Segera Ganti Uang Nasabah!

BNI 46 Harus Tanggung Jawab

AMBON, Siwalimanews – Pihak BNI tak bisa cuci tangan. Bank berplat merah ini harus bertanggung jawab untuk mengganti uang nasabah ratusan miliar yang dibobol Faradiba Yusuf.

Faradiba Yusuf adalah karyawan BNI. Sepak ter­jangnya juga atas nama BNI. Karena itu, uang na­sabah yang dicuri wajib diganti oleh BNI. Jika ti­dak, kepercayaan masya­ra­kat terhadap BNI akan sirna.

“Itu harus, kan masyara­kat menyimpan uang me­reka di bank. Ketika kasus ini maka pihak bank harus ganti rugi,” tandas Dekan Fakultas Eko­nomi Unpatti, Erly Leiwakabessy, kepada Siwalima melalui telepon selulernya, Kamis (17/10).

Terbongkarnya kasus pembobo­lan uang nasabah oleh Faradiba Yusuf yang mencapai Rp 124 miliar, kata Leiwakabessy, mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap BNI.

Ia juga meminta BNI meningkat­kan sistem pengamanan yang baik terhadap uang nasabah.

“Harusnya ada pengamanan uang nasabah, karena mereka sudah percaya bank jadi harus ada sistem yang bisa mengamankan uang-uang nasabah, baik itu deposito maupun tabungan,” ujarnya.

Menurut Leiwakabessy, pihak BNI harus melakukan evaluasi se­cara menyeluruh di internal.

“Perlu dilakukan evaluasi secara menyeluruh. Karena ini merupakan kasus yang dapat merugikan bank itu sendiri. Dan saya harap kasus ini bisa dituntaskan agar kepercayaan masyarakat untuk BNI bisa kem­bali,” tandasnya.

Ia menyarankan agar dalam re­krutmen pegawai perbankan, aspek moral menjadi perhatian serius.

“Saya mau katakan, harusnya se­tiap rekrutmen pegawai pihak per­bankan  harus mengutamakan yang namanya tes moral, karena ketika orang itu memiliki moral yang baik maka tak akan muncul kasus seperti ini,” tandasnya.

OJK Instruksi Ganti Rugi

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pusat telah meminta kepada mana­jemen BNI Ambon untuk melakukan ganti rugi terhadap uang nasabah yang dibobol oleh Faradiba Yusuf.

“Berdasarkan hasil koordinasi dengan OJK pusat, mereka telah me­minta manajemen untuk melakukan hal- hal sebagai berikut, diantaranya mengganti rugi uang nasabah, men­cari keberadaan oknum pegawai yang diduga terlibat dalam kasus tersebut agar permasalahan lebih jelas,” tandas Kepala OJK Provinsi Maluku, Bambang Hermanto, kepa­da Siwalima, melalui telepon selu­lernya.

Selain itu,  OJK juga meminta dila­kukan pemeriksaan investigasi, ter­masuk audit forensik terhadap tran­saksi setor tunai dan Real-Time Gross Settlemen (RTGS) atau proses penyelesaian akhir transaksi ter­hadap rekening-rekening yang terin­dikasi terlibat dengan aliran dana, baik di BNI maupun di bank lain.

Hermanto meminta masyarakat tidak perlu khawatir, OJK pusat dan daerah akan terus memantau perkem­bangan kasus ini.

Pejabat BNI Terlibat

Tak hanya di BNI Ambon, namun uang nasabah di  Cabang Pembantu (KCP) Dobo, Masohi dan Tual juga dibobol. Nilainya mencapai Rp 58..950.000.000,-.

Ketiga Kepala KCP diduga terlibat bersama aktor utama Faradiba Yusuf menggarap uang nasabah itu. Uang puluhan miliaran itu ditampung pada lima rekening.

“Modusnya ini  FY ini memerin­tah­kan kepada cabang, diantaranya Kepala Cabang Pembantu Tual, Ma­sohi dan Dobo untuk mentransfer dana ke rekening sekitar lima orang nasabah masyarakat umum. Kemu­dian inilah yang dianggap sebagai suatu kerugian, karena tidak sesuai prosedur. Jadi jumlah keseluruhan yang ditransfer dari tiga cabang pembantu itu sebesar Rp 58.950.­000.000,” jelas Kabid Humas Polda Maluku, Kombes M Roem Ohoirat, kepada wartawan, di Polda Maluku, Kamis (17/10).

Kasus pembobolan ini, kata Ohoi­rat, awalnya dilaporkan oleh pihak BNI  ke Polda Maluku dengan du­gaan penggelapan. BNI diwakili oleh pemimpin Bidang Pemasaran Bisnis Banking, Nolly Soumena, pada 8 Oktober 2019 dan langsung dita­nga­ni oleh Ditreskrimum.

Namun setelah proses penyelidi­kan dilakukan ternyata kasus ini me­rupakan kasus tindak pidana per­ban­kan, sehingga langsung dise­rah­kan ke Ditreskrimsus, Kamis (17/10).

“Sudah empat orang dimintai kete­rangan awal,  termasuk itu pelapor,” ungkap Ohoirat.

Soal identitas tiga orang lainnya yang diperiksa, Ohoirat enggan me­nyebutkan dengan alasan kepenti­ngan penyelidikan.

“Sudah empat orang itu termasuk pelapor. Ini kan masih dilidik, se­hingga saya minta rekan-rekan ber­sabar dan hasilnya saya sampaikan. Karena ini kan belum diperiksa se­cara resmi kepada para pihak yang dianggap terlibat dalam kasus ini dan nanti dilakukan  oleh ditreskrim­sus,” ujarnya.

Soal agenda pemeriksaan terha­dap Faradiba Yusuf, Ohoirat belum bisa memastikan, karena kewenang­an penyidik ditreskrimsus.

“Ini kan sudah perintah Kapolda juga. Jadi mungkin dalam waktu dekat kita bisa menjelaskan kepada publik kasusnya seperti apa.Yang diduga terlapor ini kan belum dipe­riksa, tetapi kalau dia ada datang ya pasti kita akan melakukan peme­riksaan,” tandasnya.

Kapolda Datangi BNI

Kapolda Maluku Irjen Royke Lu­mowa mendatangani Kantor BNI Ambon, di Jalan Said Perintah, Ka­mis (17/10) sekitar pukul 12.00 WIT.

Kapolda datang sendiri ditemani seorang sopir. Tiba di kantor BNI, ia langsung masuk dan menu­ju ke lantai II menemui tim BNI pu­sat.

“Tadi pak Kapolda langsung ke bank, beliau tidak didampingi peja­bat atau PJU Polda. Beliau hanya diantar sopir dan langsung menuju lantai II karena ada tamu dari pusat,” kata salah satu staf BNI Ambon, kepada Siwalima.

Selama kurang kebih dua jam, kapolda berada di lantai II bersama tim BNI pusat  membahas pembo­bo­lan uang nasabah yang dilakukan Faradiba Yusuf.

Kabid Humas Polda Maluku, Kombes M Roem Ohoirat yang dikonfirmasi membenarkan keda­tangan kapolda ke BNI.

“Benar, tadi pak kapolda ke sana dan dilakukan koordinasi. Kasus ini sementara ditangani dan perintah pak kapolda segera dituntaskan secepatnya,” jelasnya.

Modus Faradiba

Seperti diberitakan, Faradiba Yu­suf melakukan aksinya sejak tahun 2017. Saat itu, Faradiba masih men­jabat Kepala Cabang Pembantu BNI AY Patty yang saat ini sudah ber­pindah ke Waihaong.

Dugaan kejahatan yang dilakukan Farida hingga ia menjabat pemimpin pemasaran BNI Ambon. Saat itu, Dione Liemon masih menjabat pe­mimpin BNI Ambon.

Sasarannya, nasabah yang ta­bungannya gede, bernilai miliaran rupiah.  Para nasabah tersebut ber­status prioritas atau istimewa di BNI.

Lalu bagaimana modus yang dilakukan Faradiba untuk meng­garap dana mereka?. Di mata para nasabah Faradiba sangat dipercaya. Mereka tak lagi berurusan di bank. Semua diurusi oleh  Faradiba, baik untuk menabung atau mencairkan dana mereka.  Kepercayaan itu yang dimanfaatkan oleh Faradiba.

“Nasabah hanya tinggal di rumah, kalau mau nabung tinggal kontak Faradiba, dia yang datang. Uang dititip ke Faradiba, slip setoran ditan­datangani oleh nasabah, ini kan karena nasabah percaya,” kata sum­ber di BNI.

Para nasabah tetap percaya karena bukti print buku dan slip setoran dikembalikan oleh Faradiba kepada nasabah, dan tercatat jelas nilai uang yang disetor.

Faradiba memang menyetor uang nasabah ke bank. Tetapi saat hendak mau tutup kas, ia menarik kembali uang tersebut. Itu berarti Faradiba memiliki password untuk bisa masuk ke rekening nasabah.

Ororitas pemegang password adalah Kepala Kantor Cabang Umum BNI Ambon. Jika Faradiba bisa mendapatkan password maka ada keterlibatan kepala cabang dalam kasus ini.

“Ini kan jadi pertanyaan mengapa Faradiba bisa tahu password. Itu berarti ada dugaan keterlibatan orang lain,” ujar sumber tersebut.

Begitupun dengan tabungan lainnya seperti deposito. Faradiba juga dipercayakan oleh nasabah untuk mendepositokan uang mereka dan juga melakukan pencairan. Ternyata uang mereka juga ditilep.  “Jadi modusnya sama,” ujar sumber itu. (S-40/S-27)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *