Pegawai Balai Taman Manusela Sekap Warga

MASOHI, Siwalimanews – Oknum pegawai pada Balai Taman Nasional Manusela (TNM) berinisial LS diduga melakukan penangkapan dan penyekapan terhadap sembilan warga Seram Utara sejak 5 Oktober hingga Jumat (9/11).

Penyekapan dan penangkapan itu diduga lantaran tidak berhasil memeras pemilik atau pengusaha  sawmill, Juanda Pacina.

Informasi yang dihim­pun Siwalima di Masohi menyebutkan, dari sembilan warga yang disekap, delapan diantara­nya sudah dibebaskan, sedangkan satu orang masih ditahan.

Ditahannya satu orang tersebut untuk dijadikan tawar menawar dengan pemilik sawmill. Hingga kini tawar menawar yang dilakukan Lukas Sose­lissa yang adalah oknum pegawai Balai TNM belum membuahkan hasil dengan pemilik sawmill alhasil pembebasan satu orang tersebut agak sulit.

Tak hanya ditahan, tapi penyik­saan dilakukan terhadap korban sangat tidak berperikemanusiaan. Korban diikat kemudian disiksa hingga babak belur. Kepada Siwa­lima Juanda Pacina pemilik industri olahan kayu (sawmill) Inaji meng­ungkapkan, dugaan penyekapan terhadap sembilan warga Seram Utara yang dilakukan oknum LS, diketahui dari laporan masyarakat serta keluarga para korban.

Pacina mengaku, dari sembilan orang warga itu, dua diantaranya adalah karyawan sawmill Inaji dan tujuh lainnya pekerja pada PT Kali­san Emas, perusahaan yang berge­rak di bidang hak pengusahaan hutan (HPH).

Meski demikian, Pacina belum melaporkan perbuatan oknum pe­gawai Balai TNM tersebut ke kepo­lisian, dengan alasan masih di luar Maluku. “Saya masih berada di luar Maluku, dalam minggu ini dipastikan laporan polisi akan saya masukan ke Polres Malteng,” kata Pacitan me­lalui telepon seluler Senin (11/11).

Ia meminta Dinas Kehutanan Pro­vinsi Maluku dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) memberikan sanksi keras bagi oknum LS yang dinilai telah serta merta melakukan penangkapan dan penyekapan terhadap warga dengan alasan prematur yang tidak dapat dibenarkan itu.

Pacitan mengatakan, sawmillnya bersama dengan PT Kalisan Emas dituding melakukan ilegal loging di kawasan TNM serta hutan produksi di wilayah Negeri Solea, Seram Utara.  Padahal semua dokumen hukum dan legalitas kerja sesuai perintah un­dang-undang untuk usaha industri kayu yang dibangunnya di Seram Utara legal secara hukum.

“Tamana Nasional Manusela bukan lembaga yang punya kapa­sitas untuk menudingkami ilegal. Lagipula Taman Nasional Manusela tidak punya kapasistas melakukan pengawasan terhadap kami. Kalau toh benar adanya kami butuh bukti, dimana kami melakukan ilegal seperti yang dituding Lukas Soselissa,” kata Pacina.

Ditambahkan, Soselissa telah menuding sawmill dan PT Kalisan Emas menampung dan menerima kayu ilegal untuk diolah. Lantaran merasa tudingan Soselissa ngaur, Pacina meminta aparat kepolisian dan Dinas Kehutanan Provinsi Maluku serta BKSDA Maluku mem­berikan sanksi tegas.

“Lukas Soselissa sudah melaku­kan perbuatan melanggar HAM berat dan menabrak aturan, padahal tugas dan wewenangnya bukan mengawasi hasil-hasil hutan. Ini kan lucu,” tandas Pacina.

Sementara itu, Direktur PT Kali­san Mas, Riky Apitulle menye­salkan penangkapan dan penye­kapan terhadap tujuh pekerjanya di wila­yah HPH miliknya itu. Menurutnya wilayah HPH Kalisan emas sah dan legal secara hukum.

Olehnya jika kemudian petugas kehutanan atau petugas balai mem­persoalkan wilayahnya me­masuki area hutan lindung atau area kon­servasi Taman Nasional Manusela adalah alasan mengada-ada.

“Si Soselissa itu jangan menga­rang atau mengiring opini yang tidak masuk akal karena kepentingannya tidak tercapai. Pemerintah menge­luarkan izin usaha tentu sudah melalui berbagai pertimbangan termasuk area yang aman dan tidak berada dalam wilayah terlarang se­bagaimana perintah undang undang kehutanan. Jadi kalau kemudian ada aktivitas karyawan yang dituduh melakukan penebangan dalam area privat dan dituduh melakukan akti­vitas ilegal. maka bagi kami ini tidak dibenarkan,” ungkap Apatulley.

Apituley mengaku pihaknya sedang terikat kontrak suplay de­ngan industri sawmill Inaji di Wahai. Dimana selama ini pihaknya menyuplay bahan baku dari wilayah HPH kepada pihak Inaji, sehingga jika ada tudingan bahwa aktivitas itu terlarang atau ilegal. maka jelas hal itu keliru dan fatal.

“Tidak ada aktivitas ilegal disana, jangan menuduh tanpa alasan. Kami bisa saja lapor balik. Selain itu kami memang terikat kontrak dengan pihak Sawmill Inaji dan itu legal. Jadi kalau kemudian ada petugas yang datang tanpa koordinasi tanpa surat tugas, surat perintah dan alat hukum lainnya dan melakukan penangkap­an, maka bagi kami ini perbuatan melawan hukum dan cacat prosedur hukum,” tegas Apitulley.

Kepala Balai Taman Nasional Manusela, Ivan Yusti Noor yang dikonfirmasi Siwalima di ruang kerjanya mengakui pihaknya yang memberikan informasi adanya dugaan aktivitas ilegal loging di wilayah hutan produksi yang berada dekat dengan kawasan Konservasi Hutan Taman Nasional Manusela.

“Awalnya kami mendapat laporan dari masyarakat soal adanya aktivitas penebangan di kawasan hutan Taman Nasional Manusela, namun setelah kita selidiki ternyata aktivitas itu tidak dilakukan dalam kawasan hutan Taman Nasional Manusela. Aktivitas itu berada di area hutan produksi atau area penyangga kawasan konservasi. Setelah itu laporan kami buat dan ditangani oleh Gakum Wilayah Maluku Papua yang kebetulan sedang bertugas di wilayah Maluku tengah, khususnya Seram Utara dan selanjutnya di tangani oleh Gakum sampai sekarang,” tandas Noor.

Noor tak terima petugasnya mela­kukan penangkapan atau penye­kapan, sebab semua aktivitas Polhut Balai Taman Nasional dilakukan sesuai prosedur dan dilengkapi de­ngan surat tugas dan surat perintah.

“Tidak ada penyekapan, mereka saat itu hanya dimintai keterangan. Jadi mereka berada di Masohi untuk kepentingan pengambilan ketera­ngan. Jadi kalau dituding melakukan penyekapan juga keliru,” jelasnya.

“Jadi kita patroli dan menemukan adanya aktivitas penebangan yang diduga ilegal. Temuan itu kita laporkan dan ditindak lanjuti oleh Gakum. Dimana tindaklanjutnya dilakukan dengan pengambilan keterangan dari sembilan orang war­ga yang diketahui adalah karyawan sawmill Inaji dan PT Kalisan Emas. Jadi tidak ada penyekapan, yang ada hanya pengambilan keterangan,” kilah Noor.

Noor juga menambahkan, setelah memeriksa sembilan orang saksi itu oleh Gakum satu ditetapkan sebagai tersangka dan kini sedang dititip pada Tahanan Polres Malteng.

“Ini ditangani langsung oleh Ga­kum, dan satu orang kini dite­tapkan sebagai tersangka dan yang ber­sang­kutan sedang dititip pada Ru­tan Polres Malteng,” ungkapnya.

(S-36)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *