Pemilihan Rektor Diwarnai Demo

Saptenno Boyong Seluruh Suara Menteri

AMBON, Siwalimanews – Proses pemilihan Rektor Unpatti pe­riode 2020-2024, Ju­mat (18/10) diwar­nai aksi demo pu­luhan mahasiswa FISIP.

Mereka menolak proses pemilihan rek­tor yang digelar di Gedung Student Cen­tre FKIP itu.

Sejumlah spanduk turut dibawa, bertu­liskan Senat Universitas Pattimura in­konstisional, #save senat Unpatti, tolak jadwal pemilihan rektor hari ini!!! #lawan, dan Ambon dijadikan ke­pentingan politis.

Pantauan Siwalima, massa pendemo hendak ke lokasi pemilihan  sekitar pukul 10.40 WIT, namun dihadang oleh para security, se­hingga sempat terjadi ketegangan.

“Kami ini ingin menyampaikan aspirasi kami, kenapa harus meng­hambat kami, jangan-jangan satpam sudah dibayar,”  teriak penanggung jawab demo, Simon Batmamolin.

Tak hanya security, namun massa pendemo juga dihadang oleh Kabag Umum Hukum Tata Laksana dan Milik Negara (UHTLBMN) Unpatti, Robert  Pesuarissa,.

Ia meminta para pendemo tidak mengganggu aktivitas pemilihan saat ini.

“Silakan kalian menyampaikan aspirasinya di sini, tetapi tidak boleh mengganggu proses pemilihan yang sementara berlangsung,” tandas­nya.

Adapun tuntutan dari para pen­demo ini yakni satu, menunda pemilihan Rektor Unpatti periode 2019-2022. Dua,  Menteri tidak punya kebijakan yang prinsipil. Tiga, Ketua senat tidak netral dalam pe­milihan Rektor Unpatti dan keempat, menolak 35 persen suara menteri yang lama.

Lantaran dihadang, para pendemo hanya dapat berorasi kurang lebih 15 menit. Tak lama kemudian mereka langsung membubarkan diri.

Sejumlah aparat kepolisian juga terlihat mengawal ketat aksi de­monstrasi tersebut.

Interupsi

Tak hanya demonstrasi, pemilihan rektor Unpatti juga diwarnai hujan interupsi dari sejumlah anggota senat universitas.

Rapat senat yang dilaksanakan secara tertutup itu dipimpin oleh Ketua Senat Universitas, Salmon Nirahua didampingi Sekretaris Senat Zainudin Notanubun.

Sementara Menteri Ristek Dikti Mohamad Nazir diwakili oleh Agus Indarjo, Sekretaris Direktorat Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti Kementerian Ristek Dikti.

Saat membuka rapat senat, Dekan FISIP Unpatti, Tonny Pariera lang­sung melakukan interupsi. Ia berang dengan kebijakan senat yang ter­kesan terburu-buru melaksanakan proses pemilihan rektor.

“Saya tidak mewakili kepentingan para calon, tetapi kepentingan saya ini mewakili institusi karena institusi ini harus mendapatkan rektor de­ngan cara yang benar, itu saja,” tan­dasnya.

Kata dia, instruksi presiden yang melarang menteri mengambil kebi­jakan strategis ternyata diabaikan padahal pemilihan rektor ini me­rupakan sebuah kebijakan yang sangat strategis.

“Proses ini tidak bisa dilakukan dimasa-masa penantian satu dua hari ini, saya pribadi berkehendak agar proses ini dapat berjalan de­ngan baik, karena siapapun yang menjadi rektor itu tidak akan menjadi masalah,” ujarnya.

Selain itu, Dekan Fakultas MIPA, Pieter Kakisina juga keberatan dengan proses pemilihan karena terkesan tergesa-gesa.

“Pertanyaan rasional saya, surat menteri keluar tanggal 17 Oktober, undangan juga keluar tanggal 17 Oktober dan pemilihan dilakukan tanggal 18 Oktober, rasionalkah dengan rentang kendali yang jauh seperti itu, suratnya belum sampai di Ambon, tetapi proses pemilihan dilakukan, rasionalkah,” tanya Ka­kisina.

Dekan FKIP, Theresia Laurens mengatakan, saat ini masyarakat sementara menonton proses ini dan ternyata telah mempermalukan institusi ini.

“Mohon pertimbangannya ketua senat universitas, Ini lembaga yang sangat terhormat. Mohon dipertim­bangkan matang-matang demi nama baik dan kehormatan Universitas Pattimura bukan untuk kepentingan saya karena saya sudah gugur dan tidak punya kepentingan apa-apa,” tegasnya.

Calon Rektor, Alex Soleman Wellem Retraubun juga memperta­nyakan larangan presiden untuk menteri mengambil kebijakan stra­tegis.

“Kita tidak menganulir surat menteri, yang saya tanyakan proses ini terdefinisi sebagai kebijakan strategis ataukah tidak karena saya melihat di televisi, presiden menge­luarkan larangan kepada menteri untuk tidak mengambil kebijakan strategis,” tegasnya.

Selain itu, Dekan Fakultas Hukum, Rory Akywen berharap agar ketua dan sekretaris senat bijak karena ini pemilihan untuk memilih pimpinan Unpatti empat tahun kedepan.

“Jangan cuma gara-gara satu surat yang tiba-tiba datang bahkan kita semua bertanya-tanya tentang proses ini, lalu mengabaikan yang lain. Saya kira, ini dibicarakan baik-baik agar senat universitas ini punya bobot dan punya kualitas apalagi seorang calon rektor tidak menda­pat­kan undangan, ini kan lucu dan sangat memalukan bagi senat kita jadi berhati-hatilah,” ujarnya.

Akibat hujan interupsi, proses pemilihan molor hingga pukul 16.00 WIT, dari waktu yang ditetapkan pukul 10.00 WIT.

Ketua Senat Universitas, Salmon Nirahua tetap ngotot melaksanakan pemilihan. Ia berala­san, semua tahapan sudah dilapor­kan ke menteri, sehingga bukan terburu-buru.

“Penetapan waktu pemilihan itu ditetapkan oleh menteri dan senat tidak memiliki kewenangan apapun dan jika menteri menyuruh rapat hari ini, apakah kita mengatakan tidak boleh,” ungkap Nirahua, kepada wartawan, usai pemilihan tersebut.

Guru Besar Fakultas Hukum ini membantah, adanya konspirasi dan kongkalikong yang dilakukan oleh dirinya dan panitia bersama dengan menteri untuk memenangkan calon petahana.

“Semua orang boleh berpendapat tentang masalah konspirasi misal­nya tetapi konspirasi dengan siapa? Senat tidak pernah berjumpa de­ngan menteri, dengan orang yang me­nan­datangani surat, tidak ada,” tan­dasnya.

Disinggung soal instruksi pre­siden yang melarang menteri untuk mengambil kebijakan yang bersifat strategis, Nirahua mengatakan, itu hanya menteri dan presiden, karena tidak tertulis kebijakan strategis seperti apa.

Agus Indarjo, Sekretaris Direk­torat Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti Kementerian Ristek Dikti juga membantah adanya kongkali­kong untuk memenangkan calon tertentu.

“Kongkalikong tidak ada, saya sendiri tidak merasa seperti itu. Yang pasti kita sudah bekerja secara prosedural,” tandasnya.

Agus mengatakan, tiga calon rektor sebelumnya sudah dinilai oleh baperjakat dan kemudian dila­porkan ke menteri.

“Jadi semuanya telah berjalan dengan baik, tinggal utusan menteri datang ke Ambon untuk melakukan pemilihan,” ujarnya.

Masuk 100 Besar

Agus Indarjo berharap kedepan Unpatti masuk dalam 100 universitas terbaik di Indonesia.

“Sampai sekarang Unpatti belum masuk 100 besar PT terbaik se-Indonesia, yang baru masuk UI, ITB dan UGM. Unpatti masih masuk dalam klaster III, sehingga ini tantangan agar bagaimana civitas akademika untuk terus meningkat­kan variabel mutu, baik dosen yang cenderung harus didominasi oleh doktor, mahasiswa asing yang studi di sini atau mahasiswa kita yang kuliah di PT asing dan akreditasi yang skalanya global,” katanya.

Agus juga berharap kepada rektor terpilih agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik, karena tugas rektor selain Tri Dharma Perguruan Tinggi mencapai puncak, tetapi bagaimana harmonisasi antar dosen, civitas akademika, mahasis­wa dan karyawan bersama-sama untuk mengelola tri dharma agar bisa berjalan sebagaimana mestinya.

Borong Suara

Petahana Marthinus Johanes Sap­tenno akhirnya unggul dalam pro­ses pemilihan Rektor Unpatti periode 2020-2024.

Saptenno berhasil meraih 77 suara, menyusul Alex Soleman Wellem Re­traubun 25 suara dan Pieter Kakisina dengan enam suara.

Ketiga calon ini memperebutkan 108 suara yang terdiri dari 70 suara anggota senat dan 38 suara menteri. Saptenno memboyong seluruh sua­ra menteri.

Seharusnya jumlah senat Unpatti sebanyak 71 orang, namun Dekan Fakultas Teknik, WR Hetharia izin karena sementara berada di Korea. (S-16)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *