AMBON, Siwalimanews – Baru saja masuk ke zona orange, Kota Ambon kem­bali ke zona merah penyebaran Virus Corona.

Masyarakat yang disalahkan oleh  Pem­kot Ambon dan gugus tugas se­bagai pihak yang tak taat pro­tokol kesehatan. Padahal gugus tu­gas sendiri tak transparan. Banyak warga divonis positif Covid-19, tetapi tidak pernah diberikan bukti hasil uji swab dari laboratorium.

Belum lagi temuan dugaan pe­nyelewengan oleh tim unit Tipikor Satreskrimsus Polresta Ambon saat melakukan asistensi. Ketidak­beresan yang terjadi membuat masyarakat tak percaya terhadap gugus tugas. Kondisi ini turut mem­pengaruhi tingkat kesadaran masyarakat terhadap protokol kesehatan.

“Penyebab Ambon kembali ma­suk zona merah, karena pening­katan kasus korban meninggal dunia akibat corona. Pada saat zo­na orange, tercatat dua warga Kota Ambon meninggal. Nah, ini sangat berpengaruh terhadap perubahan zonasinya,” kata Wakil Walikota Ambon, Syarif Hadler kepada wartawan di Ambon, Kamis (1/10).

Meskipun angka kesembuhan pasien Covid-19 semakin mening­kat, namun ada pasien yang me­ninggal, sehingga mempengaruhi peta zonasi.

Baca Juga: Awal Oktober, Maluku Tambah 35 Kasus Baru

Ditanya penilaian berbagai kala­ngan, kalau gugus tugas tak becus bekerja, padahal anggaran pu­luhan miliar sudah dihabiskan untuk menangani Covid-19, Hadler mengklaim, gugus tugas sudah bekerja maksimal.

“Kalau dibilang kurang becus ya penilaian masyarakat, saya tidak tahu, tapi dari kita gugus rasa-rasanya sudah semua kita lakukan saya kira itu,” tandasnya.

Hadler menghimbau masyara­kat agar jangan takut atau ragu untuk pergi ke rumah sakit guna me­meriksa kondisi kesehatan.

Jangan tunggu sudah kritis baru pergi. Jangan takut dengan isu tidak benar, lebih baik segera ke rumah sakit untuk diperiksa. Mati itu Tuhan punya kuasa, tetapi, upa­ya manusia untuk menyelamatkan nyawa seseorang orang itu adalah ikhtiar,” ,” ujarnya.

Walikota Ambon, Richard Lou­henapessy mengaku sangat menyayangkan Ambon kembali ke zona merah.

“Sampai dengan tanggal 26 September lalu, zona kita itu masih orange. Namun tanggal 27 September dia mengalami perubahan dan naik lagi ke Merah, “ ujarnya.

Lagi-lagi masyarakat yang disalahkan. Walikota mengatakan, Ambon bisa kembali ke zona orange tergantung dari kesadaran masyarakat mematuhi  protokol kesehatan.

“Kota Ambon keluar dari zona merah dan kembali ke zona orange, semua kunci hanya ada di mas­yarakat. Dengan mendisiplin­kan diri untuk tetap mematuhi pro­tokol kesehatan Covid-19,” tandasnya.

Dikatakan, gugus tugas terus berupaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19, dengan mengontrol masyarakat agar tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan.

“Setiap pagi, bahkan malam itu, tim pengendali tetap kerja di lapangan. Namun, kunci utama itu ada pada partisipasi masyarakat, terutama untuk disiplin,” ujarnya.

Hingga Kamis (1/10) bertambah lagi 31 kasus positif Covid-19 di Kota Ambon. “Penambahan hari ini 35 kasus terkonfirmasi, 31 kasus dari Kota Ambon,” jelas Ketua Harian Satgas Covid-19 Maluku, Kasrul Selang kepada wartawan di Kantor Gubernur Maluku.

Dengan penambahan 31 kasus ini, maka jumlah kasus Covid-19 di Kota Ambon sebanyak 2325 kasus, 1438 pasien sembuh dan 30 orang meninggal dunia. (Mg-6)