AMBON – Siwalimanews, Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira menilai, kesediaan Presiden Joko Widodo sebagai penerima pertama vaksin Covid-19 akan memberikan dam­pak psikologis kepada masya­rakat. Masyarakat bisa lebih yakin mengenai keamanan vaksin tersebut.

“Kalau dimulai dari pemerintah itu memang akan berpengaruh, ada dampak psikologis bahwa vaksin itu aman,” tutur Bhima Selasa (12/1).

Vaksinasi oleh peme­rintah, kata Bhima, memang harus dicontoh­kan. Hal ini untuk mem­perkuat keper­caya­an masyarakat terhadap vaksin yang akan digunakan.

“Memang harus dicontohkan, terlebih lagi pemimpin dunia di negara lain juga melakukannya. Ini bukti kepercayaan,” sambung Bhima.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan memastikan proses vaksinasi akan dilakukan mulai Rabu (13/1). Adapun tahap pertama akan diberikan kepada seluruh tenaga kesehatan yang ada di Tana Air.

Baca Juga: Dirlantas Diminta Siapkan Tiga Lokasi Kawasan Tertib Lalulintas

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin mengatakan, untuk tahap pertama sebanyak 1,48 juta tenaga kesehatan akan disuntikan vaksin. Dia berharap pada akhir Februari sudah bisa selesai.

“Di seluruh dunia tahapan ini sama kenapa diberikan ke nakes? karena kriterianya yang diberikan oleh orang-orang yang berisi risiko tinggi untuk terpapar karena tenaga kerja kesehatan ini selalu terpapar pasien covid Mereka ingin diberikan pertama kali,” katanya dalam rapat kerja bersama dengan Komisi XI DPR RI, di Jakarta, Selasa (12/1).

Setelah tenaga kesehatan, maka vaksin selanjutnya akan disuntikan kepada petugas publik. Di mana, petugas publik ini adalah orang yang tugas sehari-harinya bertemu dengan banyak orang.

“Vaksinasi kita akan berikan berikutnya ke 17,4 juta petugas publik, jadi setelah petugas kesehatan kita ke petugas publik,” jelas dia.

Prioritas ini sedikit berbeda dengan negara-negara lain. Di mana negara-negara tersebut sebagian besar menaruh lansia diurutkan kedua, kemudian baru petugas publik dengan alasan ekonomi bukan karena politik.

“Tapi lebih ke alasan kemanusiaan karena orang-orang lansia ini adalah orang yang critical kemungkinan kenanya kalau kena meninggalnya tinggi sehingga diperoleh duluan. di Indonesia kita taruh di 2B,” jelas Menteri Kesehatan. (S-39)