Tagih Janji Jaksa di Kasus Pastori Waai

Jaksa selalu berjanji kasus-kasus dugaan korupsi yang diusut akan tuntas, namun sayangnya, implemenasi dari pernyataan tersebut kurang diterapkan. Penanganannya lamban dan tak jelas, apalagi jika itu kurang ada pengawasan yang ketat dari masyarakat.

Buktinya, Kajati Maluku Triyono Haryono meskipun akan telah meninggalkan Kajati Maluku namun yakin kasus dugaan korupsi dana hibah pembangunan Pastori IV Jemaat GPM Waai, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Malteng Tahun 2017 bakal dituntaskan.

Triyono yang akan menempatkan jabatan baru sebagai jaksa fungsional pada Pusat Pendidikan dan Latihan Kejaksaan Agung mengatakan, sejumlah pihak telah dimintai keterangan dan akan dituntaskan.

Triyono yakin, kendatipun tidak memegang jabatan sebagai Kajati Maluku namun kasus-kasus korupsi yang ditangani Kajati Maluku akan tuntas.

Bukan soal janji kasus-kasus korupsi akan tuntas, tetapi butuh komitmen dan kesungguhan dari lembaga adhyaksa untuk menuntaskan kasus-kasus korupsi itu..

Komitmen dan keseriusian serta kesungguhan untuk menuntaskan kasus-kasus korupsi tersebut sangatlah dibutuhkan. Hal ini disebabkan karena publik menilai, banyak kasus korupsi yang ditangani kejaksaan namun lamban penanganannya.

Buktinya, kasus dugaan korupsi  dana hibah pembangunan Pastori IV Jemaat GPM Waai, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Malteng Tahun 2017 berjalan di tempat dan penanganannya tak jelas.

Troyono bertugas di Maluku setahun lebih, namun sayangnya banyak kasus-kasus korupsi peninggalkan mantan Kajati sebelumnya belum sampai di pengadilan. Sebut saja tiga kasus jumbo belum juga sampai ke pengadilan.

Dua kasus jumbo yaitu, Repo obligasu Bank Maluku Tahun 2014 kepada PT Andalan Artha dvisindo Securitas senilai Rp 238,5 Miliar dan proyek terminal transit Passo Tahun 2008-2009.

Pihak Kejati Maluku sudah mengantongi kerugian negara dengan angka fantasis namun nilainya masih dirahasiakan.

Jumlah kerugian Negara tersebut ditemukan oleh BPKP Perwakilan Maluku dan sudah diekspos bersama dengan penyidik Kejati Maluku. Publik tentu saja berharap janji lembaga adhyaksa ini bisa direalisasi dengan menuntaskan sejumlah kasus korupsi yang saat ini ditangani.

Harapan publik ini harus mampu dibuktikan oleh lembaga kejaksaan dengan sebuah tindakan hukum yang nyata.

Dua kasus jumbo ini belum sampai ke pengadilan. Jaksa janji bahwa akan tuntas, namun sampai saat ini belum ditahankan para tersangka. Belum juga kasus pastori Waai.

Ini PR bagi Kajati Maluku yang baru, Yudi Handono untuk menyelesaikan kasus-kasus korupsi di lembaga adhyaksa yang dipimpinannya.

Janji Triyono bahwa semua kasus korupsi di Maluku akan tuntas, termasuk dugaan korupsi dana hibah pembangunan Pastori IV harus dapat dibuktikan dengan langkah penanganan hukum yang tepat dan cepat.

Berlarut-larutnya penanganan kasus korupsi akan menimbulkan berbagai ragam opini publik bahwa, Kejati Maluku tak serius, lamban lalu terkadang beralasan personil kurang. Alasan klise seperti ini yang tidak diharapkan publik.

Publik menunggu langkah hukum dari Kajati yang baru Yudi Handono untuk dapat menuntaskan berbagai kasus-kasus korupsi dan harus sampai ke pengadilan. Jangan sampai pergantian Kajai baru juga namun tetap saja penanganan kasus-kasus korupsi lamban. Semoga tidak seperti demikian. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *