Nirahua Anak Emas Polisi

AMBON, Siwalimanews –  Danny Nirahua men­­jadi anak emas Ditres­krim­sus Polda Maluku.  Suami  Faradiba Yu­suf ini belum juga ditetapkan sebagai tersang­ka.

Sebagai pemilik 8 rekening penam­pung yang diduga hasil kejahatan Faradiba, tak logis Danny masih dibiar­kan bebas. Sementara Soraya Pellu, kakak angkat Faradiba yang hanya memi­liki satu rekening penampung buru-buru ditetapkan sebagai tersangka dan langsung ditahan.

Akademisi Hukum Unpatti, Geor­ge Leasa meminta Ditreskrimsus Polda Maluku menerapkan asas equality before the law.

Equality before the law harus ditegakan. Kalau satu saja yang punya rekening yang ditetapkan ter­sangka, lalu yang memiliki delapan tidak,  ini tidak bisa,” tandas Leasa, kepada Siwalima, Kamis (7/11), melalui telepon selulernya.

Soraya Pellu hanya memiliki satu rekening penampung. Ia dijerat dengan TPPU. Lalu bagaimana dengan Danny Nirahua yang me­miliki 8 rekening penampung?.

“Masalahnya hanya dengan satu rekening, itu terlibat TPPU. Tetapi yang delapan rekening dimiliki suami itu bagaimana. Itu justru dugaan kuat. Kalau menurut saya, terlibat, polisi harus berani. Semua sama dimata hukum. Jangan ada diskriminasi,” ujar Leasa.

Leasa meminta Ditreskrimsus Poda Maluku adil dan berani me­ngungkap kasus pembololan BNI Ambon dengan baik dan benar.

Direktur Lembaga Kajian Inde­penden Maluku, Usman Warang meminta penyidik Ditreskrimsus benar-benar serius. Jangan ada yang dijerat, dan yang ada dilolos­kan.

“Jangan yang diistimewakan. Siapapun yang terlibat jangan diloloskan,”  tandasnya

Warang mengatakan, tebang pilih dalam penetapan tersangka akan menimbulkan  preseden bu­ruk dalam penegakan hukum.

“Kalau ada yang diloloskan men­jadi preseden buruk sekaligus potret penegak hukum yang sangat buruk dan publik patut mencurigai adanya dugaan perselingkuhan dalam penanganan kasus pembo­bolan BNI Ambon,” tandasnya lagi.

Sementara Direktur Reskrim­sus, Kombes Firman Nainggolan yang dikonfirmasi enggan  meng­angkat telepon. Kabid Humas Pol­da Maluku, Kombes M Roem Ohoi­rat juga tak mau berkomentar.

Belum Dijerat

Seperti diberitakan, Ditreskrim­sus Polda Maluku tebang pilih dalam penetapan tersangka kasus pembobolan BNI 46 Ambon. Hingga kini Danny Nirahua belum juga dijerat.

Danny Nirahua adalah suami Faradiba Yusuf, otak pembobol uang nasabah. Dalam pengusutan penyidik Ditreskrimsus mengung­kap 9 rekening di BNI yang diguna­kan Faradiba untuk menampung uang nasabah yang dijarah.

Dari 9 rekening itu, 8 diantaranya atas nama Danny. Satunya lagi atas nama Soraya Pellu, kakak ang­kat Faradiba.

Delapan rekening atas nama Danny masing-masing; 3 reke­ning di KCP AY Patty, 3 di KCP Mardika dan 2 lagi di BNI Ca­bang Utama Ambon atas Kantor Advokat Danny Nirahua.

Anehnya, Soraya Pellu yang hanya memiliki satu rekening pe­nampung sudah dijerat penyidik. Ia ditetapkan sebagai tersangka bersama Faradiba pada Minggu  (20/10) dan langsung ditahan di Rutan Polda Maluku, Tantui. Se­men­tara Danny yang memiliki 8 rekening penampung dibiarkan bebas.

Selain 8 rekening penampung, Danny juga menikmati sejumlah mobil mewah yang diduga dibeli oleh Faradiba. Misalnya, Alphard seri G bernomor polisi AD 8686 OP, Mitshubisi Pajero Sport tahun 2018 nomor polisi DE 5 NF dan Honda HRV tahun 2019 nomor polisi DE 12 MP. Ketiga unit mobil itu telah disita dan diamankan di halaman Kantor Ditreskrimsus Polda Malu­ku.  Ada apa dengan Ditreskrimsus Polda Maluku, sehingga Danny belum dijerat?

Akademisi Hukum Unidar, Rauf Pellu mengatakan, Danny Nirahua memiliki peran yang besar dalam kasus pembobolan BNI 46 Ambon, sehingga ia sudah harus dijerat.

“Ini kan disayangkan. Kalau yang memiliki satu rekening saja sudah langsung ditetapkan tersangka dan ditahan, kenapa DN yang me­miliki sekitar delapan rekening belum juga ditetapkan tersangka,” tandas Pellu, kepada Siwalima, Rabu (6/11).

Kasus pemboboloan BNI Ambon sudah menjadi rahasia umum, dan siapa Danny Nirahua dan peran­nya sudah terurai di publik. Karena itu, ia harus segera ditetapkan sebagai tersangka.

“Hukum ini kan tidak boleh pan­dang bulu,  equality before the law. Hukum tidak boleh belok-belok. Ini ada apa,” ujarnya.

Praktisi Hukum Djidon Batmo­molin meminta Ditreskrimsus kon­sisten. Jangan mudah diintervensi, sehingga mengganggu penanga­nan kasus pembobolan BNI Ambon.

“Kasus ini sudah jelas, karena itu suami tersangka, DN harus ber­tanggung jawab. Ia harus ter­sangka, jika tidak akan menjadi preseden buruk.  Masa yang memi­liki satu rekening saja langsung ditetapkan tersangka dan ditahan, tetapi punya delapan tidak dijerat,” tandasnya.

Hal yang sama juga disampai­kan Koordinator Moluccas De­mozratization Watch, M. Ikhsan Tualeka. Ia meminta polisi bekerja pro­fesional, dan menetapkan siapa saja yang punya peranan sebagai tersnagka.

“Jika peran yang dimainkan satu tersangka dan ditetapkan sebagai tersangka, kemudian modus yang sama juga dilakukan oleh pihak lain, mestinya pihak itu harus diper­lakukan sama secara hukum. Untuk memastikan bahwa hukum berlaku  sama terhadap semua orang dan tidak ada yang kebal hukum.,” tandas Tualeka..

Hal ini juga untuk menghindari spekulasi dan kesimpulan publik bahwa kepolisian dalam mena­nga­ni kasus ini tidak fair.

Dua Hari Dicecar

Sebelumnya penyidik Ditreskrim­sus maraton memeriksa Dani Nira­hua selama dua hari berturut-turut, Selasa (22/10)-Rabu (23/10). Namun hingga kini statusnya ma­sih sebagai saksi. Padahal penyi­dik sudah mengantongi bukti-bukti dugaan keterlibatannya.

Sumber di Ditreskrimsus me­nga­­ta­kan, ekspos akan digelar penyidik untuk menentukan apa­kah status Nirahua sudah bisa dinai­kan ke ter­sangka atau butuh pen­dalaman lagi.

“Jadi nanti ekspos dulu, baru dili­hat, statusnya naik atau belum,” ujarnya.

Enam Tersangka

Penyidik Ditreskrimsus baru me­netapkan enam orang sebagai ter­sangka dalam kasus pembobolan BNI Ambon.

Faradiba Yusuf, dan kakak ang­katnya Soraya Pellu ditetapkan sebagai tersangka pada Minggu (20/10) pukul 11.30 WIT, dan lang­sung ditahan.

Menyusul kemudian mantan Kepala KCP BNI Tual dan Kepala KCP Unpatti Chris Rumahlewang, mantan Kepala KCP Dobo Yosep Maitimu dan mantan KCP BNI Masohi, Marice Muskitta. Ketiga­nya ditetapkan sebagai tersangka pa­da, Minggu (27/10), dan kemudian digiring ke Rutan Polda Maluku.

Kemudian mantan Kepala Kan­tor Cabang Pembantu BNI Mardika, Cello.  Status Cello berubah dari saksi menjadi tersangka pada Ming­gu (3/11). Ia kemudian periksa pada Senin (4/11) dan langsung ditahan di Rutan Polda Maluku, Tantui bersama lima tersangka lainnya. (S-27)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *