Tiga Tahun Penjara untuk Penjual Kosmetik Ilegal

AMBON, Siwalimanews – Dua terdakwa penjual kosmetik ilegal, Fredikan Tulalessy alias Ampy dan Fuady Maumede alias Adi ditun­tut 3 tahun penjara dalam sidang yang berlangsung di Pengadilan Negeri Ambon, Senin (7/10).

Selain itu, JPU Kejati Maluku, Ella Ubleeuw juga menuntut kedua terdakwa membayar denda Rp 100 juta dan subsider 6 bulan kuru­ngan.

Kedua terdakwa menjual kos­metik tanpa izin edar dari Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) serta mengandung ba­han berbahaya.

Sidang yang digelar secara terpisah itu, dipimpin majelis hakim yang diketuai Pasti Tarigan didam­pingi Syamsudin La Hasan dan Jenny Tulak selaku hakim ang­gota,

“Terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana kese­hatan sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 197 jo pasal 106 ayat (1) UU Nomor 36 tahun 2009 tentang Kese­hatan,” tandas Ella Ubleeuw.

Saat mendengarkan tuntutan, kedua terdakwa tak didampingi pe­nasihat hukum nampak tertunduk dan pasrah.

Kendati demikian, majelis hakim masih memberikan kesempatan ke­pada kedua terdakwa untuk me­nyampaikan pembelaannya.

Sidang kemudian ditunda hingga pekan depan, dengan agenda men­dengarkan pembelaan terdakwa.

Sebelumnya JPU Kejati Maluku, Ella Ubleeuw dalam dakwaannya mengatakan, pada tanggal 14 Fe­bruari 2019, petugas Balai POM bersama dengan anggota polisi melakukan pemeriksaan terhadap kosmetik-kosmetik yang dijual di kios-kios di sekitar Pasar Mardika.

Saat itu ditemukan 12 item kos­metik mengandung bahan berba­haya dan 86 item kosmetik tanpa izin edar pada kios milik terdakwa Ampi dan Adi.

Saat dilakukan interogasi, kedua­nya mengaku tidak mengetahui kalau kosmetik yang dijual itu me­ngandung bahan-bahan berbahaya.

Mereka mengaku, kosmetik tanpa izin edar itu dibeli dari online karena harganya murah dan dapat dijang­kau.

Perbuatan kedua terdakwa diatur dan diancam melanggar pasal 196 jo pasal 98 ayat (3) UU Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan serta melanggar pasal 187 jo pasal 106 ayat (1) UU Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan. (S-16)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *