Koruptor Bebas, Menuntut Keseriusan Jaksa

Tiga terpidana kasus korupsi Bank Maluku Malut belum juga berhasil diringkus. Mereka adalah Direktur Utama CV Harves Heintje Abraham Toisuta, mantan Kepala Devisi Renstra dan Korsec Bank Maluku Petro Tentua, dan Direktur PT Nusa Ina Pratama, Yusuf Rumatoras.

Yusuf Rumatoras adalah terpidana kasus kredit macet Bank Maluku Tahun 2006 senilai Rp 4 miliar. Ia dihukum 5 tahun penjara oleh Mahkamah Agung (MA). Kejati Maluku belum juga bisa menyentuhnya. Alasan Korps Adhyaksa, Rumatoras sulit dilacak.

Alasan yang tak masuk akal sehat. Terkesan ada upaya pembiaran. Pihak Kejati Maluku mengaku, Yusuf Rumatoras sudah masuk dalam daftar pencarian orang (DPO), dan namanya tercatat dalam Media Centre Kejagung. Namun anehnya, setahun lebih tak bisa terlacak.

Rumatoras dibiarkan bebas berkeliaran. Sementara tiga terpidana lainnya mendekam di penjara. Mereka adalah Eric Matitaputty dan Markus Fangohoy, dua analis kredit dan treasury Bank Maluku Malut dan mantan Kepala Cabang Utama Bank Maluku Matheus Adrianus Matitaputty alias Buce. Sungguh tak adil.

Eric Matitaputty diganjar hukuman penjara 7 tahun, denda Rp 500 juta, subsider 8 bulan penjara, Markus Fangohoy diganjar 8 tahun penjara, denda Rp 500 juta, subsider 8 bulan penjara, dan Buce Matitaputty dijatuhi hukuman pidana penjara selama 8 tahun, denda Rp 500 juta subsider 8 bulan penjara.

Keistimewaan juga diberikan Kejati Maluku kepada Direktur Utama CV Harves Heintje Abraham Toisuta dan mantan Kepala Devisi Renstra dan Korsec Bank Maluku Petro Tentua. Keduanya adalah terpidana korupsi dan TPPU pembelian lahan dan bangunan bagi pembukaan Kantor Cabang Bank Maluku dan Maluku Utara di Surabaya tahun 2014, yang merugikan negara Rp 7,6 miliar.

Heintje dihukum 12 tahun penjara, membayar denda Rp 800 juta subsider tujuh bulan kurungan serta membayar uang pengganti Rp 7,2 miliar subsider 4 tahun penjara. Sedangkan Petro dihukum 6 tahun penjara, dan membayar denda Rp 500 juta subsider 3 bulan kurungan.

Keduanya juga dibiarkan bebas menghirup udara segar, sementara mantan Direktur Bank Maluku, Idris Rolobessy yang dihukum 10 tahun penjara, membayar denda Rp 500 juta subsider tujuh bulan kurungan dan uang pengganti Rp 100 juta subsider 6 bulan kurungan, sudah meringkuk di penjara sejak 9 Agustus Tahun 2017 lalu.

Korps Adhyaksa mempertontonkan ketidakadilan dalam penegakan hukum. Tidak memperlakukan semua orang sama di mata hukum. Jika hingga kini ketiga terpidana korupsi Bank Maluku belum ditangkap, maka perlu dipertanyakan apakah kejaksaan serius atau tidak?. Apakah benar, ketiga terpidana sudah berstatus DPO, dan masuk dalam Media Center Kejagung?. Sebab Kepala Kejati Maluku, Triyono Haryono baru tahu, kalau mereka berstatus DPO. Aneh dan janggal, kalau sebagai pemegang komando di Kejati Maluku, Triyono sama sekali tidak tahu penetapan ketiga terpidana sebagai DPO.

Kejati Maluku harus jujur, dan serius untuk memburu para koruptor. Putusan sudah berkekuatan hukum tetap. Mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka sesuai hukuman yang dijatuhkan oleh pengadilan. Jangan mempraktekkan standar ganda dalam penegakan hukum. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *