AMBON, Siwalimanews – Gugus Tugas Perce­pa­tan Penanganan Co­vid-19 Kota Ambon men­dapat kecaman keras dari DPRD Kota Ambon maupun Provinsi Malu­ku. 43 pedagang positif rapid test tapi masih ber­aktivitas membuktikan gugus tugas lemah dalam pe­ngawasan.

Ketua DPRD Kota Ambon, Elly Toisuta menyayangkan kinerja Gustu Kota Ambon yang lemah menindak 43 pedagang pasar Mardika tersebut. Elly meminta Gustu bekerja keras mencari para pedagang itu untuk dikarantina mandiri pada tempat yang sudah ditentukan.

“Sangat disayangkan, 43 peda­gang yang positif rapid itu dibiarkan berkeliaran tanpa dikarantina. Ke­beradaan mereka tentu berbhaya juga bagi masyarakat lainnya. Gustu Kota Ambon harus tegas dan secepatnya mencari mereka untuk dikarantina,” ujar Toisuta kepada Siwalima di ruang kerjanya Selasa 19/5).

Anggota Komisi I DPRD Kota Am­bon, Christianto Laturiuw juga menyayangkan sikap Gustu Kota Ambon yang membiarkan puluhan pedagang itu beraktivitas berjualan di pasar.

Menurut Laturiuw, keengganan 43 pedagang memberikan diri di­karantina juga menyangkut de­ngan kondisi ekonomi. “Bisa saja ka­rena masalah ekonomi. Mereka kan pedagang, sekarang kalau di­ka­rantina lalu keluarga mereka mau menyambung hidup bagai­mana. GustuKota Ambon harus so­sialisasi kepada mereka sebelum dikarantina. Berikan pemahaman atau solusi jika mereka dikaran­tina,” ungkap Laturiuw.

Anggota DPRD Provinsi Maluku dapil Kota Ambon, Rovik Afifudin menyayangkan kinerja Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 yang lemah menindak 43 pedagang pasar Mardika tersebut.

ovik menegaskan, jika 43 pedagang yang hasilnya reaktif tidak mau dikarantina maka Gustu Kota Ambon harus tegas dengan jalan menjemput secara paksa sesuai dengan data yang ada serta mencabut ijin usaha lapak, sebab pedagang yang reaktif itu mengancam masyarakat yang lain.

“Harus jemput paksa, kalau  pemerintah tidak tegas soal ini lalu mau jadi apa,” kecamnya.

Senada dengan Afifudin, Anggota DPRD Maluku Dapil Kota Ambon Jantje Wenno mengatakan, Gustu Kota Ambon bersama pemerintah kota harus mencari dan menelusuri alasan 43 pedagang itu  tidak mau dikarantina.

“Mungkin saja pedagang selama ini memiliki pemikiran jika rapid tes memiliki akurasi sekitar 30 persen saja serta adanya ketidakpercayaan masyarakat terhadap rapid tes harus dijawab oleh pemerintah,” kata Wenno.

Kemungkinan lainnya, tempat-tempat karantina yang disediakan pemerintah banyak kelemahan terkait dengan kebutuhan makan dan minum yang tidak terjamin secara baik sehingga menimbulkan keraguan.

43 Pedagang Masih Jualan

Untuk diketahui, sebanyak 43 pedagang di Pasar Mardika, Kota Ambon menolak untuk menjalani karantina, dan hingga saat ini mereka masih bebas berjualan.

Berdasarkan hasil rapid test atau tes cepat, 43 pedagang itu, diduga positif terpapar Virus Corona. Rapid test dilakukan oleh Gugus Tugas Covid-19 Kota Ambon pada 9 dan 10 Mei lalu, pasca meninggalkan LS, pedagang topi di Terminal Mardika.

LS meninggal pada Rabu (6/5) di RSUD dr. M Haulussy dalam status pasien dalam pengawasan (PDP). Namun setelah sampel swab diuji, hasilnya ia positif.

Sekitar 414 orang mengikuti tes yang dilakukan. Semuanya adalah pedagang beserta keluarga dan kerabat yang terlibat kontak erat dengan LS.

Dari tes tersebut, 70 orang menunjukkan hasil reaktif. Namun baru 27 pedagang yang mengikuti karantina di Hotel Sumber Asia, sementara 43 lainnya belum.

Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Kota Ambon, Joy Adriaansz mengatakan, gugus tugas telah menyurati 43 pedagang itu untuk masuk ke tempat karantina paling lambat Selasa (19/5).

“Untuk 43 pedagang itu selambat-lambatnya besok mereka sudah harus menempati lokasi isolasi terpusat yang sudah disiapkan oleh pemkot,” tandas Joy saat dihubungi Siwalima, Senin (18/5).

Jika mereka tidak mau, kata Joy, langkah tegas akan diambil, salah satunya lapak milik mereka akan disegel.

“Kalau sampai besok mereka tidak menempati tempat isolasi, maka Pemerintah Kota Ambon akan ambil langkah-langkah tegas, diantaranya untuk sementara waktu kios mereka akan kita tutup,” ujarnya.

Joy mengatakan, isolasi terpusat bagi mereka yang hasil rapid test reaktif untuk keselamatan mereka dan keluarga serta lingkungan sekitat mereka.

“Dengan isolasi terpusat itu kan bisa menyelamatkan mereka punya diri, punya keluarga, dan bisa menyelamatkan lingkungan sekitar,” tandasnya.

Joy meminta 43 pedagang tersebut tidak perlu khawatir untuk menjalani karantina di tempat yang sudah disediakan Pemkot Ambon, karena yang dilakukan untuk melindungi mereka dan orang lain. “Kalau sayang diri, saying keluarga dan lingkungan sekitar, segeralah masuk ke tempat isolasi,” himbaunya.

Ia menambahkan, swab test kepada 27 pedagang sudah dilaksanakan di gedung isolasi terpusat. “Swab atau PCR test dilakukan kepada 27 pedagang di terminal Mardika yang berstatus PDP. Ini untuk tahap pertama,” jelas Joy. (Mg-4/Mg-5)