AMBON, Siwalimanews – Anggota DPRD Kabupaten Seram Bagian Barat Abu Silawane mengecam keras tindakan Gugus Tugas Provinsi Maluku dan pihak RSUD dr M Haulussy Ambon yang tidak menerapkan protap terhadap pasien kasus 35 yang mininggal dunia terkokonfirmasi positif Covid 19.

Kecaman ini dilontarkan dia Silawane, dikarenakan almarhum DAS yang merupakan warga Desa Waimital tersebut dimakamkan tanpa mengunakan protap Covid-19, padahal seharusnya pasien ini sudah berstatus (ODP) disaat pihak RSUD telah mengambil swabnya sebelum ia meninggal pada Kamis (7/5).

Ia menilai Gustu Maluku dan pihak RSUD Haulussy dalam penanganan Covid-19 sangatlah buruk sebab tidak mengunakan standard pemakaman Covid-19 seperti yang dianjurkan WHO.

“Saya kecam keras terhadap Gustu dan pihak RSUD Haulussy, akibat kelalaian itu sehingga membuat kepanikan masyarakat di Bumi Saka Mese Nusa semakin merajalela, bahkan kelaurga korban, sahabat dan warga lainnya yang turut hadir pada saat pemakaman,” tegas Silawane kepada Siwalimanews melalui telepon selulernya, Selasa (12/5).

Atas apa yang menjadi kesalahan besar dengan kelalaIan yang dilakukan oleh Gustu Maluku dan pihak RSUD M Haulussy Ambon dalam pencegahan dan penanganan Covid-19 sangat merugikan dan membahyakan keselamatan orang banyak.

Baca Juga: Maluku Tembah 14 Kasus Positif Covid-19

Oleh sebab Politisi Gerindra ini minta, kepada Gubernur Maluku Murad Ismail untuk segera melakukan evaluasi kepada Gustu dan pihak RSUD Haulusi karena bekerja di luar koridor. Sebab kelalaian mereja berakibat fatal.

Selain anggota DPRD salahs atu tokoh masyarakat Frans Purimahua mengungkapkan, selaku masyarakat di  Bumi Saka Mese Nusa dirinya kecewa dengan tidak profesionalnya Gustu Maluku dan RSUD dr M Haulussy Ambon yang bekerja teledor sehingga pasien kasus 35 asal SBB ini dimakamkan tanpa mengikuti protap Covid-19.

“Dengan keteledoran mereka dalam penanganan almarhum DAS tersebut, jangan menganggapnya hal sepeleh. Sebab dengan terkokonfirmasi positif Covid-19 almarhum, bisa mengancam keselamatan banyak orang di SBB,” tukasnya.

Kondisi riil yang ada saat ini masyarakat sangat resah dan dibuat bingung dengan kejadian yang ada, dan bisa seperti itu.

Untuk itu Purimahua yang juga Ketua DPC Golkar SBB ini minta, kepada masyarakat agar tak panik dan tak boleh membuli keluarga dengan stigma seakan ini penyakit karena sebuah aib. Ia berharap warga SBB terbuka jika ada kontak langsung dengan almarhum bahkan keluarganya, karena dengan keterbukaan itu jauh lebih baik agar ada langkah pencegahan secepatnya. (S-48)