Mahasiswa Minta Transportasi Laut di Bursel Diperbaiki

AMBON, Siwalimanews – Aliansi Mahasiswa Peduli Rakyat (Ampera) mendesak Gubernur Maluku Murad Ismail memperbaiki transportasi laut yang ada di Kabupaten Buru Selatan (Bursel). Sejak 2018 lalu, KMP Tan­jung Kabat tidak lagi beroperasi di Kabupaten Bursel padahal masya­rakat sangat membutuhkan angku­tan khususnya transportasi laut.

Pantauan Siwalima di kantor gubernur Selasa (12/11), tujuh orang mahasiswa mengatasnamakan Am­pera ini, tiba di Kantor Gubernur Maluku pada pukul 09.30 WIT. Me­reka membawa sejumlah spanduk yang bertuliskan Ampera mendesak Pemprov Maluku memperbaiki transportasi di Bursel. Ampera juga saling bergantian melakukan orasi dan meminta kepada pemerintah provinsi segera menyelesaikan ma­salah transportasi di Bursel.

“Jadi kami datang hari ini kami meminta kepada pemerintah pro­vinsi khususnya Gubernur Maluku untuk membantu perbaiki transpor­tasi laut di Kabupaten Bursel, kami sangat menderita,” teriak Ketua Ampera Maluku, Abbad Souwakil dalam orasinya Selasa (12/11).

Ada lima tuntutan Ampera yang akan disampaikan kepada Pemprov Maluku untuk segera ditindaklan­juti. Tuntutan mereka yakni pertama meminta kepada Pemprov Maluku menegur dan mendesak Pemkab Bur­sel menyelesaikan permasalahan transportasi laut di Kabupaten Bursel.

Kedua, meminta Pemprov Maluku dan DPRD Maluku harus meng­koordinasikan stakeholder dalam hal ini Pemda Bursel dan Direktur PT Bupolo, Gidin dalam pertanggung­jawaban perusahaan daerah yang mengelola KMP.

Ketiga, Pemprov Maluku dan DPRD Maluku mendesak Pemkab Bursel untuk memecat Dirut PT Bupolo, Giddin karena tidak mampu menyesaikan persoalan transportasi laut. keempat meminta Pemprov Maluku menambah armada kapal laut di Kabupaten Bursel yang beroperasi di semua kecamatan.

Kelima meminta Pemprov Maluku dan DPRD Maluku mendesak Pem­kab Bursel untuk mengalihkan trans­portasi laut terutama ferry yang dikelola oleh PT Bupolo, Gidin agar dialihkan ke PT ASDP.

“Jadi kami berharap apa yang  kami sampaikan ini ditindaklanjuti karena kami sangat sengsara selama ini. Kapal ferry Tanjung Kabat bah­kan sudah setahun tidak berope­rasi,” beber Souwakil.

Selain itu ketika musim gelom­bang, masyarakat sulit untuk mem­bawa hasil bumi ke Kota Ambon. “Kami berharap apa yang kita sam­paikan ini dite­ruskan ke gubernur karena sejak lama kami sengsara, tranportasi laut di Ka­bu­paten Bur­sel sangat memprihatinkan.

Usai membacakan tuntutan, ma­hasiswa menyerahkan kepada Ke­pala Bidang Kemasyarakatan Kesba­ngpol Maluku, Sam Sialama yang mewakili Pemprov Maluku. (S-39)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *