Polisi Lacak Aset Nirahua

Diduga Dibeli dari Uang Hasil Pembobolan BNI

AMBON, Siwalimanews – Ditreskrimsus Polda Maluku mengendus sejumlah aset milik Danny Nirahua yang diduga dibeli oleh Faradiba Yusuf.

Pelacakan aset suami Faradiba ini sementara dilakukan oleh tim penyidik, diantaranya rumah di kawasan Citraland, Lateri dan mobil.

Tak hanya itu, penyidik juga akan menelusuri perkara-perkara baik korupsi, perdata maupun pidana umum yang selama ini ditangani oleh Danny Nirahua di pengadilan.

“Bukan hanya aset Faradiba yang dilacak, tetapi aset suami­nya juga Danny Nirahua ikut dilacak, termasuk perkara-perkara yang dia tangani sebagai peng­acara,” kata sumber di Polda Ma­luku, kepada Siwalima, Selasa (3/12).

Sumber itu mengatakan, penelu­suran perlu dilakukan untuk mem­bandingkan, apakah pendapatan yang diperoleh Danny dari jumlah perkara yang ditangani, seimbang dengan aset-aset yang dimilikinya ataukah tidak.

“Ini kan ada dugaan TPPU, maka­nya harus telusuri aset-asetnya ju­ga. Informasi ada rumah di Citraland dan juga mobil, semuanya akan kita lacak,” ujarnya.

Sumber itu juga mengatakan, Danny akan dipanggil lagi untuk diperiksa, karena keterangannya masih dibutuhkan.

“Sudah masuk daftar agenda pemeriksaan, tinggal dipanggil untuk diperiksa saja,” jelasnya.

Sebelumnya Danny diperiksa selama dua hari berturut-turut, Selasa (22/10)-Rabu (23/10). Namun hingga kini statusnya masih seba­gai saksi. Padahal penyidik sudah mengantongi bukti-bukti dugaan keterlibatannya.

Sementara Direktur Reskrimsus Polda Maluku, Kombes Firman Naing­golan yang dikonfirmasi enggan menjawab telepon.

Jadi Anak emas

Berbagai kalangan menilai,  Danny Nirahua menjadi anak emas Ditres­krimsus Polda Maluku.  Suami  Fa­radiba Yusuf ini belum juga ditetap­kan sebagai tersangka.

Sebagai pemilik 8 rekening penam­pung yang diduga hasil kejahatan Faradiba, tak logis Danny masih dibiarkan bebas. Sementara Soraya Pellu, kakak angkat Faradiba yang hanya memiliki satu rekening pe­nam­pung buru-buru ditetapkan sebagai tersangka dan langsung ditahan.

Dalam pengusutan penyidik Dit­reskrimsus mengungkap 9 rekening di BNI yang digunakan Faradiba untuk menampung uang nasabah yang dijarah.

Dari 9 rekening itu, 8 diantaranya atas nama Danny. Satunya lagi atas nama Soraya Pellu, kakak ang­kat Faradiba.

Delapan rekening atas nama Dan­ny masing-masing; 3 rekening di KCP AY Patty, 3 di KCP Mardika dan 2 lagi di BNI Cabang Utama Ambon atas Kantor Advokat Danny Nira­hua.

Selain 8 rekening penampung, Danny juga menikmati sejumlah mobil mewah yang diduga dibeli oleh Faradiba. Misalnya, Alphard seri G bernomor polisi AD 8686 OP, Mitshubisi Pajero Sport tahun 2018 nomor polisi DE 5 NF dan Honda HRV tahun 2019 nomor polisi DE 12 MP. Ketiga unit mobil itu telah disita dan diamankan di halaman Kantor Ditreskrimsus Polda Maluku.  Ada apa dengan Ditreskrimsus Polda Maluku, sehingga Danny belum dijerat?

Akademisi Hukum Unidar, Rauf Pellu mengatakan, Danny Nirahua memiliki peran yang besar dalam kasus pembobolan BNI 46 Ambon, sehingga ia sudah harus dijerat.

“Ini kan disayangkan. Kalau yang memiliki satu rekening saja sudah langsung ditetapkan tersangka dan ditahan, kenapa DN yang memiliki sekitar delapan rekening belum juga ditetapkan tersangka,” tandas Pellu, kepada Siwalima, Rabu (6/11).

Kasus pemboboloan BNI Ambon sudah menjadi rahasia umum, dan siapa Danny Nirahua dan peran­nya sudah terurai di publik. Karena itu, ia harus segera ditetapkan sebagai tersangka.

“Hukum ini kan tidak boleh pan­dang bulu,  equality before the law. Hukum tidak boleh belok-belok. Ini ada apa,” ujarnya.

Praktisi Hukum Djidon Batmo­molin meminta Ditreskrimsus kon­sisten. Jangan mudah diintervensi, sehingga mengganggu penanga­nan kasus pembobolan BNI Ambon.

“Kasus ini sudah jelas, karena itu suami tersangka, DN harus ber­tanggung jawab. Ia harus tersangka, jika tidak akan menjadi preseden buruk.  Masa yang memiliki satu rekening saja langsung ditetapkan tersangka dan ditahan, tetapi punya delapan tidak dijerat,” tandasnya.

Hal yang sama juga disampai­kan Koordinator Moluccas Demozrati­zation Watch, M. Ikhsan Tualeka. Ia meminta polisi bekerja pro­fesional, dan menetapkan siapa saja yang punya peranan sebagai tersnagka.

“Jika peran yang dimainkan satu tersangka dan ditetapkan sebagai tersangka, kemudian modus yang sama juga dilakukan oleh pihak lain, mestinya pihak itu harus diper­la­ku­kan sama secara hukum. Untuk memastikan bahwa hukum berlaku  sama terhadap semua orang dan tidak ada yang kebal hukum.,” tan­das Tualeka..

Hal ini juga untuk menghindari spekulasi dan kesimpulan publik bahwa kepolisian dalam menangani kasus ini tidak fair. (S-27)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *