Polisi Pantau Medsos

Sasaran Utama, Penyebar Hoax Gempa

AMBON, Siwalimanews – Polda Maluku terus memantau penyebaran berita hoax di media sosial terkait gempa  bumi yang meresahkan masyarakat.

Pasca gempa magnitudo 6,8 SR yang menghantam Kota Ambon, Kabupaten Malteng dan Kabupaten SBB, pada Kamis 26 September banyak sekali berita hoax tersebar di facebook.  Para pelaku penyebaran sementara dikejar polisi.

“Kita sedang kejar itu dan hasil identifikasi, pelaku penyebar berita hoax berada di Jakarta bukan di Maluku,” tegas Kapolda Maluku, Irjen Royke Lumowa kepada warta­wan usai gelar doa bersama untuk Maluku yang berlangsung di kediamannya, Tantui, Sabtu (12/10)

Kapolda mengatakan, pasca gempa 26 September lalu, banyak sekali berita hoax yang membuat masyarakat resah. Sebagian besar akun hoax sudah diblokir oleh tim Cyber Ditreskrimsus Polda Maluku, sehingga berita hoax tidak menyebar ke masyarakat.

Namun, ada dua akun yang lolos menyebar berita hoax di medsos,  yaitu soal tanggal 9 Oktober akan terjadi gempa besar disertai tsunami. Satunya lagi soal hasil foto satelit 3 dimensi, posisi Ambon Lease tepat di atas tubir jurang palung laut paling dalam di dunia. Jika longsoran atau patahan terjadi maka Pulau Ambon Lease, Seram dan sekitarnya ikut patah atau longsor masuk  ke dalam jurang palung laut berkilo-kilo di dasar laut.

“Berita-berita itu tidak benar dan menimbulkan keresahan bagi masya­rakat sehingga kita sedang memburu pelakunya,” tegas kapolda.

Kapolda mengaku sudah menu­gas­kan Ditreskrimsus untuk melacak dan menangkap pelaku penyebar hoax tersebut.

“Itu segera ditangkap apabila su­dah cukup bukti. paling lambat satu minggulah pelaku sudah bisa di­tangkap dan dijerat sebagai ter­sang­ka,” tegasnya lagi, sembari menam­bahkan, pelaku akan dijerat dengan UU Informasi dan Transaksi Elektro­nik.

Direktur Reskrimsus Polda Ma­luku,  Kombes Firman Nainggolan juga menambahkan, hasil pelacakan, pelaku penyebar hoax berada di Jakarta.

“Akun facebook yang dipakai menyebarkan berita bohong itu me­rupakan akun palsu dan hasil pela­cakan kita pelaku berada di Jakarta. Kita juga masih terus mendalami termasuk mereka yang membagikan ke media sosial,” ujar Nainggolan.

Penjelasan BNPB

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Agus Wibowo mene­gaskan, berita yang disebar di face­book bahwa posisi Ambon Lease tepat di atas tubir jurang palung laut paling dalam di dunia, sehingga Pu­lau Ambon Lease, Seram dan seki­tar­nya akan ikut masuk  ke dalam ju­rang jika terjadi patahan, adalah hoax.

“Gambar batimetri yang diedit sedemikian rupa dan diberikan kete­rangan seakan-akan ilmiah, tetapi bertujuan untuk menyebarkan keta­kutan kepada masyarakat,” kata, Agus Wibowo, dalam rilisnya yang diterima wartawan, Sabtu (12/10).

Wibodo mengatakan, berdasarkan  penjelasan ahli tsunami BNPB Abdul Muhari,  gambar tersebut bu­kanlah foto satelit 3D, karena satelit tidak bisa membuat foto dasar laut apalagi hingga kedalaman 7 km di bawah permukaan laut.

Gambar tersebut hanyalah data batimetri biasa (tersedia banyak di internet), yang kemudian diberi efek ketinggian dan kedalaman yang lebih signifikan seakan-akan data ini baru, padahal data ini adalah data lama dan data biasa saja.

“Ahli tsunami Muhari, menyam­pai­kan bahwa asumsi jika terjadi gempa dari palung Banda akan menyeret Pulau Ambon dan Seram adalah tidak benar. Belum ada dalam sejarah gempa dan tsunami di dunia ada gempa yang menghilangkan satu pulau sebesar Ambon, apalagi sebesar Pulau Seram,” tegas Wibowo.

Terkait dengan sebuah penelitian potensi patahan palung Banda oleh Jonathan M. Pownal Gordon S. Lister dan Robert Hall, ia menyam­pai­kan bahwa penelitian tadi telah dipublikasikan pada 2016.  “Jadi bukan yang baru saja dipublikasi­kan,” tegasnya.

Penelitian tersebut tidak memba­has sama sekali mengenai potensi tsunami atau potensi gempa yang bisa menyeret Pulau Ambon dan Seram.

“Bahkan, dalam hasil penelitian tersebut sangat jelas disebutkan bahwa tidak ada bukti bahwa seg­men palung Banda tersebut adalah segmen seismik aktif. Jadi jika ada berita atau tulisan yang mengkaitkan hasil penelitian tersebut dengan prediksi-prediksi kejadian gempa atau tsunami yang akan terjadi di Ambon maka itu adalah hoax,” ujar Wibowo.

Sehubungan dengan berita viral yang beredar di media sosial, jejaring sosial digital maupun dari mulut ke mulut, masyarakat diimbau untuk tidak terpancing terhadap berita palsu tadi. Berita seperti ini sengaja ditimbulkan untuk menimbulkan rasa khawatir, panik dan takut di tengah-tengah masyarakat.

“Masyarakat diharapkan untuk mengecek informasi resmi potensi bahaya dan parameter gempa atau tsunami dari sumber resmi seperti BMKG, BNPB atau pun BPBD setempat untuk menyikapi berita atau informasi yang tidak benar,” tandasnya. (S-39)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *