AMBON, Siwalimanews – Kapolsek Nusaniwe Iptu John Anakotta, melakukan tatap muka dengan warga Kampung Ganemo, Kelurahan Kudamati, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon.

Kegiatan yang digelar pada pekan kemarin itu, tidak lain bertujuan untuk melakukan sosialisasi tentang keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah hukum Polsek Nusaniwe, atau yang lebih dikenal dengan duduk bacrita kamtibmas.

Pada kesmepatan itu, didepan ratusan warga ganemo Kapolsek mengaatakan, situasi kondisi kamtibmas di wilayah hukum Polsek Nusaniwe sampai dengan saat ini aman terkendali, walaupun demikian tak bisa dipungkiri kalau ada riak-riak kecil yang harus dihadapi, namuns emua itu dapat diselesaikan secara bersama-sama.

“Ini bukan karena kemampuan saya sendiri, tapi juga dibantu oleh pihak Koramil Nusaniwe dan seluruh masyarakat di Kecamatan Nusaniwe, termasuk warga yang ada di Kmapung Ganemo ini, Saya juga beri apresiasi kepada masyarakat ganemo yang sampai dengan saat ini wilayah ini cukup kondusif dimata pimpinan Polri khususnya, di Polresta Pulau Ambon,” ucap Kapolsek.

Kapolsek mengaku, semenjak dirinya menjabat sebagai kapolsek Nusaniwe di awal bulan Juli 2021 statmen saya yang paling awal yaitu, wilayah Nusaniwe wajib hukumnya harus aman dan nyaman dalam artian masyarakat bisa beraktivitas dengan baik, termasuk ibadah di gereja maupun masjid dengan baik dan nyaman itu sebuah komitmen.

Baca Juga: Peradi Minta Penegak Hukum Perhatikan Legalitas Advokat

“Puji Tuhan 11 bulan saya menjabat wilayah Nusaniwe aman terkendali, walaupun ada bakalai sadikit atau bakulempar sadikit, namun langsung diminimalisir untuk hari itupun selesai, sehingga tidak berlarut-larut atau melebar lagi sampai berhari-hari atau berbulan bulan,” tandasnya.

Kapolsek mengaku, masyarakat saat ini sudah mulai sadar, bahwa berbuat baik itu mendapat berkat dari Tuhan. Untuk itu ia juga menyampaikan terimakasih dan memberikan apresiasi kepada semua perangkat RT/RW di Ganemo karena bisa melakukan kegiatan duduk bacarita Kamtibmas bersama Kapolsek dan Danramil.

Menurutnya, kesadaran masyarakat tidak bisa dipaksakan dan tidak bisa diajak-ajak terkecuali kesadaran itu muncul dari hati nurani yang paling dalam. Kalau semua orang sadar, tidak perlu Kapolsek hadir disini, kenapa demikian, karena semua orang sudah tahu, bahwa orang ini, atau orang itu bagian dari saudaranya sehingga tak perlu mengganggu dia, atau memukul dia, dan kesadaran itu sudah terlihat di Ganemo.

“Saya harap kesadaran itu dipertahankan dan ditingkatkan, sebab kita tidak boleh lagi lihat disini ada orang tenggara, lease, dan sebagainya, namun semua yang ada disini adalah orang Ganemo,” cetusnya.

Pada kesmepatan itu Kapolsek juga mengingatkan kepada warga ganemo, bahwa ia tidak pernah mentolerir para pelaku kejahatan, termasuk anaknya sekalipun, apabila melakukan pelanggaran hukum, silahkan berproses dan dirinya tidak akan pernah terlibat untuk membantu hal-hal yang salah.

“Mumpung hari ini Kapolsek adalah orang yang pernah tinggal di Ganemo, dan Ganemo merupakan bagian dari Kapolsek, marilah kita jaga itu. Semua pelanggaran yang memang tidak perlu dilakukan, tidak usah, dan saat saya jabat kapolsek saya sudah sampaikan kepada semua perangkat RT/RW dan perangkat negeri, bahwa persoalan-persoalan yang bisa ditangani oleh RT silahkan ambil peran itu,” ucapnya

Peran yang diberi kepada para RT dan RW itu untuk mempermudah menyelesaikan suatu persoalan, jangan hanya masalah sepelah lapor ke polsek atau Polresta, bukan seperti itu, karena tanggungjawab keamanan bukan hanya ada pada polisi semata, tetapi semua pihak, termasuk warga masyarakat.

Untuk itu, jika ada masalah di lingkungan laporkan ke RT. Peran ini telah disampaikan kepada semua RT maupun perangkat negeri di seluruh Kecamatan Nusaniwe, setiap kali ada pertemuan baik di kelurahan maupun di kantor negeri maupun desa.

“Saya mau bilang bahwa bukan hari ini saja saya bertemu dengan masyarakat ganemo, namun selama 11 bulan saya jabat kapolsek, saya sudah datangi semua komunitas, untuk gereja saja khusus GPM saya sudah hadir di 44 gereja, untuk Masjid karena hanya 10 masjid di nusaniwe, saya sudah masuk sebanyak 20 kali, dimana 1 masjid dua kali pertemuan. Untuk gereja katolik 3 kali dan di jemaat Bethani 1 kali, termasuk sudah puluhan pangkalan ojek saya datangi. Semua ini dilakukan hanya dnegan satu tujuan yakni, mengajak semua orang untuk bersama-sama bersinergi dengan pihak kepolisian untuk solid menjaga kamtibmas,” tuturnya.

Kaposlek juga minta agar peran orang sangat diharapkan untuk dapat mengawasi anak-anaknya, sehingga tidak berkeliaran di jalan hingga larut malam. Semua ini belum terlambat, bahkan dirinya yakin dan percaya para RT/RW dan tokoh masyarakat, pendeta dan semua pelayan gereja, sudah banyak yang menyampaikan hal ini, sebelum disampaikan.

Kapolsek juga mengajak seluruh masyarakat yang ada di wilayah Nuasaniwe untuk bergandengan tangan menghilangkan statmen Nusaniwe tempat bakalai, nusaniwe tempat baku lempar. Kenapa demikian, sebab setiap kali pemaparan kamtibmas di Polda maupun di Polresta yang dihadiri oleh para Kapolsek, Nusaniwe selalu dicap sebagai itu daerah merah, tetapi didepan forum itu sebagai kapolsek dirinya menyampaikan bahwa, semenjak dirinya menjabat sebagai kapolsek, maka yang dikatakan daerah merah sudah tidak ada lagi, sebab smeuanya kini telah berubah menjadi hijau.

“Saya mau bilang sampai kapan bapak, ibu dan sudara mau tetap pertahankan zona merah? Apakah sampai anak-anak kita menjadi bapak-bapak lagi? Saya yakin itu tidak akan terjadi, namun hari ini juga kita harus hilangkan statmen Nusaniwe tempat Bakalai Nusaniwe tempat baku lempar. Marilah kita sama-sama jadikan Nusaniwe sebagai etalase atau barometer keamanan di Kota Ambon,” ajaknya.

Sedangkan menyangkut dengan miras, kepolisian tidak pernah surut untuk memberantas miras, namun semua butuh masukan dan saran dari semua stakeholder yang ada. Kenapa demikian, sebab kekerasan biasanya terjadi dari mengkomsumsi miras.

“Saya tidak penah larang orang minum, yang saya larang adalah orang yang melakukan kekerasan. Kenapa demikian karena ada yang bilang katong jual sopi sampai katong anak jadi polisi jadi TNI bahkan jadi pendeta, akhirnya kita ini juga simalakama. Tetapi kepolisian tetap memberantas peredaran miras di masyarakat,” tegasnya.

Kapolsek mengaku, jumlah penduduk ddi Kecamatan Nusaniwe kurang lebih 98 ribu jiwa, sementara anggota Polsek Nusaniwe hanya 50 personel, dengan jumlah yang terbatas ini, maka ia mengajak seluruh masyarakat untuk membantu pihak kepolisian dalam menjaga kamtibmas, sebab jika masyarakat tidak membantu polisi , maka situasi kamtibmas tidak akan kondusif.

Kapolsek juga mengaku, selama ini dalam menata keamanan di Kecamatan Nusaniwe, ada terjadi sumbatan kordinasi dan informasi antara polisi dan masyarakat, oleh sebab itu, sejak dirinya menjabat sebagai Kapolsek mata rantai itu telah diputuskan, kenapa demikian, sebab polisi harus bersinergi bersama-sama dengan masyarakat untuk menjaga kamtibmas.

“jadi saat ini masyarakat Nusaniwe dan polsek sudah tidak ada lagi jurang pemisah, apa yang menjadi keluhan masyarakat disampaikan dan kita akan berusaha semaksimal mungkin. Kalupun sampai hari ini Polsek Nusaniwe masih melakukan hal-hal yang tidak maksimal atau kurang berkenan serta menyakiti, atau melakukan perbuatan-perbuatan negatif, maka selaku kapolsek saya mohon maaf, itulah bagian dari kekeurangan kami sebagai manusia, kedepan bersama-sama dengan seluruh masyarakat khususnya yang ada di ganemo, mari kita bergandengan tangan membangun Nusaniwe agar lebih baik lagi kedepan,” pintanya.

Hadir dalam kegiatan itu Danramil Nusaniwe yang diwakili oleh Babinsa Kudamati Yakobis Latuputi, Tokoh Masyarakat Ganemo Ary Sahertian, Perwakilan Pelayan Jemaat GPM Rehoboth Pendeta Roby Hatalabessy, Ketua RW 01 Batu Gantung Ganemo Nik Hukubun dan Ketua RW 02 Batu Gantung Ganemo Jahja Balyanan (S-10)