Residivis Narkoba Dihukum 8 Tahun Bui

AMBON, Siwalimanews – Pengadilan Negeri Ambon menjatuhkan hukuman penjara selama 8 tahun terhadap terdakwa Gherets Tomatala alias Gerald, dalam persidangan yang digelar, Kamis (7/11).

Selain hukuman penjara, majelis hakim yang terdiri Felix R Wiusan selaku hakim ketua didampingi Jenny Tulak dan Syamsudin La Hasan juga dibebankan  membayar denda sebesar Rp 1 miliar, subsider 6 bulan kurungan.

Dalam amar putusannya majelis hakim mengatakan, pria 33 tahun asal Desa Kamariang, Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat ini, terbukti melakukan tindak pidana tanpa hak melawan hukum memiliki, menguasai dan menjual belikan narkoba jenis sabu-sabu.

Perbuatannya terbukti melanggar pasal 114 ayat (1) jo pasal 144 ayat (1) UU Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Vonis mejalis hakim itu jauh lebih ringan dibandingkan tuntutan JPU Kejati Maluku, Isa­bella Ubleuw yang sebelumnya me­nuntut terdakwa dengan hukuman 12 tahun penjara dan dibebankan membayar dendar Rp 1 miliar, sub­sider 6 bulan kurungan.

Untuk diketahui, terdakwa Gerald dalam jangka waktu tiga tahun, kem­bali melakukan tindak pidana peng­edaran narkotika golongan I jenis sabu. Perbuatannya melanggar pasal 114 ayat (1) jo pasal 144 ayat (1) UU Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika.

JPU menetapkan, barang bukti berupa, satu paket sabu ukuran kecil, satu lembar bukti transfer undercover buy narkotika sebesar Rp 1,5 juta dengan tujuan rekening Bank BCA atas nama Ardi Septio tertanggal 24 April 2018, 2 unit hand­phone merk Samsung, dirampas untuk dimusnahkan. Dan satu unit handphone merk Samsung lainnya dikembalikan kepada saksi Andre Leatemia alias Bisot.

Kendalikan dari Lapas

JPU dalam tuntutannya menjelas­kan, petugas BNN Maluku mem­bong­kar sindikat peredaran sabu dari Lapas Kelas IIA Ambon, dangan menang­kap terdakwa Gherets To­matala alias Gerald di dalam sel taha­nan pada April 2018 sekitar pukul 17.00 WIT.

Tindak pidana itu terbongkar, berawal ketika Gerald menghubungi Andre Leatemia alias Bisot melalui aplikasi messenger untuk mengata­kan, bahwa ia sementara berada di dalam sel tahanan Lapas Klas IIA Ambon. Gerald juga ber­pesan kepada Bisot, jika ingin membeli sabu dapat dibeli melalui ter­dakwa.

Kemudian terdakwa memberikan nomor handphone terdakwa yang bisa dihubungi oleh Bisot. Lalu Bisot memberitahukan hal tersebut ke­pada pihak BNN Maluku.

Petugas BNN kemudian memerin­tahkan Bisot untuk melakukan undercover buy (pembelian terselu­bung) dengan terdakwa.

Kemudian pada Selasa, 24 April 2018 sekitar pukul 17.00 WIT, Bisot menghubungi terdakwa melalui HP dan mengirimkan SMS, kalau ia ingin membeli sabu sebanyak 0,5 gram, yang biasanya terdakwa jual dengan harga Rp 1,5 juta.

Lalu terdakwa mengirim nomor rekening BCA atas nama Ardi Septio. Kemudian Bisot mentransfer uang Rp 1,5 juta ke rekening tersebut. Selanjutnya pada pukul 20.30 WIT, terdakwa mengirimkan SMS dan menjelaskan di mana paket sabu tersebut akan diletakkan. Ia memakai istilah, peta jatuh.

Terdakwa kemudian mengirim SMS yang menjelaskan, kalau paket sabu itu diletakan di tiang lampu seberang jalan Rumah Makan Jawa Timur, dan ditempel dengan selotip hitam.

Bisot lalu bersama dua orang ang­gota BNN bergegas menuju ke lokasi yang disampaikan oleh ter­dakwa, dan mereka menemukan satu paket sabu. Petugas BNN kemudian bergerak ke lapas dan menangkap Gerald.

Terdakwa Gerald saat ini sedang menjalani putusan Pengadilan Ne­geri Ambon Nomor: 111/Pid.Sus/2018/PN.Amb tanggal 4 April 2018, yang menghukumnya lima tahun penjara dan denda Rp 1 miliar sub­sider tiga bulan kurungan. (S-49)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *