AMBON, Siwalimanews – Penyelidikan kasus dugaan penculi­kan Muhammad Syahrul Wadjo harus tetap dilakukan.Terlalu prematur jika menyimpulkan, kader HMI ini tidak diculik.

Apalagi pernyataan Syahrul ber­belit-belit. Awalnya mengaku diculik, setelah itu berkata lain.

“Jadi dalam kasus begini, kalau me­mang ada dugaan kuat bukan pencu­likan, harus betul-betul teruji,” kata Aka­demisi Fakultas Hukum Unpatti, George Leasa, Minggu (6/9).

Syahrul memang mengaku tidak diculik tetapi kata Leasa, informasi yang berkembang awal berbeda.

“Ini akan ada laporan, berarti polisi harus mencari dan menemukan barang bukti   sehingga bisa menyatakan itu tin­dak pidana atau tidak,” ujarnya.

Baca Juga: Hari ini, Plt Kadis Pendidikan SBT Diperiksa

Karena itu, menurut Leasa, terlalu prematur jika menyimpulkan bukan ka­sus penculikan. Harus dilakukan penye­lidikan lebih lanjut. “Bagi saya itu terlalu prematur, dinyatakan bukan penculi­kan,” tandasnya.

Akademisi Hukum IAIN Ambon Nasa­-­ruddin Umar juga meminta pihak kepo­li­-sian mengusut tuntas kasus tersebut.

Nasaruddin mengaku bingung. Se­bab, ada perubahan pernyataan dari korban. Pertama, Syahrul Wadjo menga­ku penculikan atas dirinya ada kaitan­nya dengan aksi demonstrasi yang dilakukan oleh Aliansi Rakyat Peduli Rakyat (ARAK) di Kantor Gubernur Maluku. Namun kemudian dia mengaku bahwa tidak diculik.

“Pernyataan humas itu awalnya kan dia akui. Iya dia diculik karena demo, ada pemukulan. Cuma kenapa ada peru­bahan pernyataan?,” ujarnya.

Menurutnya, keterangan korban yang berubah-ubah adalah hal yang aneh. Selain itu, pihak kepolisian harus­nya tidak boleh mempubli­kasikan hasil penyelidikan. Ini hal yang tidak lazim. “Seharusnya kalau mau profesional, pihak kepolisian melakukan penyelidi­kan secara tuntas. Pertama, mencari pe­la­kunya dulu. Pelakunya adalah mereka empat orang itu. Itu harusnya dicari dengan tuntas dulu, lalu dilakukan investigasi. Baru bisa mengetahui motif. Sampai hari ini kan kita tidak tahu motifnya. Untuk mengetahui motif, tentu mereka harus dihadirkan,” kata Nasaruddin.

Nasaruddin mengatakan, pernyataan korban yang mengaku tidak diculik tidak harus langsung dibenarkan begitu saja. Persitiwa tersebut harusnya diselidiki lebih dalam. “Jangan karena korban bilang itu bukan penculikan, lalu kita serta merta bilang ini bukan penculikan, tidak ada kaitannya dengan demo. Rangkaian peristiwa itu kan harus diurai. Apa ke­pentingan empat orang itu sama korban, siapa mereka, apa latar belakang mereka lakukan itu,” ujarnya.

Menurutnya, polisi mestinya meng­hadirkan sebanyak mungkin fakta atau keterangan informasi. Polisi tidak boleh mengklaim hanya satu fakta, tanpa melakukan penyelidikan lebih lanjut. “Periksa CCTV yang bisa dimung­-kin­kan, atau mungkin harus lacak mobil­nya. Rancangan fakta harusnya kan diurai, dihubungkan satu sama lain. Biar kita bisa tahu motif apa yang terjadi dalam peristiwa ini, dan tindak pidana apa yang mereka lakukan,” ujarnya.

Nasaruddin melanjutkan, jangan terburu-buru mengambil kesimpulan. Ia menghargai penyelidikan. Hanya saja, ia menilai penyelidikan tersebut tidaklah mendetail.

“Seharusnya empat pelaku itu harus dicari dulu. Jangan serta merta bilang ini bukan penculikan. Apa kemudian pengakuan korban bisa dijamin tanpa ada tekanan?. Penyelidikan bersangkutan kan tertutup tanpa didampingi pengacara,” katanya.

Nasaruddin meminta publik tidak percaya begitu saja atas kesimpulan tersebut. Kasus ini perlu dikawal. Netralitas korban juga perlu dijaga. Bisa saja, korban dalam posisi sulit menyam­paikan apa adanya. “Jangan sampai kemudian, datanya tidak netral karena psikologisnya terganggu,” ujarnya.

Nasarudin menambahkan, seorang mahasiswa seperti Syahrul, bisa melakukan kontrol sosial, bahkan agen perubahan sebagaimana diatur dalam UU Kepemudaan Nomor 40 tahun 2009.

“Dalam situasi Maluku yang sudah kondusif seperti ini keteladanan dan kenegarawanan pimpinan daerah sangat dibutuhkan untuk mengembangkan kehidupan demokratis dan menjaga ketentraman dan ketertiban masyarakat di Ambon dan di Maluku secara keseluruhan, dengan jiwa dan keteladanan itulah masyarakat akan merasa diayomi dan disayangi oleh para pemimpinya” ujarnya.

Diculik OTK

Seperti diberitakan, Muhammad Syahrul Wadjo, yang menjadi orator saat aksi demo di Kantor Gubernur, Rabu (2/9), diculik sekelompok orang tidak dikenal di kawasan Poka, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon.

Aksi penculikan itu terjadi Rabu malam, tak jauh dari Sekretariat HMI Ekonomi Universitas Pattimura.

Sejumlah rekan korban kepada Siwalima, menuturkan penculikan itu terjadi saat Syahrul sementara melakukan pembicaraan dengan seseorang lewat telepon seluler, tak jauh dari Sekretariat HMI Ekonomi sekitar pukul 22.30 WIT.

“Kita banyak di depan sekretariat, tiba-tiba dua mobil pribadi warna hitam muncul dan langsung menculik Syahrul yang sedang menelepon seseorang,” kata Fadel Rumakat.

Dia menuturkan, kelompok penculik tersebut membawa sebilah parang dan menodong korban. Saat itu, Fadel mendengar Syahrul teriak minta tolong. “Beta minta ampong, jang potong beta,” kata Fadel menirukan teriakan Syahrul.

Tak hanya dirinya yang melihat kejadian itu, sejumlah temannya juga melihat kejadian penodongan itu. Selanjutnya, korban langsung dibawa dengan mobil.

Fadel dan teman-temannya tidak kuasa mengejar mobil tersebut. Pasalnya, salah seorang dari kelompok penculik itu mengancam mereka dengan sebilah parang.

Pun mereka tidak bisa mengenali wajah para pelaku, karena mereka semuanya menggunakan masker dan topi. Selain itu, karena lampu mobil diarahkan ke mereka. “Jadi kami tidak tahu siapa pelaku,” kata Fadel lagi.

Ada Hubungan dengan Demo

Saat diperiksa penyidik Satreskrim Polresta Ambon dan Pulau-pulau Lease, Kamis (3/9), Syahrul Wadjo, mengaku, kalau penculikan dirinya ada kaitannya dengan aksi demonstrasi yang dilakukan oleh Aliansi Rakyat Peduli Rakyat (ARAK) di Kantor Gubernur Maluku, Rabu (2/8).

“Dari pengambilan keterangan, me­-nurut korban ada kaitanya dengan mate­-ri demo di kantor gubernur,” kata Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Roem Ohoirat, kepada wartawan saat men­-dam­pingi Wakapolda Maluku, Brigjen Jan de Fretes ketika melihat langsung kondisi korban di Mapolresta Pulau Ambon.

Syahrul juga mengaku mengalami kekerasan yang dilakukan oleh para penculik. “Yang bersangkutan mengakui dipukul satu kali di belakang kepala. Untuk jumlah pelaku dia tidak bisa memastikan, namun terdapat beberapa orang yang saat itu dilengkapi dengan alat tajam berupa parang,” jelas Ohoirat.

Ditanya lebih jauh, Ohoirat mengaku belum bisa banyak berkomentar, karena proses pemeriksaan dilakukan.

Bentuk Tim Khusus

Ohoirat mengungkapkan, kasus penculikan kader HMI Syahrul Wadjo mendapat perhatian khusus dari Kapolda Maluku, Irjen Baharudin Djafar.

Kapolda telah menginstruksikan untuk membentuk tim khusus mengusut tuntas  penculikan tersebut.

“Kasus ini jadi atensi, perintah bapak Kapolda untuk bentuk tim dari Polresta yang akan diback up oleh Ditkrimum Polda Maluku. Tadi Dirkrimum sementara berada di luar kota juga diperintahkan untuk kembali ke Ambon untuk kawal kasus ini,” jelasnya.

Untuk menggarap data dan bukti-bukti penculikan itu, sejumlah personil diturunkan ke tempat kejadian perkara, kawasan Desa Poka, Kecamatan Teluk Ambon.

“Anggota saat ini sudah di kawasan Teluk Ambon untuk mengumpulkan data terkait kasus ini, prinsipnya anggota sementara bekerja dan penyelidikan sementara berlanjut,” ujar Ohoirat.

Syahrul Wadjo yang menjadi salah satu orator dalam aksi demo di Kantor Gubernur Maluku pada Rabu (2/9), mendatangi Polresta Ambon sekitar pukul 11.00 WIT dan langsung menuju ruang SPKT untuk membuat laporan.

Usai membuat laporan Syahrul yang ditemani belasan kader HMI Kota Ambon, digiring ke Satreskrim Polresta Ambon guna diambil keterangan. Selain Syahrul, terlihat pula beberapa rekannya juga diperiksa sebagai saksi.

Pemprov Tangkap Pelaku

Pemprov Maluku mendesak Polda Maluku segera menangkap pelaku penculikan kader HMI, Syahrul Wadjo.

“Kita mendesak polda menangkap pelakunya, agar jangan ada yang bermain, saling baku curiga dan segala macam-macam, mudah-mudahan cepat tertangkap pelakunya dan motifnya,” ujar Sekda Maluku, Kasrul Selang kepada wartawan di ruang kerjanya, Kamis (3/9).

Kasrul mengaku dirinya bersama Kepala Kesbangpol, Habiba Saimima ke Polda Maluku untuk melakukan koordinasi agar penanganan kasus penculikan itu diusut dituntaskan. “Kita serahkan ke polisi saja, jangan kita berspekulasi,” tandasnya.

Kasrul mengatakan, pemprov tidak bisa menganalisa motif dibalik penculikan Syahrul Wadjo.

“Kita tidak bisa menganalisa, walaupun dari pengakuan korban dirinya diculik,  karena materi demo, kita serahkan ke polisi saja, jangan kita berspekulasi,” tandasnya

Ngaku tak Diculik

Anehnya, setelah pemeriksaan lan­-ju­tan oleh penyidik Satreskrim, Syahrul justru mengaku dirinya tidak diculik.

Pernyataan itu diungkapkan Syahrul saat dihadirkan dalam konferensi pers di ruang command center Polresta Ambon, yang dipimpin Kapolresta, Kombes Leo Surya Nugraha Simatupang, didampingi Kabid Humas Polda Maluku Kombes Roem Ohoirat, Jumat (4/9).

“Peristiwa penculikan seperti yang beredar tidak benar alias hoax, saya tidak diculik saya dikeluarkan secara baik baik,” ungkap Syahrul.

Syahrul menjelaskan kronologis, saa itu dirinya hendak menuju ke Sekterariat HMI Komisariat Fakultas Ekonomi Unpatti bersama dua rekanya yakni Fahmi dan Haikal.

Saat berada di depan sekretariat, Syharul melihat sebuah mobil mencurigakan yang mendekat, sehingga dirinya menyuruh kedua temanya itu untuk lebih dulu ke sekretariat.

Selanjutnya mobil mencurigakan tersebut berhenti dan terlihat dua orang yang turun dan langsung menggiring dirinya ke dalam mobil.

“Saat dimasukan ke dalam mobil, sudah ada dua orang di dalam mobil, salah satu diantaranya saya kenali karena pernah ke sekretariat sekitar 3 tahun lalu dan mereka mengakui sebagai kader HMI,” ujar Syahrul.

Syahrul mengaku, dirnya dibawa ke Passo dan diinterogasi di sana. Kedua orang ini mengungkapkan kekesalan mereka atas orasi Syahrul di Kantor Gubernur. “Mereka menyampaikan kekecewaan terkait narasi saya saat demo, bahasa itu seakan-akan mereka marah, karena bertujuan ke Gubernur Maluku yang merupakan orang Jazirah dan saya diminta untuk minta maaf ke pak gubernur,” jelasnya.

Usai diinterogasi, kata Syahrul, dirinya diperlakukan secara baik baik, bahkan ia diajak makan sebelum akhirnya diturunkan di kawasan bundaran Patung Leimena sekitar pukul 00.00 WIT.

Disana Syahrul bertemu salah satu kenalan dan diminta untuk diantarkan ke sekretariat. Namun saat tiba di depan gapura pemda 3,  ia bertemu dua rekannya yang menghadang perjalannya ke sekretariat dengan alasan ada polisi di sana.

Mendengar penjelasan dua rekannya itu, ia kemudian pergi dan menginap di salah satu rumah seniornya. “Saya niatnya mau ke Sekretarita HMI, namun saat dengar polisi saya lari, Saya kira akan ditangkap karna aksi saya di Kantor Gubernur,” ujarnya.

Keterangan yang disampaikan Syahrul ini bertolak belakang dengan keterangan awal saat ia diperiksa. Polisi penilai, keterangannya berbelit-belit.

“Setelah kejadian polisi lakukan rekonstruksi, dan kita cek posisi HP korban, hasilnya di jam 12 itu korban berada di kawasan patung Leimena, sementara di keterangan awal, korban mengaku dipulangkan jam 06.00 pagi, nah ini membingungkan, ada beberapa keanehan dari keterangan Syahrul yang perlu kita telusuri,” ujar Kapolresta Kombes Simatupang kepada wartawan.

Dari keterangan Syahrul, penyidik akan mendalami dan melakukan pengembangan lebih lanjut. “Kita masih selidiki dua orang yang ada bersama dengan korban saat berada di dalam mobil, kesulitanya korban hanya mengetahui nama, sementara marga dan tempat tinggal korban tidak tahu. Prinsipnya kita dalami, masih banya fakta-fakta yang masuk materi penye­-lidikan, sehingga belum bisa kita sam­-paikan secara terperinci pada kesem­patan ini,” jelasnya. (Cr-2/Cr-1)