Pengidap HIV Didominasi Penyuka Sesama Jenis

AMBON, Siwalimanews – Data Dinas Kesehatan Kota Ambon menyebutkan, pengidap Human Immunodeficiency Virus (HIV) atau virus yang merusak sistim kekebalan tubuh didomina­si penyuka sesama jenis atau lelaki seks lelaki (LSL) dan ibu hamil.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Ambon, Wen­dy Pelupessy kepada wartawan Rabu (4/12) me­ngatakan, untuk Kota Ambon periode Januari-Okto­ber 2019, terdapat 147 ka­sus baru untuk HIV, dan 39 kasus baru untuk AIDS.

Jumlah ini mengalami penurunan dibandingkan 2017 dan 2018, dimana un­tuk tahun 2017 terdapat 168 kasus HIV dan 37 kasus AIDS, dan tahun 2018  ter­ca­tat 252 kasus HIV dan 34 kasus AIDS.

Menurut Pelupessy, dari 147 kasus, pihaknya sudah mencurigai sejumlah kelom­pok atau populasi sesuai fenomena gunung es. Untuk populasi masya­rakat yang terjangkit kasus HIV ditemui LSL, waria, wanita pekerja seksual (WPS), dan ibu hamil. Rentang usia kelompok ini rata-rata 14-50 tahun ke atas.

“Populasi berisiko itu seperti waria, LSL dan terakhir ini fenomena yang dilihat paling menonjol adalah terjadi peningkatan kasus di LSL, justru lebih tinggi dari yang lain. Dengan begitu populasi mereka yang berisiko juga tinggi. Ada juga ibu hamil,  dan juga WPS,” jelas Pelu­pessy di Balai Kota Ambon, Rabu (4/12).

Meski begitu, Pelupessy tidak meng­hafal jumlah masing-masing kelompok yang terindikasi mengi­dap virus mematikan itu.

Ia menambahkan, untuk kasus HIV sudah mulai terjangkit kepada usia-usia remaja, sehingga perlu adanya penanganan yang khusus untuk mencegah remaja lainnya terjangkit virus yang sama.

Saat ini Dinkes Kota Ambon gen­car sosialisasi di sekolah-sekolah. Dengan begitu, pihaknya, terus gen­car terhadap penemuan kasus terse­but dan juga bekerjasama dengna Yayasan Pelangi. Mengingat kasus HIV dapat lebih mudah tertangani dibandingkan dengan AIDS.

Tak hanya itu Pelupessy menam­bahkan, pihaknya juga melakukan pemeriksaan terhadap pasien de­ngan penyakit TBC. Mengingat penyakit tersebut bisa mengindika­si­kan adanya virus HIV, sehingga harus ada deteksi dini terhadap pa­sien TBC.

“Semua pasien yang datang ke puskesmas batuk-batuk didiaknosa TBC, itu kita wajibkan periksa HIV dan memang ditemukan. Pasien ti­dak tahu ada virus HIV didalam tu­buh­nya. Kita periksa terdapat salah satu yang kita bisa lihat penderita HIV adalah berkaitan dengan TBC,” jelas Pelupessy.

Selain itu lanjutnya, banyak kasus di Kota Ambon dibandingkan deng­an kasus yang ada di kabupaten lain mengindikasikan, seluruh tenaga kesehatan bekerja dengan baik da­lam pendeteksian HIV.

“Disatu sisi kita bersyukur kita bisa menemukan kasus lancar,  te­man-teman kita  gencar di lapangan setiap triwulan. Dimana ditemukan di tempat-tempat beresiko malam. Jadi orang lain tidur, saya punya anak-anak di puskesmas gencar men­cari,” pungkas Pelupessy. (S-40)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *