Kapolda: Kasus BNI Rumit, Polisi Ekstra Hati-hati

AMBON, Siwalimanews –  Kapolda Maluku, Irjen Royke Lu­mowa mengaku, kasus pembobolan BNI Ambon rumit. Karena itu, poli­si butuh ekstra hati-hati dalam pe­nanganannya.

Polisi juga butuh alat bukti yang kuat dan didukung oleh saksi ahli perbankan untuk menuntasan ka­sus penjarahan uang nasabah  yang diduga ratusan miliar itu.

“Rumit yang namanya perbankan, kita tidak boleh salah tangkap, salah sita, ini kan uang besar karena ber­kaitan dengan orang-orang penting juga. Kemudian butuh alat bukti lengkap dan pembuktian yang konkrit, dan itu tingkat kesulitan­nya. Dan itu membutuhkan saksi-saksi ahli, tidak sekedar kita panggil datang kemari. Saksi ahli ada di Jakarta,” tandas Kapolda kepada war­­tawan, usai syukuran HUT Polairud ke-69 di dermaga Polairud Polda Maluku, Lateri Ambon Rabu (4/12).

Kapolda mengatakan, bantuan tim Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus dan Pengawasan Penyidikan Bareskrim Polri dibu­tuhkan untuk kepentingan pengem­bangan penyidikan.

“Korwas itu dia membantu kita memberkan asistensi pendalaman apa yang masih perlu, kita kurang beri asistensi dan memberikan pe­tunjuk,” jelasnya.

Menurutnya, tim bareskrim sendiri mengakui kalau kasus pembobolan BNI Ambon, kasus sulit, sehingga butuh kehatian-hatian.

“Mereka sendiri menyampaikan bahwa kasus ini merupakan kasus sulit, ini kasus ukuran Indonesia, sehingga butuh kehati-hatian dan ada beberapa petunjuk yang harus ditambah sudah mereka kasih, tambah itu tambah itu dan harus diperluas lagi bila perlu sampai ke tingkat pusat,” ujarnya.

Ditanya soal apa maksud perluas sampai ke tingkat pusat, mantan Kakorlantas Polri ini enggan men­jelaskan. Ia hanya mengaku, pengem­bangan penyidikan masih jalan.

“Silakan mengikuti, proses masih jalan,” ujarnya lagi, sembari menam­bahkan, tidak menutup kemungki­nan ada tersangka baru.

Kapolda mengaku prihatin dengan banyaknya nasabah yang uangnya dibobol, dan sudah lapor ke polisi. Namun yang ditangani polisi hanya pidana. Kalau soal ganti rugi, mereka harus berurusan dengan BNI.

“Kita tentu layani secara pidana. Kasihan itu, polisi hanya sebatas pidana, untuk ganti rugi itu kan rana perdata. Silakan antara mereka dengan pihak BNI,” katanya.

Masih Lacak

Penyidik Ditreskrimsus Polda Ma­luku masih melacak aset milik Danny Nirahua, suami Faradiba Yusuf, tersangka kasus pembobolan BNI 46 Ambon.

“Masih lacak. Belum bisa dibuka. Itu kan teknisnya masih dilakukan oleh penyidik,” kata sumber di Polda Maluku, kepada Siwalima, Rabu (3/12).

Ditreskrimsus mengendus sejum­lah aset milik Danny yang diduga dibeli oleh Faradiba Yusuf, diantara­nya rumah di kawasan Citraland, Lateri dan mobil.

Tak hanya itu, penyidik juga akan menelusuri perkara-perkara baik ko­rupsi, perdata maupun pidana umum yang selama ini ditangani oleh Danny Nirahua di pengadilan.

“Bukan hanya aset Faradiba yang dilacak, tetapi aset suami­nya juga Danny Nirahua ikut dilacak, terma­suk perkara-perkara yang dia tanga­ni sebagai pengacara,” kata sumber di Polda Maluku, kepada Siwalima, Selasa (3/12).

Sumber itu mengatakan, penelu­suran perlu dilakukan untuk mem­bandingkan, apakah pendapatan yang diperoleh Danny dari jumlah perkara yang ditangani, seimbang dengan aset-aset yang dimilikinya ataukah tidak.

“Ini kan ada dugaan TPPU, maka­nya harus telusuri aset-asetnya ju­ga. Informasi ada rumah di Citraland dan juga mobil, semuanya akan kita lacak,” ujarnya.

Sumber itu juga mengatakan, Danny akan dipanggil lagi untuk diperiksa, karena keterangannya masih dibutuhkan.

“Sudah masuk daftar agenda pe­me­riksaan, tinggal dipanggil untuk diperiksa saja,” jelasnya.

Sebelumnya Danny diperiksa se­lama dua hari berturut-turut, Selasa (22/10)-Rabu (23/10). Namun hingga kini statusnya masih sebagai saksi. Padahal penyidik sudah menganto­ngi bukti-bukti dugaan keterlibatan­nya.

Sementara Direktur Reskrimsus Polda Maluku, Kombes Firman Naing­golan yang dikonfirmasi enggan menjawab telepon.

Jadi Anak emas

Berbagai kalangan menilai,  Danny Nirahua menjadi anak emas Ditres­krimsus Polda Maluku.  Suami  Fa­radiba Yusuf ini belum juga ditetap­kan sebagai tersangka.

Sebagai pemilik 8 rekening penam­pung yang diduga hasil kejahatan Fa­radiba, tak logis Danny masih dibiar­kan bebas. Sementara Soraya Pellu, kakak angkat Faradiba yang hanya memiliki satu rekening pe­nampung buru-buru ditetapkan sebagai tersangka dan langsung ditahan.

Dalam pengusutan penyidik Dit­reskrimsus mengungkap 9 rekening di BNI yang digunakan Faradiba untuk menampung uang nasabah yang dijarah.

Dari 9 rekening itu, 8 diantaranya atas nama Danny. Satunya lagi atas nama Soraya Pellu, kakak ang­kat Faradiba.

Delapan rekening atas nama Dan­ny masing-masing; 3 rekening di KCP AY Patty, 3 di KCP Mardika dan 2 lagi di BNI Cabang Utama Ambon atas Kantor Advokat Danny Nira­hua.

Selain 8 rekening penampung, Danny juga menikmati sejumlah mobil mewah yang diduga dibeli oleh Faradiba. Misalnya, Alphard seri G bernomor polisi AD 8686 OP, Mitshubisi Pajero Sport tahun 2018 nomor polisi DE 5 NF dan Honda HRV tahun 2019 nomor polisi DE 12 MP. Ketiga unit mobil itu telah disita dan diamankan di halaman Kantor Ditreskrimsus Polda Maluku.  Ada apa dengan Ditreskrimsus Polda Maluku, sehingga Danny belum dijerat?. (S-27)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *