Sekolah Darurat Segera Dibangun di Oma

AMBON, Siwalimanews – Pemkab Malteng kedepannya segera membangun sekolah da­­ru­rat bagi murid Sekolah Da­sar (SD) Negeri 1 Oma Keca­ma­tan Pu­lau Haruku yang melak­sanakan aktivitas persekolahan di alam terbuka.

Kepala BPBD Kabupaten Mal­teng, Bob Rahmat memastikan kon­disi gedung SDN1 Oma men­jadi perhatian serius pemerintah daerah. Saat ini di tengah hutan, ratusan muris SDN1 Oma terpaksa melakukan aktivitas belajar me­ngajar di alam terbuka.

“Mereka memang saat ini belajar di alam terbuka, namun akan se­gera kita tangani dan masalah ini akan disampaikan ke Kementerian Pendidikan untuk menjadi perha­tian,” ungkap Bob kepada wartawan di Ambon, Selasa (8/10).

Menurutnya, Pemkab Malteng se­mentara mendata jumlah se­ko­lah yang terdampak gempa mela­kukan aktivitas belajar mengajar di alam terbuka. Untuk SDN 1 Oma, Pemkab berupaya segera bangun sekolah darurat atau tenda darurat untuk belajar mengajar.

DPRD Prihatin

Anggota DPRD Kabupaten Mal­teng, Frans Picarima prihatin de­ngan kondisi yang dialami murid-murid SDN 1 Oma. Ia mendesak Pemkab Malteng segera menyiap­kan fasilitas sekolah lapangan guna menjamin aktivitas pendi­dikan bagi anak anak terdampak bencana tidak hanya di Oma Pulau Haruku, tetapi di Kecamatan Salahutu dan Leihitu.

“Kami turut prihatin dengan kon­disi bencana yang sementara kita hadapi saat ini. Selain itu kami pun memahami bahwa pemerintah dan perangkatnya juga pasti ke­sulitan memenuhi dan mengko­ordinir semua kebutuhan warga terdampak  gempa. Namun demi­kian pemerintah wajib memenuhi dan menanggulangi semua kebu­tuhan masyarakat dalam situasi bencana, termasuk memastikan semua hak warga negara dalam keadaan apapun untuk mengecap dunia pendidikan,” tandas Picari­ma di Masohi, Selasa (8/10).

Ia mendesak Dinas Pendidikan dan Kabudayaan Malteng untuk segera mengambil langkah taktis guna memenuhi kelancaran pro­ses belajar mengajar bagi anak-anak sekolah.

“Kami mendapatkan informasi soal adanya aktivitas belajar mengajar yang harus dilakukan di lokasi pengungsian. Ini ironis se­kali sebab dengan kondisi yang ada sekolah terpaksa membuka pro­ses belajar mengajar di bawah langit terbuka dan hanya beralas­kan rumput. Mestinya ada solusi cepat, apakah penyiapan tenda darurat untuk menganti bangunan sekolah yang rusak atau langkah lain dengan membangun fasilitas sekolah lapangan agar operasio­nal sekolah di lokasi pengungsian dapat dipastikan berjalan walau­pun dalam kondisi darurat,” jelas Paicarima.

Anggota DPRD Maluku dapil Maluku Tengah, Ruslan Hurasan juga mendesak Pemkab Malteng segera membangun tenda darurat. Hurasan menegaskan, pemerin­tah kabupaten harus menjamin kehidupan pengungsi termasuk aktivitas pendidikan.

“Pemda Maluku Tengah harus menyiapkan sekolah darurat yang layak untuk mengantikan sekolah-sekolah yang rusak dan tidak layak pasca gempa sehingga proses belajar mengajar tetap berjalan baik,” ujar Hurasan, melalui tele­pon selulernya, Selasa (8/10).

Wakil Ketua Fraksi Pembangu­nan Bangsa ini juga meminta agar dilakukan pendampingan untuk anak-anak korban gempa sehing­ga mengurangi traumatik bagi anak-anak.

“Pendidikan bagi anak-anak itu sangat penting, walaupun mereka berada di lokasi-lokasi pengung­sian  termasuk melakukan pen­dampingan untuk anak-anak kor­ban gempa sehingga mengurangi traumatik bagi anak-anak,” kata­nya.

Belajar di Alam Terbuka

Sebelumnya diberitakan, kendati berada di tempat pengungsian, namun aktivitas belajar ratusan siswa di SD Negeri 1 Oma, Keca­matan Pulau Haruku, Kabupaten Malteng  tetap berjalan.

Aktivitas belajar mengajar ber­langsung di tengah hutan, dengan beralaskan pelepah daun kelapa. Gedung sekolah tersebut tidak layak lagi ditempati, lantaran dua ruang kelas rusak berat.

SD Negeri 1 Oma menampung sebanyak 118 muridnya dari kelas 1-VI. Saat gempa melanda, seko­lah tersebut retak dan tak layak ditempati. Sebagai solusi, para murid diungsikan ke hutan ber­sama masyarakat setempat yang hendak menyelamatkan diri.

Sempat sekolah diliburkan se­lama seminggu pasca gempa me­landa. Namun setelah itu sekolah kembali beraktivitas seperti biasa namun kali ini di tempat pengung­sian di tengah hutan.

Ibu Ade, salah satu warga Oma yang diminta keterangan terkait keberadaan sekolah itu mengaku prihatin dengan konsidi sekolah. Hal itu karena untuk melaksana­kan aktivitas belajar mengajar, para guru dan murid memilih salah satu tanah lapang yang masih kosong di tengah hutan untuk beraktivitas.

Mirisnya kata ibu Ade, dengan menggunakan pelepah daun ke­lapa dan daun pisang, ratusan anak-anak sekolah itu duduk tenang mengikuti proses belajar mengajar. “Mau bikin bagaimana, anak-anak mau turun ke sekolah tidak mungkin, karena  sudah tidak layak lagi. Anak-anak sudah trau­ma, tidak mau turun ke sekolah. Gempa terus-terus dari tanggal 26 sampai sekarang masih ada gem­pa. Jadi anak-anak ketakutan dan trauma,” jelas ibu Ade kepada Siwa­lima di Negeri Oma Senin (7/10).

Ia menyayangkan sikap Pemkab Malteng yang sampai sekarang belum melakukan tanggap darurat terhadap kondisi sekolah-sekolah yang retak di Negeri Oma. “Memang pasca gempa besar itu ada petu­gas dari tingkat kecamatan ke se­kolah kami, tapi cuma lihat-lihat saja dan sampai sekarang belum ada tindaklanjut,” tandas Ibu Ade.

Ia berharap, Bupati Malteng juga dapat menyikapi kondisi sekolah-sekolah di Negeri Oma yang tidak layak pasca gempa bumi melanda Kota Ambon, SBB dan Mateng.

(S-16/S-39/S-36)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *