Fatamorgana Masa Depan Cerah Timnas Inggris

Timnas Inggris bisa kembali dihadapkan pada khayalan kesuksesan setelah memiliki sejumlah pemain muda yang dianggap mengilap jelang Kualifikasi Piala Eropa 2020.

The Three Lions akan melawan Bulgaria di Stadion Wembley dalam laga pertama Kualifikasi Piala Eropa, Sabtu (7/9).

Jelang menghadapi Bulgaria, sejum­lah media Inggris ramai memberitakan pemain-pemain muda yang akan dipanggil pelatih Gareth Southgate.

Dalam situs resminya, Asosiasi Sepak Bola Inggris, FA, akan mengumumkan skuat untuk melawan Bulgaria pada Kamis (29/8) waktu setempat atau malam WIB.

Pemain-pemain seperti bek muda Liverpool Trent Alexander-Arnold dan Joe Gomez, bek Leicester City Ben Chilwell serta gelandang James Maddison, hingga gelandang Tottenham Hotspur Harry Winks dinilai layak masuk timnas Inggris, bahkan jadi starter menghadapi Bulgaria.

Jika pemain-pemain di atas masuk starter melawan Bulgaria, maka akan akan menggeser enam pemain (John Stones, Kyle Walker, Dele Alli, Jesse Lingard, Kieran Trippier, Ashley Young) yang menjadi starter di babak semifinal Piala Dunia 2018 saat melawan Kroasia.

Ada juga nama-nama lain yang dipre­diksi bisa membantu Inggris gemilang di Kualifikasi Piala Eropa 2020, seperti: Jadon Sancho, Ruben Loftus-Cheek, hingga Declan Rice.

Para pemain tersebut merupakan andalan di klub masing-masing sejak musim lalu, namun minim penga­laman di timnas Inggris. Kualifikasi Piala Eropa 2020 bisa menjadi loncatan bagi para pemain itu di level timnas.

Dengan digabung bersama Marcus Rashford, Raheem Sterling, Hary Kane, hingga Harry Ma­guire para pemain muda tersebut dipercaya bisa mengantar Ing­gris mencapai babak semifinal atau final Piala Eropa 2020, seperti dikutip dari Daily Mail.

Meski demikian, publik sepak bola Inggris tidak perlu bersuka cita berlebihan melihat ke­limpahan bakat-bakat muda di tim­nas Inggris.

Sejumlah fakta sudah menunjuk­kan, kendati Ing­gris memi­liki banyak pe­main muda de­ngan kua­litas mumpu­ni, nyatanya juara Piala Dunia 1966 itu masih sulit berprestasi.

Jauh sebelum era James Madddison dan Alexander-Arnold saat ini, timnas Inggris sudah dikaruniai pemain-pemain muda berkualitas. Sebut saja David Beckham, Michael Owen, Steven Gerrard, Jack Wilshere, Theo Walcott. Tetapi pemain-pemain ‘hebat’ itu tetap tidak bisa menuntun Inggris mengang­kat trofi di turnamen utama seperti Piala Dunia dan Piala Eropa.

Saat jadi tuan rumah Piala Eropa 1996, Inggris bermaterikan 22 dengan rata-rata usia 25,7 tahun. Beberapa pemain muda yang masuk skuat ter­sebut adalah Robbie Fowler, Garry Neville, dan Sol Campbell. Tetapi, ca­paian maksimal Inggris ketika itu hanya semifinalis usai kalah adu penalti 5-6 dari Jerman.

Rata-rata usia lebih muda (25,3 tahun) diturunkan Inggris di Piala Dunia 2006 saat ditangani Sven Goran Erik­sson. Saat itu eranya pemain-pemain semisal Theo Walcott, Aaron Lennon, dan Wayne Rooney. Di Jerman, timnas Inggris kembali jadi semifinalis setelah disingkirkan Portugal 1-3 lewat adu penalti.

Nasib timnas Inggris di dua turnamen utama, Piala Dunia dan Piala Eropa, tampaknya masih sebatas semifinalis, sekalipun media lokal memuji setinggi langit skuat muda mereka.

Timnas Inggris tampak menjanjikan di Piala Dunia 2018 di Rusia sejak fase grup. Didukung pelatih sekaliber South­gate, pemain-pemain seperti Rashford, Sterling, dan Kane tampil cukup impresif. Ketika itu Inggris sesekali bermain dengan umpan-umpan pendek dan ketangguhan memanfa­atkan bola-bola mati.

Tetapi, ketika menghadapi tim yang bermain agresif seperti Belgia dan Kroasia, Inggris mendadak kewalahan. Di laga terakhir babak grup Inggris kalah 0-1 dari Belgia, di semifinal Dele Alli dan kawan-kawan juga menyerah 1-2 dari Kroasia.

Timnas Inggris butuh skema dan taktik yang benar-benar ideal dengan kualitas pemain-pemain yang hanya mengandalkan kecepatan. Permai­nan bola-bola pendek Inggris tidak selihai timnas Spanyol atau tim-tim Amerika Selatan.

Taktik bermain timnas Inggris perlu mengandalkan kecepatan para pemainnya. Karena sampai dengan saat ini, para pemain Inggris memiliki keunggulan dalam kecepatan, tetapi tidak monoton.

Dengan unggul dalam kecepatan, para pemain Inggris perlu lebih dilatih untuk banyak bergerak dan mencari ruang kosong untuk memanfaatkan peluang jadi gol.

Jadi selama tidak ada pembaruan dalam cara bermain timnas Inggris, talenta dan masa de­pan pemain-pemain muda mereka ha­nya menjadi fata­morgana. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *