingin menghidari kolesterol dan menghilangkan berbagai makanan yang berminyak. Padahal, tubuh kita tetap membutuhkan lemak sebesar 20 sampai 30 persen dari total energi per hari.

“Sementara kalau kurangi minyak akan kurang juga vitamin A, D dan lainnya. Akibatnya tidak ada detoksifikasi di hati kita. Kalau ini terjadi terus, orang akan makin tidak sehat. Bahkan menyebabkan kerusakan organ tubuh. Tergantung orang paling lemah di mana. Kalau di jantung, akan menghadapi risiko akibat jantung,” tutupnya. (web)