Tol Laut Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat

SELAMA ini seperti kita tahu bahwa wilayah Indonesia Timur terkenal dengan disparitas harga yang cukup tinggi. Hal itu disebabkan oleh tingginya biaya distribusi logistik dari daerah produsen ke daerah tersebut. Inilah yang mendasari lahirnya program Tol Laut dengan tujuan memangkas biaya logistik sehingga harga yang diterima oleh masyarakat sebagai pengguna akhir menjadi tidak terlalu mahal.
Konsep Tol Laut, yaitu konektivitas laut yang efektif karena memiliki rute dan jadwal yang rutin. Salah satu tujuannya adalah untuk menekan biaya logistik.
Dalam pelaksanannya, Tol Laut juga diiringi dengan pengembangan dan perbaikan infrastruktur, memangkas perantara pada jalur logistik (diintermediasi), dan mempercepat pembangunan kawasan industri terutama di Indonesia timur sehingga membangkitkan geliat ekonomi di daerah.
Ketika program Tol Laut yang dilakukan oleh pemerintah sudah berjalan hampir 5 (lima) tahun, mencatat capaian berupa terciptanya konektivitas baru pada daerah terpencil terluar tertinggal dan perbatasan yang dibuktikan dengan jumlah pelabuhan singgah bertambah, distribusi logistic khususnya barang kebutuhan pokok dan barang penting yang lebih besar dibandingkan masa sebelumnya serta menurunnya disparitas harga di beberapa daerah, namun masih banyak yang harus diperbaiki dan ditingkatkan pada program ini ke depan.
Evaluasi yang banyak dilakukan berbagai instansi, Lembaga dan stakeholder masih menemukan bahwa program tol laut belum mampu menurunkan disparitas harga di wilayah-wilayah yang lokasinya jauh dari pelabuhanka rena masih diperlukan moda lanjutan untuk menuju penerima barang. Ada tiga aspek yang ingin dicapai dalam program tol laut yaitu ketersediaan (Availability), kemudahan akses konektivitas pengiriman (Accessibility), dan disparitas harga barang kebutuhan yang lebih terjangkau oleh masyarakat.
Baca Juga: Optimalkan Potensi Perikanan MalukuKapal yang disediakan pemerintah, khususnya menggunakan subsidi pengoperasian kapal masih belum dimanfaatkan secara optimal oleh industri daerah untuk membawa hasil produksi karena masih lemahnya konsolidasi muatan, terbatasnya infrastruktur seperti jalan menuju ke pelabuhan, kapasitas dermaga, fasilitas gudang dan penumpukan kontainer, terbatasnya reefer kontainer dan sumber listrik. Muatan balik yang masih rendah bukan hanya menjadi masalah bagi program tol tetapi lebih tepatnya pembangunan yang selama ini dilakukan belum mampu membangkitkan industri daerah untuk dapat menjual hasil daerah dalam jumlah yang lebih besar.
Produk perikanan yang selama ini menjadi komoditi terbesar yang dihasilkan wilayah Timur masih harus disupport dengan efisiensi logistik karena biaya pengiriman masih dipandang cukup tinggi.
Dinas Perhubungan Provinsi Maluku tengah mengusulkan penambahan kontainer tol laut ke Pemerintah Pusat.
Usulan ini dilakukan sebagai respon dari keluhan para distributor terkait kurangnya kuota kontainer di beberapa pelabuhan di Maluku.
Dishub telah mengusulkan kepada Pemerintah Pusat agar ada penambahan kuota kontainer bagi para distributor khususnya bagi kapal yang menyinggahi Piru dan Bula.
Mengingat rute Piru dan Bula beberapa tahun lalu memang belum ada namun sejak tahun lalu sudah ada kapal tol laut yang menyinggahi dua daerah ini.
Rute ini . sangat membantu para distributor kebutuhan pokok, bayangkan kalau harus mengangkut beras dari Ambon untuk disuplai ke Bula itu cukup mahal sampai 7 juta belum lagi muatannya juga tidak banyak tetapi dengan tol laut ini lebih mempermudah
Diharapkan, usulan tambahan kuota kontainer tersebut dapat disetujui sehingga rantai pasok kebutuhan pokok ke daerah-daerah diluar Ambon dapat berjalan lancar. (*)
Tinggalkan Balasan