Mantan Kepala Keuangan Dicecar

Uang Unpatti di BNI Dibobol

AMBON, Siwalimanews – Mantan Kepala Keuangan Unpatti, Hendrik Labobar dicecar penyidik Dit­reskrimsus Polda Maluku, Senin (2/12).

Ia dicecar seba­gai saksi dalam kasus pembobolan BNI Ambon deng­an tersangka man­tan Kepala KCP Unpa­tti, Chres Ru­ma­h­le­wang.

Sumber di Polda Maluku menye­but­­kan, pemerik­saan Labobar da­lam kaitannya de­ngan uang milik Un­patti yang dita­bung di BNI. Uang yang merupakan SPP dan beasiswa mahasiswa itu turut dibobol.

“Ada pemeriksaan mantan Kepala Keuangan Unpatti sebagai sebagai saksi, karena diduga dana kampus juga ditranfer oleh tersangka Rumahlewang saat men­jabat Kepala KCP Unpatti atas perintah Faradiba Yusuf,” kata sumber itu.

Ditanya besar uang Unpatti yang dibobol, sumber itu enggan menjawab, dengan alasan penyidikan. “Sudah masuk ke materi, saya tak bisa jelaskan,” ujarnya.

Tak hanya Labobar, penyidik juga memeriksa mantan Kepala KCP BNI Masohi Marice Muskitta, Kepala KCP Tual dan Unpatti, Chres Ru­mahlewang sebagai tersangka.

Ketiganya diperiksa pukul 15.00 hingga pukul 18.00 WIT. Selain me­leng­kapi berkas tersangka, pemerik­saan juga sebagai pengembang­an untuk menjerat tersangka baru. “Ini bagian dari pengembangan penyidi­kan untuk tersangka baru,” tandas­nya.

Penasehat hukum Chres Rumah­le­wang, Firel Sahetapy yang dikon­firmasi membenarkan pemerik­saan terhadap kliennya. Namun ia tak mau berkomentar lebih lanjut. “Benar, hari ini pemeriksaan klien kami sebagai tersangka,” katanya.

Kabid Humas Polda Maluku Kom­bes M Roem Ohoirat yang dikon­firmasi hanya mengatakan, penyidik Ditreskrimsus sementara bekerja, dan pemeriksaan masih dilakukan. “Penyidik sedang bekerja, pengem­bangan penyidikan masih berjalan, kasus pembobolan BNI pasti ditun­taskan,” ujarnya singkat.

Ohoirat meminta semua pihak memberikan kesempatan kepada penyidik untuk menuntaskan kasus pembobolan BNI Ambon.

Sementara Wakil Rektor II Un­patti, Jantje Tjiptabudi yang dikon­firmasi soal uang Unpatti yang dibobol, enggan meng­angkat tele­pon. Pesan whatsapp juga tak dibalas.

Banyak Belum Disentuh

Seperti diberitakan, kendati sudah enam orang ditetapkan sebagai ter­sangka dalam kasus pembobolan BNI Ambon, namun diduga kuat masih ba­nyak pihak lagi yang belum disentuh.

Penyidik Ditreskrimsus Polda Maluku diingatkan tak tebang pilih. Suami Faradiba Yusuf, Danny Nira­hua misalnya, sampai saat ini masih berstatus saksi. Padahal ia memiliki 8 rekening penampung, yang diduga menampung hasil jarahan istrinya.

Ada lagi auditor dan petinggi BNI Ambon. Peran mereka sudah dibuka Faradiba, tetapi belum juga ditin­dak­lanjuti oleh penyidik.

“Mereka-mereka ini harus diseret dalam kasus pembobolan uang nasabah BNI Ambon, terutama pihak BNI. Sebab tersangka Faradiba Yusuf, tidak mungkin sendiri men­jarah ratusan miliar uang nasabah di bank plat merah itu,” kata Akademisi Hukum Unidar Ambon, Rauf Pellu kepada Siwalima, Sabtu (30/11).

Pellu mengatakan, keterlibatan internal bank diduga sangat kuat dalam skandal pembobolan BNI Ambon. Setiap jenjang memiliki otoritas untuk menarik uang dengan nilai yang berbeda. Misalnya teller mempunyai kewenangan Rp. 25 juta. Lalu kalau ratusan miliar keluar dari rekening nasabah BNI, masa Kepala BNI tidak tahu?

“Nah, kalau dari sisi tupoksinya maka internal BNI terlibat. Makanya jangan ada yang dilindungi di kasus ini, petinggi BNI dan juga auditor harus bertanggung jawab,” ujarnya.

Penyidik Ditreskrimsus harus me­nindaklanjuti keterangan tersangka Faradiba Yusuf soal dugaan keter­libatan petinggi BNI.  “Kalau ter­sangka sudah buka mulut kan lebih memudahkan penyidik,” tandasnya.

Selain itu, kata Pellu, Danny Nirahua juga harus dijerat. Soraya Pellu yang hanya memiliki satu re­kening penampung sudah mende­kam di penjara, sementara Nirahua masih bebas.

“Bayangkan Soraya Pellu yang ha­nya memiliki satu rekening dija­dikan tersangka. Sedangkan suami Faradiba pemilik 8 rekening masih dibiarkan bebas tanpa disentuh,” ujarnya.

Direktur Lumbung Informasi Rak­yat Maluku, Yan Sariwating berha­rap hadirnya tim Bareskrim Mabes Polri pengusutan kasus pembobol­an BNI lebih transparan.

“Untuk menjaga nama baik polda, semua pihak yang diduga terlibat harus dijerat,” tandasnya.

Hal senada disampaikan Koordi­nator Pemantau Keuangan Negara Maluku, Darson Rumatiga. Ia meminta tidak ada yang dilindungi dalam kasus BNI Ambon. “Siapapun terlibat harus diseret,” tegasnya.

Sebelumnya berbagai kalangan menilai kerja Ditreskrimsus Polda Maluku lamban. Hingga kini baru enam tersangka skandal pem­bobolan BNI Ambon ditetapkan.

Tim penyidik bentukan Direktur Reskrimsus Polda Maluku, Kombes Firman Nainggolan tak mampu sendiri menangani kasus pembo­bolan BNI.

Hasil gelar perkara yang melibat­kan tim gabungan Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus dan Pengawasan Penyidikan Bareskrim Polri menyimpulkan, tidak ada kema­juan dalam penyidikan.

Bantuan tim Bareskrim Polri diha­rapkan bisa mempercepat pengung­kapan tersangka lain dan menuntas­kan kasus yang diduga merugikan nasabah ratusan miliar rupiah ini.

Untuk diketahui, dalam kasus ini Penyidik Ditreskrimsus Polda Ma­luku baru menetapkan enam orang sebagai tersangka. Mereka adalah, Faradiba Yusuf, Soraya Pellu, man­tan Kepala KCP BNI Masohi Marice Muskitta, KCP Tual dan Unpatti Chres Rumahlewang, KCP Dobo Maitimu Jusuf Maitimu, dan mantan Kepala KCP Mardika Celo. (S-27)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *