AMBON, Siwalimanews – Dalam rangka menjamin keamanan pangan buka puasa selama bulan suci Ramadhan 1443 H/2022, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Ambon intensifikasi pengawasan takjil bersama Dinas Kesehatan Kota Ambon, Selasa (5/4).

Pemeriksaan tersebut dilakukan di dua lokasi yakni depan Masjid Raya Al-Fatah dan kawasan kuliner di Batu Merah Ambon.

Pantauan Siwalima sejak pukul 15.30 saat dilakukan pemeriksaan oleh Balai POM diambil beberapa takjil mulai dari aneka macam kue basah, gorengan,maupun juga berbagai jenis es yang dijual oleh penjual.

Ibu Leha, penjual es kacang merah mengatakan, aneka minuman yang dijual dibuat menggunakan bahan baku yang aman.

“Saya sudah berjualan dari 2004 selama puasa dan bahan baku yang saya jual menggunakan bahan yang aman, tidak menggunakan bahan berbahaya untuk konsumen saya,” ucapnya saat diwawancarai wartawan.

Baca Juga: Kenaikan Tarif Angkutan Udara Dorong Naiknya Inflasi di Maluku

Leha mengaku, sirup yang dibuat masak sendiri tanpa menggunakan pemanis. “Sirupnya juga tidak pakai sari manis dan dijamin halal,”ucapnya.

Penjual lainnya, Wahyudi juga mengungkapkan bubur ketan pulut hitam yang dijual aman untuk di konsumsi.

“Insya Allah aman bahan-bahan yang digunakan,” tegasnya

Kepala Balai POM Ambon, Hermanto di sela-sela pengawasan takjil mengungkapkan sampel takjil yang diambil di depan Masjid Raya Al-fatah sekitar 18 yang diuji di paramater kimia dan di Batu Merah sekitar 15. Jadi totalnya 33 sampel yang diuji untuk kimia dan ada 10 sampel yang diuji di laboratorium mikrobiologi.

Dikatakan, pengujian dilakukan untuk memastikan ada tidaknya pencemaran bakteri pada takjil yang dijual. “Kita melakukan pengujian guna untuk memastikan ada tidaknya pencemaran dari bakteri pada takjil-takjil yang dijual,”ucapnya.

Hermanto menjelaskan, hasilnya untuk di laboratorium memerlukan waktu satu minggu. Menurutnya, kalau ada temuan yang berkaitan dengan penjualan makanan takjil, maka akan ditindaklanjuti.

“Kalau ada temuan nantinya kita akan tindak lanjut, sebab semua penjual sudah kami data dan kami akan tindak lanjut sehingga mereka tidak menggunakan bahan berbahaya dalam menjual takjil,” tegasnya.

Kata Hermanto, pihaknya telah turun langsung sudah memberikan sosialisasi kepada mereka untuk menjual makanan ditutup dengan plastik, menggunakan celemek, masker, sarung tangan termasuk menggunakan penjepit makan.

“Memang tidak kelihatan tapi mikroba jelas masih ada,” jelasnya

Dia berpesan kepada penjual takjil untuk menjadi penjual yang baik mendapatkan keuntungan ekonomi namun konsumen juga dilindungi .

“Konsumen juga harus cerdas, kalau dilihat makanan tidak bersih yang tidak usah beli, cetusnya. (S-21)