AMBON, Siwalimanews – Mengantisipasi merebaknya virus corona yang sudah masuk ke Indonesia dan penye­barannya sangat cepat, Majelis Pe­kerja Klasis GPM Kota Ambon me­ngeluarkan  dela­pan butir mak­lumat bagi 21 je­maat yang bera­da di Klasis GPM Kota Ambon.

Surat pemberi­tahuan Nomor 60/KKA/D2/03/2020 tertanggal 19 Maret itu ditan­datangani oleh Pdt N.J Rutuma­lessy sebagai Ketua dan Adriana Lohy sebagai sekretaris.

Delapan butir pemberitahuan itu, adalah pertama, dimintakan maje­lis jemaat menyiapkan wastafel di setiap pintu gereja

Kedua, kebiasaan bersalaman dihentikan dengan cara, menaruh tangan di dada, mengangguk ke­pala, dan memberikan senyum. Ketiga, majelis menyiapkan peti-peti persembahan pada beberapa titik dan persembahan ditaruh lang­sung pada peti tersebat. Ke­empat, majelis menyiapkan mas­ker, antis hand sanitizer dan sarung tangan untuk kolektaan.

Kelima, untuk pelaksanaan per­jamuan semua jemaat dimintakan menggunakan sloki. Langkah-lang­kah selanjutnya akan diatur kemudian sambil menunggu ara­han MPH Sinode GPM.

Baca Juga: Dua Jam Hendak Dilantik, Nama Himrot Diganti

Keenam, aktivitas kantor klasis dan kantor jemaat akan diliburkan mulai tanggal 20 sampai dengan 31 Maret 2020. Namun apabila ada hal-hal yang mendesak untuk dikerjakan akan dimintakan untuk hadir di kantor klasis atau kantor jemaat. Berbagai kebutuhan pela­ya­nan yang akan dilakukan dapat berhubungan via telepon sesuai kebutuhan (whatsapp).

Ketujuh, program-program pela­yanan di tingkat klasis dan jemaat dihentikan sampai batas tanggal 31 Maret 2020. Kedelapan, hindari perjumpaan-perjumpaan yang tidak penting.

Sekretaris Majelis Pekerja Klasis GPM Kota Ambon, Adriana Lohy yang dikonfirmasi Siwalima melalui telepon selulernya, Kamis (19/3) membenarkan, pihaknya telah me­ngeluarkan surat pemberi­tahuan yang ditujukan kepada 21 jemaat se-Klasis GPM Kota Ambon.

“Benar kita baru saja keluarkan surat pemberitahuan itu dan ditu­jukan kepada 21 jemaat se-Klasis GPM Kota Ambon, pemberitahuan ini diharapkan bisa dilaksanakan dan siapkan oleh majelis jemaat,” kata Lohy.

Pemberitahuan ini, kata Lohy, akan dibacakan dalam warta je­maat maupun ibadah unit dan ibadah-ibadah keluarga sambil menunggu arahan dari MPH Sinode GPM.

Pemberitahuan ini akan dibaca­kan di warta jemaat, ibadah unit dan ibadah keluarga sambil menu­nggu arahan dari MPH Sinode GPM,” katanya.

Sampaikan Himbauan

Sementara Ketua MPH Sinode GPM, A.J.S Werinussa yang dikon­firmasi soal himbauan Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (MPH-PGI) tak mau banyak berkomentar.

Ia hanya mengatakan, akan memberikan himbauan kepada klasis-klasis di bawah Sinode GPM. “Nanti kami akan sampaikan ke klasis-klasis,” ujarnya singkat.

PGI Keluarkan Himbauan

Seperti diberitakan sebelumnya, MPH-PGI mengeluarkan, himbau­an kepada seluruh gereja-gereja di Indonesia dibawah naungan PGI untuk menghindari kontak lang­sung.

Himbaun ini disampaikan untuk mencegah menyebarnya virus corona atau Covid-19.

Surat himbauan tertanggal 16 Maret 2020 itu, ditandatangani oleh Pdt. Gomar Gultom selaku ketua umum dan Pdt. Jaclevyn F. Manu­putty selaku sekretaris umum.

Berikut himbauan kepada selu­ruh warga gereja; Pertama, dari tempat kita masing-masing mari kita memanjatkan doa agar kita semua dikaruniai kesehatan dan ketabahan menghadapi masalah bersama yang menghadang kita saat ini, serta mendoakan peme­rintah kita, agar mereka diberi hikmat dan kemampuan dalam memimpin bangsa kita keluar dari masalah ini.

Kedua, bersama-sama kita me­nyuk­seskan imbauan Presiden Joko Widodo dengan menerapkan social distance. Kini saatnya kita menghentikan segala bentuk per­ja­lanan, pertemuan dan berbagai aktivitas di luar rumah lainnya, yang tidak terlalu penting, setidaknya untuk dua minggu kedepan.

Ketiga, sebagai persekutuan orang percaya, di satu sisi kita ter­panggil untuk memperbanyak dan mempersering perjumpaan antar­ma­nusia, termasuk persekutuan ibadah, di rumah dan di gereja. Na­mun di sisi lain, kita juga memiliki ta­nggung jawab untuk ikut meng­hentikan penyebaran Covid-19 ini.

Dalam terang ini, kami meng­imbau para pemimpin gereja untuk mengembangkan bentuk-bentuk peribadahan yang dapat menjang­kau umat di rumah masing-ma­sing, melalui alat bantu media sosial dan perkembangan tekno­logi digital, sehingga tersedia alter­natif bagi umat untuk tetap ber­ibadah dari rumah masing-masing. Kita harus dapat menilai penyelenggaraan ibadah di rumah masing-masing. Sebagai juga per­sekutuan ibadah yang tak kurang nilainya dengan persekutuan ibadah gereja, ter­utama di tengah masalah nyata yang sedang kita hadapi kini.

Keempat, masa-masa berdiam di rumah seperti sekarang ini, ada­lah momen yang sangat baik untuk bersekutu dalam bentuk bincang bersama, bersenda-gurau bersa­ma dan berdoa bersama seluruh anggota keluarga kita masing-masing. Ini momen berharga bagi kita semua untuk menikmati saat-saat bersama keluarga yang akhir-akhir ini makin langka oleh rupa-rupa sebab, nilai-nilai kekeluar­gaan kiranya dapat kita hidupi kembali melalui momen langka ini. Keluarga adalah inti masyarakat; Allah juga menyapa kita lewat keluarga.

Kelima, Apabila di antara gereja yang masih harus menyeleng­gara­kan ibadah di gereja, kami meng­imbau untuk memperhatikan lang­kah-langkah berikut: Lakukan fogging disinfektan pada ruang ibadah sehari sebelum, atau setidaknya pastikan pembersihan total rua­ngan ibadah; sediakanlah fasilitas cuci tangan (air mengalir dan sabun antiseptik) hand sainitizer pada beberapa titik di sekitar tempat persekutuan atau ibadah. Pastikan bahwa semua umat mela­lui proses cuci tangan ini sebelum memasuki ruang ibadah; Sediakan pengukur suhu di pintu masuk tem­pat ibadah, dan pastikan semua umat diukur suhu tubuhnya. Apabila ada warga memiliki suhu tubuh di atas 38 derajat celcius, agar diminta segera pulang dan periksakan diri ke dokter. Demikian pula dengan umat yang sedang memiliki gejala-gejala flu, batuk dan sesak napas.

Kemudian, sebaiknya dihindari kontak langsung seperti bersala­man sesama umat. Bisa dikem­bangkan ragam alternatif untuk bersalaman seperti membungkuk, melambaikan tangan atau salam ‘namaste’. Untuk posisi duduk selama di dalam ruangan ibadah, kiranya dapat diatur dengan jarak yang aman dan memadai;

Selain itu, pemberian persem­bahan yang umumnya menggu­nakan kantong kolekte sebaiknya diganti dengan pemberian ke kotak khusus yang diletakan sesuai aturan masing-masing gereja untuk memudahkan lalu lintas umat yang akan memberi persem­bahannya. Demikian pula dalam penghitungan persembahan se­usai ibadah, sebaiknya para petu­gas menggunakan sarung tangan sekali pakai dan tidak mengusap seputar wajah selama proses penghitungan, sebelum mencuci tangan dan bersih.

Keenam, ditengah beban berat yang sedang kita pikul bersama, para pelayan gereja hendaknya tetap dapat menjalankan tugasnya dalam menggembalakan umat, khususnya mereka yang sedang terpapar penyakit. Saat-saat seperti ini, tugas saudara-saudara semakin dibutuh­kan oleh umat dalam mendampingi dan menguatkan umat menghadapi keadaan sekarang; demikian pula dalam menghapus stigma-stigma yang muncul terhadap warga yang terpapar Covid-19. Kiranya saudara tetap semangat melayani umat dan tidak gentar mengahadapi kenya­taan yang ada, namun tetaplah waspada dan menjaga kesehatan diri sendiri.

Ketujuh, gereja hendaknya beke­ja sama dengan pemerintah dan memperhatikan setiap arahan dari pemerintah dalam rangka mengu­rangi penyebaran Covid-19. (S-19)