Memet Sebut 4 Orang Kuasai Anggaran WFC

AMBON, Siwalimanews – Kuasa direksi CV.Aego Pratama, Mu­hammad Duila alias Memet menyebutkan, ada empat orang yang berperan penting dan menguasai anggaran pembangunan proyek Water Front City (WFC), Kota Nam­lea, Kabupaten Buru ta­hun 2015- 2016.

Mereka adalah terdakwa Sahran Umasugi, Munir Letsoin, menantu Sahran, Darma Tuankota dan istri Sahran, Halija Somia.

Hal ini disampaikan Me­met saat dihadirkan JPU Kejati Maluku Y.E Oceng Almahdaly dan Berthi Tanate, sebagai terdakwa kasus korupsi proyek WFC Kota Namlea dalam persidangan, Jumat (18/10).

Memet mengaku, kalau dirinya yang menandatangani proses pencairan uang muka sebesar 50 persen untuk pekerjaan tahap I tahun 2015. Namun setelah cair,  anggaran dikuasai oleh terdakwa Sahran Umasugi,  Darma Tuankotta, orang dekat Sahran, Munir Letsoin dan istri Sahran, Halija Somia.

“Saya hanya dilibatkan untuk tanda tangan proses pencairan, setelah pencairan anggaran orang lain lagi yang berperan,” kata Memet di hadapan majelis hakim.

Memet mengatakan, dirinya me­nandatangi dokumen pencairan anggaran proyek WFC Kota Namlea, karena  sebagai kuasa direksi CV. Aego Pratama.

“Jujur saya juga cari makan di proyek itu, makanya saya langsung tanda tangan ketika disuruh baik oleh Sahran maupun Munir Letsoin. Selain sebagai kuasa direksi saja harus ikut menandatangi dokumen pencairan, sehingga mempercepat proses pekerjaan proyek tersebut,” ujarnya.

Tak hanya di tahap I, namun keem­pat orang ini juga turut menguasai anggaran proyek WFC tahap II. “Jadi untuk proses pekerjaaan tahap II lebih banyak berperan itu adalah, Munir Letsoin dan menantu Sahran, Darma Tuankotta,” tandasnya.

Usai mendengarkan keterangan saksi, majelis hakim, R. A Didi Ismia­tun didampingi Christina Tetelepta dan Jefry Septa Sinaga, menunda sidang hingga pekan depan dengan agenda, mendengarkan keterangan saksi meringankan dari terdakwa.

Akui Pemilik Proyek

Seperti diberitakan, Sahran Uma­sugi akhirnya mengakui, kalau dirinya adalah pemilik proyek WFC Kota Namlea.

Bahkan mantan anggota Kabu­paten DPRD Buru ini juga mengaku, menikmati uang hasil proyek mang­grak itu sebesar Rp 3,160 milia mulai pekerjaan tahap I tahun 2015 dan tahap II tahun 2016.

Hal itu disampaikan Sahran Uma­sugi saat dihadirkan sebagai terdak­wa oleh tim JPU Kejati Maluku, Y.E Oceng Almahdaly dan Rolly Ma­nampiring Cs dalam persidangan Kamis (17/10), di Pengadilan Tipikor Ambon.

Sahran mengungkapkan mene­rima uang Rp 3,160 miliar itu dari sejumlah pihak, diantaranya dari kuasa direksi CV. Aego Pratama, Muhammad Duila alias Memet sebesar Rp 560 juta, Munir Letsoin Rp 1,100 miliar yang diberikan ke istrinya Halija Somia, dan Rp 1,5 mi­liar dari Darma Tuankotta, me­nantu Sahran.

“Iya saya pernah menerima sejumlah uang dari saksi Munir Let­soin, Darma Tuankotta dan terdak­wa Muhammad Duwila alias Me­met,” kata Sahran di hadapan majelis hakim yang diketuai, Pasti Tarigan didampingi hakim anggota Jimmy Wally dan Jefri Septa Sinaga.

Menurut Sahran, yang lebih ber­peran dan memiliki andil penting dalam proyek pembangunan WFC Kota Namlea, adalah Darma Tuan­kota. Sebab, awalnya anggaran pro­yek dicairkan ke rekening CV. Aego Pratama. Namun selanjutnya hingga pekerjaan tahap II tahun 2016 langsung ke rekening perusa­haan Sulaida milik Darma Tuan­kotta.

“Untuk pencairan pertama me­mang ke rekening CV. Aego Pratama, namun selanjutnya hingga ke tahap II pencairan dilakukan melalui rekening CV. Sulaida,” jelasnya.

Usai mendengar keterangan terdakwa, majelis hakim kemudian menunda sidang hingga, Kamis (24/10) dengan agenda pemeriksaan saksi meringankan.

Selain Sahran, jaksa juga menye­ret kuasa Direktur CV. Aego Pratama Muhammad Duila alias Memet, PPK Sri Jaurianty dan  Muhammad Rid­wan Pattilouw, sebagai Site eng­gineer CV Inti Karya sekaligus se­laku konsultan pengawas ke pe­ng­adilan.

Menurut JPU, tindak pidana ko­rupsi yang dilakukan para terdakwa terbukti merugikan keuangan negara mencapai Rp 6.638.791.370,26. Hal ini berdasarkan laporan hasil pemeriksaan investigatif BPK terhadap pembangunan WFC Kota Namlea tahap I tahun 2015 dan tahap II tahun 2016 pada Dinas PUPR Kabupaten Buru.  (S-49)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *