NAMLEA, Siwalimanews – Pisang bertandan empat, geger­kan masyarakat Desa Ubung, Ke­camatan Liliyali, Kabupaten Buru, Senin (15/2).

Pohon pisang ajaib itu, tumbuh di pekarangan milik ibu Eda Ruaida Trenggano di Desa Ubung, Keca­matan Liliyali, Kabupaten Buru.

Pemilik pohon pisang ajaib Eda Ruaida Trenggano kepada warta­wan menuturkan, pohon pisang tersebut ditanam oleh adik sepupu­nya di dekat sumur pekarangan belakang rumahnya.

“Awalnya saat tumbuh seperti halnya pohon pisang pada umum­nya, tidak ada keanehan dengan pisang itu,” jelas Trenggano.

Namun setelah tinggi pisang mencapai ukuran 1,5 meter, dari pucuk tunasnya keluar dua cabang. Keanehan itu terus terjadi setelah pohonnya mencapai ketinggian sekitar 1,8 meter, saat itu keluar lagi tandan di setiap pucuk tunasnya.

Baca Juga: Besok atau Lusa GPM Miliki Ketua Sinode

“Lebih aneh lagi, pada pucuk tunas yang lebih rendah ada tiga tandan kembar, sehingga tandan yang keluar dari pisang bercabang itu ada empat,” jelas Trenggano.

Sementara itu tetangga pemilik pohon pisang ajaib, Abdul Wahab Umasugi mengaku, sebelumnya induk pisang ini juga bercabang dua dan hanya bertandan dua. Tapi anaknya kini bertandan empat.

“Tandan pisang ini baru berusia dua bulan. Untuk dapat dipanen harus capai tujuh bulan, karena itu warga di Ubung sebut pisang jenis ini dengan sebutan pisang tujuh bulan,” ucapnya.

Sejak mengetahui ada pisang ajaib ini, warga Desa Ubung mulai ber­datangan dan menyaksikan sendiri dari dekat. Bahkan, karena keunikan pisang ini membuat sebagian masyarakat penasaran. Pisang ini pun jadi tontonan yang menarik bagi masyarakat.

Salah satu warga Buru Abdul Wahab mengaku, ia hampir setiap hari datang melihat pisang ajaib dan unik ini, sebab ia penasaran dengan  pisang yang memiliki empat tandan.

“Penasaran saja, biasanya kan satu batang pisang, satu tandan. Ini ada empat, ya unik dan ajaib memang,” katanya.

Sementara itu, Staf pada Dinas Pertanian Kabupaten Buru Yati Jarwanto menduga,  keanehan yang muncul pada pisang bercabang dua dan bertandan empat ini, karena memiliki kelainan genetik.

Hal itu terlihat dari batang pohon pisang yang hanya mencapai ketinggian 1,8 meter dan sudah berbuah. (S-31)