NAMLEA, Siwalimanews – Pengolahan emas secara ilegal dengan sistim domping maupun tong dan rendaman yang bahan bakunya berasal dari Gunung Botak di Kabupaten Buru, masih bebas beroperasi.

Ironnisnya lagi, pengolahan emas secara ilegal dengan sistim tong milik Haji Komar yang pernah ditutup dan dipasang garis polisi yang terletak di Desa Wabloy, Kecamatan Lolongquba, masih bebas beroperasi bahkan aktivitansya sudah berlangsung kurang lebih dua bulan.

Sumber terpercaya Siwalimanews di lokasi pengolahan emas ilegal ini menyebutkan, garis polisi yang dulu dipasang oleh Polres Pulau Buru telah dilepas, pasca penanggungjawab pengolahan emas itu yang dikenal bernama Rais Ternate alias Bravo, konon datang ke Mapolres Buru.

Rais yang dikonfirmasi wartawan terkait masih beroperasinya pengolahan emas menegaskan, kalau saat lokasi pengolahan di Desa Wabloy dipasang garis polisi sampai dengan dilepas, ia tidak berada ditempat.

“Saya tidak tahu oknum polisi siapa yang memasang police line dan juga yang membuka police line,” ujar Rais.

Baca Juga: ASN Kanwil Kemenkumham Maluku dapat Penghargaan

Ia juga mengaku, kalau tidak memberikan setoran atau sogokan kepada oknum – oknum di Polres Pulau Buru. Namun ia tidak membantah kalau ada memberikan uang kepada pihak-pihak tertentu, termasuk kepada oknum wartawan.

Sementara itu dikalangan penambang menungkapkan, kalau pengolahan emas dengan sistem tong milik Haji Komar di Desa Wabloy dan domping di puncak Gunung Botak serta sistim rendaman di Sungai Anahoni, diduga dibeking, sehingga tidak tersentuh .

Menyikapi hal tersebut, Kapolres Buru AKBP Egia Febri Kusumawiatmaja, Rabu (11/8) yang dikonfirmasi Siwalimanews melalui pesan WhatsApp perihal sikapnya menindaklanjuti informasi terkait masih beroperasinya pengolahan emas ilegal, tidak menanggapinya.

Bahkan saat dikonfirmasi kembali pada, Kamis (12/8) terkait pengolahan emas secara ilegal dengan sistem tong di Desa Wabloy milik Haji Komar yang masih beroperasi padahal pernah di police line serta alasan apa sampai police line dibuka, lagi-lagi Kapolres tidak menjawabnya.

Paur Humas Polres Pulau Buru, Aiptu Djamaludin yang juga dikonfirmasi Siwalimanews terkait hal yang sama, juga belum menjawabnya.

Pantauan Siwalimanews di lokasi pengolahan tong milik Haji Komar terlihat beroperasi normal diman aktivitas pengolahan menggunakan bahan B3 itu sangat leluasa.

Bahkan terlihat juga truk pengangkut material emas dari Gunung Botak berlalu-lalang. “Matrrial ini punya bos,” ucap salah satu sopir truk yang mengakut material tersebut.

Bahkan para penambang lainnya menduga ada sikap tebang pilih dari aparat keamanan, sebab ada pengolahan emas dengan sistim tong juga yg letaknya hanya beberapa langkah dari tempat pengolahan milik Haji Komar, sampai saat ini  masih terpasang garis polisi dan tidak lagi beroperasi.

Sementara pengolahan dengan sistem domping yang terletak dekat pos puncak Gunung Botak terlihat leluasa beroperasi dan tidak tersentuh oleh aparat kepolisian.

Akibat aktivitas yang diduga dibeking ini, kondisi air di sungai Anahoni dan Sungai Wamsait kini terlihat keruh dan berlumpur. (S-31)