AMBON, Siwalimanews – Para pedagang di pasar Mar­dika merasa ditipu oleh Pemkot Ambon. Mereka digusur tanpa sosialisasi yang jelas.

Mereka mengaku mendapat­kan dua kartu, warna merah dan putih dari Dinas Perindag untuk berjualan secara bergilir sebagai upaya untuk  mencegah penye­baran Covid-19. Namun ternyata, pedagang yang memegang kartu itu yang akan digusur.

“Saat undian itu, dong bagikan kartu, ada warna merah dan warna putih. Dong bilang karena PSBB maka berjualan pakai sistem ganjil genap. Misalnya, merah hari ini, besok digiliran pemegang kartu pu­tih yang jualan. Tapi ternyata ujung-ujungnya mau direlokasikan ke Passo, makanya katong seng teri­ma,” kata salah satu pedagang ke­pada Siwalima, di  Pasar Mardika Ambon, Rabu (23/9).

Ia mengatakan, untuk proyek revitalisasi pasar Mardika tak dije­laskan oleh Pemkot Ambon secara transparan. “Seng dibilang, cuma di­berikan kartu merah putih untuk jua­lan ganjil genap,” ujarnya, dengan dialeg Ambon.

Pedagang lainnya mengeluhkan, hingga saat ini mereka belum men­dapatkan nomor untuk menempati lapak di pasar ole-ole Tantui dan pasar transit Passo. Sehingga ba­nyak pedagang masih berjualan di pasar Mardika. “Beta belum dapa nomor undi,” ujarnya.

Baca Juga: Dansat Brimob: Penyemprotan Disinfektan Tetap Dilakukan

Ia mengaku bersama pedagang lainnya sudah diarahkan untuk me­ngambil nomor undian di Kantor Dinas Disperindag yang berada di lantai IV Balai Kota. Namun mereka justru tidak dilayani.

“Katong sudah ke kantor dinas, namun pegawai seng mau layani, de­ngan alasan ada covid. Padahal ka­tong sudah tunggu dari jam 8 pagi. Kantong bingung dengan sikap pe­merintah kota,” ujarnya, yang me­min­ta agar namanya tidak dikoran­kan.

Dirinya kecewa dengan sikap Pemkot Ambon yang mengabaikan para pedagang. Padahal setiap ta­hun pajak dibayar.

“Pedagang yang ada di sini bukan gratis, katong bayar pajak langsung satu tahun full. Desember naik bayar, Desember naik bayar,” tegasnya.

Satu satu pedagang juga menge­luhkan kebijakan Pemkot Ambon yang memindahkan para pedagang ke pasar transit Passo, karena me­ru­gikan mereka. Sebab tempat tinggal mereka jauh dari tempat jualan.

“Sekarang katong tinggal di Wara Stain, lalu katong mau bangun jam 3 pagi atau jam 4 pagi mau lari ke Passo? Ini kan merugikan peda­gang,” ujarnya.

Selain itu, seorang pedagang masker dan dompet, Anggi meng­ung­kapkan pendapatannya akan sangat menurun jika dipindahkan ke Passo.

“Sekarang dengan ada PSBB saja pendapatan suda kecil. Lalu harus pindah di Passo, ini akan semakin sulit,” ujarnya.

Pedagang lainnya juga tidak mau dipindahkan ke Passo, dengan ala­san penghasilan yang didapat pasti kecil. “Passo terlalu jauh, sehingga kalau pindah beta seng mau,” te­gasnya.

Ia meminta pemkot adil. Kalau mau memindahkan pedagang, harus semua. Jangan hanya sebagian. “Ha­rus adil, semua harus pindah,” ujarnya.

Sementara Sekretaris Disperindag Kota Ambon, Janes Aponno yang di­konfirmasi mengatakan, para pedagang justru salah memahami soal pembagian kartu untuk jualan ganji genap.

“Kartu ganjil genap itu kan ber­kaitan dengan social distancing toh apa kaitannya dengan perpindahan pasar? tandas Aponno kepada Siwa­lima, melalui telepon selulernya.

Aponno menjelaskan, kartu ganjil genap itu berkaitan dengan social distancing karena dari kawasan jembatan Batu Merah hinggga pelabukan spead boat sangat padat.

“Tidak ada kaitannya dengan perpindahan pasar, itu orang dia tidak mengerti itu,” tegasnya.

Aponno mengatakan, banyak yang menolak untuk pindah ke Passo, sehingga tidak mengambil nomor undi.

“Itu kan rata-rata tidak mau pindah ke Passo. Nah sekarang sudah terdesak baru ngamuk. Nomor undi sudah dibagi. Bahkan ada juga yang telah dibuat pernyataan, apabila tidak ambil, sampai masuk pasar baru tidak akan diakomodir,” ujarnya.

Soal keluhan pedagang yang ke kantor, namun tak dilayani, Aponno mengatakan, aktivitas di dinas baru dimulai pukul 10.00 WIT.

“Tadi saya sudah ketemu dengan orang-orang itu saya sudah bilang nanti saya punya orang yang turun ke kalian tidak usah naik ke kantor,” tegasnya.

Aponno menambahkan, setiap pedagang hanya diberikan satu lapak. Tidak lebih.

“Berapapun kios yang dia miliki, nanti menempati lokasi yang sudah kita bangun itu maksimal hanya satu,” ujarnya.

Pembongkaran lapak dan kios pedagang di pasar Mardika masih berlangsung hingga Rabu (23/9).

Aponno menjelaskan, pembong­karan akan berlangsung selama satu minggu. Sampai saat ini sebanyak 310 lapak yang telah dibongkar. Dan tidak ada perlawanan dari para pe­dagang. “Tidak ada hal-hal yang signifikan, berarti bahwa kesadaran pedagang kita untuk memiliki pasar yang baru, sudah sangat tinggi,” ujarnya. (Mg-6)