Ambon,Siwalima – para pedagang yang melakukan aksi demonsterasi di Balai Kota Ambon sampai saat ini masih terus melakukan aksi mereka, Senin (15/6).

Bahkan mereka mengancam akan bermalam di Balai Kota Ambon jika Walikota Richard Louhenapessy tak menemui mereka untuk mendengar keluhan para pedagang.

“Kalau walikota tidak datang temui kita, maka pedagang dan kita mahasiswa semua akan tidur di halaman depan kantor walikota,” teriak salah satu orator Himpinan Mahasiswa Islam (HMI) dalam aksi tersebut.

Ditegaskan, HMI adalah represenatasi dari rakayat, untuk itu mereka minta walikota untuk turun mendegar keluhan dari para pedagang kecil ini.

“Kami juga minta Perwali Nomor 16 dihapus karena menyengsarakan rakyat bahkan menindas katong,” ucapnya.

Baca Juga: Pemprov Belum Terima Rencana Tata Ruang Kebakaran Ongkoliong

Ia berharap, jangan ada kepentingan dibaliks emua ini baru berbuat baik kepada rakyat, namun saat pandemi biking susah rakyat dengan banyak aturan.

Sementara itu, Nurjana perwakilan dari para pedagang dalam orasinya menegaskan, kebijakan yang dibuat Pemkot Ambon dapat membunuh masyarakat.

“Kebijkan yang dibuat oleh walikota jangan semena-mena atas Pedayang,” teriaknya.

Ditegaskan, kedatangan masyarakat karena mereka merasa ditindas atas kebijakan yang diambil pemkot. Pedagang Pasar Mardika datang ke sini untuk melakukan aksi damai tidak ada aksi apapun .

“Kita datang ke Kantor Walikota Ambon karena dibuat sengsara oleh kebijakannya. Walikota hanya menguntungkan kalangan atas seperti pengusaha-pengusaha besar,” tandasnya.

Sementara itu, Koordinator Pasar Nurdin dalam orasinya mengatakan, para pedagang sebagai masyarakat kecil hanya mencari keadilan, sebab tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Satpol PP selalu melakukan tindakan yang bukan persuasif.

“Katong adalah manusia yang ditindas dan covid-19 adalah suatu kepentingan yang sangat besar bagi para pejabat,” cetusnya.

Untuk itu, ia minta agar Walikota Ambon Richard Louhenapessy turun untuk melihat setiap keluhan para pedagang.

“Relokasi bagi pedagang pasar apung yang berada di Pasar Passo kita minta untuk ditiadakan.

Kami pedagang di  pasar apung  tidak mau pindah ke Passo, kami minta walikota untuk melihat hal ini,” teriaknya.

Amina pedagang lainnya juga mengungkapkan, setiap hari mereka harus membayar retribusi Rp 6 ribu, sehingga jika dipikir-pikir uang retribusi itu dikemanakan.

“Katong seng mau dipindahkan ke Passo karena melihat jarak yang ditempuh untuk ke sana sangat jauh, kebijkan pemerintah harus berimbanga kepada masyarakat kecil.

Untuk diketahui dalam aksi tersbeut juga, para pedagang minta agar jam operasional di pasar ditambah, sebab mereka merasa ada ketidak adilan yang dibuat pemkot bagi mereka.

“Untuk Alfamidi dan Indomaret dibuka sampe 24 jam  di semua gerai mereka yang ada di setiap kecamatan, katong dibuat seng adil kaya bagini,” teriak para pendemo.

Aksi para pedagang dan mahasiswa sampai dengan berita ini dipublikasikan masih melakukan orasi secara bergantian sambil menunggu Walikota Ambon Richard Louhenapessy menemui mereka. (Mg-5)