Ilmu dan Akhlak dalam Pendidikan

DALAM dunia pendidikan, ilmu dan akhlak adalah dua pilar utama yang membentuk karakter dan keberhasilan seseorang. Ilmu memberikan pemahaman dan keterampilan, sementara akhlak membentuk moral dan etika dalam mengaplikasikan ilmu tersebut.
Memiliki ilmu yang luas tanpa dibarengi akhlak yang baik bisa berbahaya. Begitu pula sebaliknya, seseorang yang berakhlak baik tetapi tanpa ilmu bisa menghadapi kesulitan dalam kehidupan. Oleh karena itu, keseimbangan di antara keduanya menjadi kunci dalam menciptakan individu yang berilmu dan berbudi pekerti luhur.
MENGAPA ILMU TANPA AKHLAK BERBAHAYA?
Akhlak seseorang terbentuk dari berbagai faktor, seperti tabiat, akal-pikiran, dan hati nurani. Tabiat atau bawaan lahir memberikan kecenderungan tertentu dalam sikap seseorang, sementara akal-pikiran berkembang melalui pengalaman dan pembelajaran. Di sisi lain, hati nurani membantu seseorang menilai mana yang benar dan salah. Ketiga faktor itu membentuk perilaku manusia, baik positif maupun negatif.
Namun, bagaimana jika seseorang memiliki ilmu tetapi tidak memiliki akhlak? Sejarah mencatat banyak contoh individu yang memiliki kecerdasan luar biasa tetapi justru menyalahgunakan ilmu mereka untuk kepentingan pribadi atau tindakan yang merugikan masyarakat. Sebaliknya, seseorang yang memiliki akhlak baik tetapi kurang berilmu mungkin akan kesulitan dalam mengambil keputusan atau menghadapi tantangan hidup. Oleh karena itu, pendidikan harus menanamkan keduanya secara seimbang.
Baca Juga: Banyak Rapat Minim Solusi: Ketidakefektifan Birokrasi dalam Menyelesaikan Masalah MasyarakatDalam Islam, ilmu dan akhlak tidak dapat dipisahkan. Ilmu bukan sekadar alat untuk memahami dunia, tetapi juga sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Islam menekankan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban, sebagaimana hadis Rasulullah SAW: “Belajarlah ilmu, karena mencarinya adalah ibadah, membahasnya adalah jihad, dan mengajarkannya adalah sedekah,” (HR Mu’adz bin Jabal).
Namun, ilmu tanpa akhlak dapat menyesatkan. Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, umat Islam dihadapkan pada tantangan hidup untuk mempertahankan nilai-nilai moral dalam penggunaannya. Oleh karena itu, pembelajaran yang berbasis nilai-nilai Islam menjadi penting agar ilmu yang diperoleh tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga membentuk karakter akhlak mulia yang lebih kuat.
IMPLEMENTASI DALAM PEMBELAJARAN IPA
Sebagai guru IPA di Sekolah Sukma Bangsa, saya meyakini bahwa pembelajaran tidak hanya bertujuan meningkatkan pengetahuan akademik, tetapi juga membentuk karakter siswa. Sekolah Sukma Bangsa berkomitmen menciptakan lingkungan belajar yang positif demi menghasilkan peserta didik yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia.
Dalam pembelajaran IPA, pendidikan karakter diintegrasikan pada berbagai aspek. Misalnya, saat mempelajari ekosistem dan lingkungan, siswa tidak hanya memahami teori keseimbangan alam, tetapi juga diajak untuk menerapkan sikap tanggung jawab terhadap lingkungan. Kegiatan seperti proyek daur ulang, juga penghijauan sekolah dengan cara tidak mencabut pohon atau memetik bunga sembarangan. Tidak hanya itu, pembelajaran secara eksperimen berbasis eksplorasi alam juga membantu mereka untuk dapat memahami bagaimana pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus menanamkan nilai kepedulian dan tanggung jawab sosial.
Sains juga mengajarkan nilai-nilai moral lainnya. Ketika melakukan eksperimen, misalnya, siswa belajar untuk jujur dalam mencatat hasil percobaan, disiplin dalam mengikuti prosedur, serta kritis dalam menguji hipotesis. Siswa juga dilatih untuk bekerja sama dalam kelompok, mendengarkan serta menghargai pendapat orang lain, juga menerima perbedaan sudut pandang tanpa merasa paling benar atau hanya berfokus pada kepentingan pribadi.
Di samping itu, pembelajaran sains membentuk karakter kesabaran, terutama dalam menjalankan eksperimen yang memerlukan ketelitian dan ketekunan tanpa tergesa-gesa mengharapkan hasil instan. Semua ini merupakan bagian dari pembentukan akhlak melalui hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Dengan cara itu, ilmu dan akhlak tidak hanya menjadi teori, tetapi juga diterapkan dalam praktik sehari-hari.
Budaya sekolah berperan penting dalam membentuk karakter siswa. Kebiasaan positif seperti datang tepat waktu, menjaga kebersihan lingkungan, serta bersikap ramah dan sopan kepada teman maupun guru telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di Sekolah Sukma Bangsa. Penerapan budaya ‘4 No’ (tidak menyontek, tidak merundung, tidak merokok, dan tidak membuang sampah sembarangan) serta budaya ‘5S’ (senyum, salam, sapa, sopan, santun) semakin memperkuat pembentukan akhlak yang baik. Pembiasaan nilai-nilai ini dilakukan sejak dini agar dapat berkembang secara konsisten dalam kehidupan siswa.
Sebagai guru, saya menerapkan prinsip-prinsip ini dalam setiap proses pembelajaran di kelas. Saya selalu mengingatkan siswa untuk menghormati guru, menghargai sesama teman, meminta izin ketika keluar atau masuk kelas, serta tidak mengambil barang milik teman tanpa seizin pemiliknya.
Saya juga menegaskan pentingnya menjaga etika dalam bertutur kata, seperti tidak menjadikan nama orangtua sebagai bahan candaan. Perilaku semacam itu kerap dianggap tren atau hiburan, padahal sebenarnya merupakan kebiasaan yang kurang baik dan perlu diluruskan. Oleh karena itu, di sela-sela pembelajaran, saya berupaya mengedukasi siswa mengenai dampak negatif tren tertentu yang dapat merusak akhlak sehingga mereka lebih sadar dan bijak dalam bersikap.
Pendidikan sejati tidak hanya mengasah kecerdasan intelektual, tetapi juga membentuk karakter dan nilai-nilai moral yang kokoh. Sekolah Sukma Bangsa telah membuktikan bahwa keseimbangan antara ilmu dan akhlak merupakan fondasi utama dalam mencetak generasi yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga berdaya guna bagi masyarakat. Keberhasilan pendidikan bukan hanya diukur dari seberapa banyak ilmu yang dikuasai, melainkan juga bagaimana ilmu tersebut diterapkan dengan penuh tanggung jawab dan kebijaksanaan.
Sebagai pendidik, kita memegang peran sentral dalam memastikan bahwa ilmu yang diajarkan tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam diri siswa. Ilmu tanpa akhlak bisa menjadi pedang bermata dua–dapat membawa manfaat besar, tetapi juga bisa menimbulkan kerusakan jika tidak digunakan dengan bijak. Sebaliknya, akhlak tanpa ilmu bisa membuat seseorang kehilangan arah dan sulit beradaptasi dalam kehidupan modern yang semakin kompleks.
Maka, tugas kita sebagai pendidik bukan sekadar mentransfer ilmu, tetapi juga menjadi teladan dalam menanamkan nilai-nilai kebaikan. Pendidikan yang ideal adalah yang mampu melahirkan generasi yang berpikir kritis, bertindak bijak, dan selalu menjunjung tinggi integritas serta nilai-nilai kemanusiaan. Oleh: Dewiana Guru IPA SD Sukma Bangsa Lhokseumawe. (*)
Tinggalkan Balasan