Pantau Gempa Susulan, BNPB Pasang Seismograf

AMBON, Siwalimanews – Badan Nasional Penanggulangan Ben­cana (BNPB) bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) serta Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), memasang 11 seismograf di sejumlah lokasi di Provinsi Maluku.

Pemasangan alat ini untuk me­mantau karakteristik gempa susulan, pasca gempa magnitudo  6,8 SR yang terjadi pada Kamis (26/9)  lalu.

Salah satu wilayah yang dipasang diantaranya, kompleks Stasiun Meteorologi Maritim Ambon di Desa Latuhalat, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, Jumat (18/10).

“Ini adalah alat pencatat gempa. Jadi kita ingin mengetahui aktivitas gempa susulan pasca gempa yang terjadi Kamis 26 September  lalu,” jelas Kasubdit Peringatan Dini BN­PB, Abdul Muhari kepada wartawan disela-sela pemasangan tersebut.

Muhari menjelaskan, seismograf tersebut akan dipasang di 11 lokasi yaitu empat lokasi di Pulau Ambon, empat lokasi di Pulau Seram, satu lokasi di Pulau Haruku dan dua lokasi di Pulau Saparua, Kabupaten Malteng.

Sesuai arahan Kepala BNPB Doni Monardo, pihaknya selain bekerja pada tahapan tanggap darurat juga harus memikirkan langkah-langkah kedepan.

“Kita juga harus melihat dan ber­pikir kedepan kira-kira seperti apa,” kata Muhari.

Pemasangan seismograf, kata Mu­hari, untuk mengetahui secara detail seperti apa aktivitas gempa su­sulan.

“BNPB bekerja sama dengan ITB dan BMKG untuk menaruh alat ini di sejumlah lokasi khusus untuk memantau aktivitas gempa susulan agar bisa tahu proses yang terjadi seperti apa. Apakah ini memang murni energi atau ada hal lain yang harus menjadi perhatian kita ber­sa­ma,” jelasnya.

Muhari mengungkapkan, pema­sangan 11 unit seismograf tersebut diperkirakan akan rampung 10 hari kedepan dan  terpasang selama dua bulan.

“Kita bisa memetakan aktivitas gempa susulam gimana agar upaya mitigasi kita bisa terarah. Jadi ini alat pengukur gempa yang secara lokal yang kita install secara khusus mem­berikan data karakteristik gempa susulan seperti apa karena dampak masih dirasakan masyarakat,” je­lasnya.

Terhitung tiga minggu setelah pe­masangan alat ini, akan diambil datanya. Sehingga diharapkan da­lam satu bulan kedepan bisa ter­ungkap dan dipahami aktivitas gempa susulan di Pulau Ambon dan sekitarnya secara umum.

Muhari menambahkan, jika diban­dingkan dengan yang terjadi di Lom­bok, Nusa Tenggara Barat, ternyata gempa susulan yang terjadi di Provinsi Maluku jauh lebih banyak.

“Kalau kita membandingkan dua bencana ini perbendaannya sangat sifginikan. Gempa susulan di Lom­bok itu sekitar 363 dalam waktu tiga bulan sementara di Maluku tercatat sudah terjadi 1.666 gempa susulan dalam waktu dua minggu,” kata Muhari.

Turut hadir dalam pemasangan seismograf tersebut, Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Geofi­si­ka Ambon Andi Azhar Rusdin, Ke­pala Stasiun Meteorologi Maritim Ambon, Ashar serta Kabid Pencega­han dan Kesiapsiagaan BPBD Pro­vinsi Maluku John M Hursepuny. (S-27)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *