Kamis, Ahli Geologi ke Nusalaut

MASOHI, Siwalimanews – Para ahli geologi Ka­mis (14/11), akan turun meneliti dan mengkaji tanah merayap atau ambles di Ne­geri Sila Kecama­tan Nusalaut Kabupa­ten Malteng.

Fenomena “creeping” atau tanah mera­yap yang baru pernah terjadi ini dirasakan war­ga setempat pada Senin (4/11), sekitar pu­kul 10.00 WIT. Saat itu pergerakan tanah terjadi di lokasi peris­tiwa seluas 50 meter per­segi dengan mem­bentuk lubang lebih dari 9 meter.

Badan Penanggu­langan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malteng melalui BPBD Provinsi Maluku langsung sigap dan berkoordinasi dengan  Kementerian ESDM untuk melakukan kajian lebih lanjut soal tanah ambles yang menurut LIPI patut diwaspadai itu.

“Jadi kajian LIPI itu sudah kami tindaklanjuti dengan melaporkan hasilnya ke Kepala BPBD Provinsi Maluku, ibu Farida Salampessy dan BNPB di Jakarta serta berkoordinasi dengan Kementerian ESDM. Hasil­nya para Ahli dari Badan Geologi pusat akan langsung terjun ke Nusalaut 14 Nopember mendatang untuk mengkaji lebih lanjut  masalah tanah ambles, agar ada langkah penanganan yang tertanggung­jawab dengan kajian ilmiah dan dapat lebih dipertangungjawabkan secara ilmiah,” jelas Kepala BPBD Kabupa­ten Malteng, Bob Rachmat kepada Siwalima di Masohi, Senin (11/11).

Bob mengaku, langkah ini diambil bukan sebagai akibat adanya kera­guan atas kajian LIPI Maluku yang sebelumnya telah mengkaji dan menghitung dampak selanjutnya dari tanah ambles di Negeri Sila itu.

“Jadi bukan kita meragukan kapasitas LIPI yang sebelumnya melakukan kajian atas kejadian itu, namun kita butuh hasil kajian lebih lanjut dari beberapa ahli geologi karena hal ini akan berdampak pada upaya selanjutnya dari kejadian tanah ambles di Negeri Sila. Olehnya langkahnya seperti apa akan sangat tergantung dari kajian ahli nanti serta kajian LIPI yang sebelumnya telah mengkaji masalah ini,” kata Bob.

Meski demikian Bob meminta warga untuk tetap waspada dan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Waspada atau iktiar sambung Bob berbeda dengan sikap takut.  Olehnya ia meminta warga tidak takut dan bijak dalam menyi­kapi setiap informarsi dari sumber yang memiliki kewenangan.

“Bagi warga Negeri Sila, kami harap tetap waspada dan beriktiar. Kita semua berdoa agar tidak ada bencana yang mengancam kehidu­pan kita semua dari fakta tanah ambles ini. Selain itu kami meminta warga untuk tidak menyikapi infor­masi hoax yang tidak tertanggung jawab apalagi tidak dari sumber yang tepat atau lembaga yang memiliki kewenangan. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi over ketakutan yang menyebabkan timbulnya hal-hal yang tidak diharapkan,” ungkap Bob.

Diakuinya, Pemkab Malteng belum mau menjelaskan detail penanganan lanjutan darii kejadian tanah ambles di Negeri Sila. Pemkab Malteng melalui BPBD akan terus sosialisasi pengurangan resiko bencana serta langkah lain manakala hasil kajian ilmiahnya benar-benar dapat diper­tanggungjawabkan.

“Jadi kita tunggu dulu hasil kajian Badan Geologi pusat. Pastinya akan ada rekomendasi dari hasil itu dan kami sangat mengharapkan hasilnya nanti tidak sesuai dengan apa yang tidak kita harapkan. Intinya langkah awal ini kita sosialisasi pengurangan resiko bencana sampai hasil kajian badan geologi falid dan dikeluarkan. Hal ini bagi kami penting untuk me­nentukan langkah tindaklanjut yang lebih jauh nantinya,” tandas Bob.

Terpisah anggota DPRD Malteng asal dapil Saparua, Nusalaut, dan Pulau Haruku,  Frans J Picarima me­minta BPBD Malteng serius menin­daklanjuti masalah tanah ambles yang kini berada dalam status waspada tersebut.

Picarima mengatakan, sudah saatnya BPBD mengambil langkah taktis, salah satunya dengan me­laku­kan simulasi tanggap darurat bencana dan lain sebagainya termasuk mengidentifikasu lokasi aman sebagai titik efakuasi warga untuk memini­malisir dampak resiko bencana.

“Kami melihat masalah ini sangat serius setelah LIPI mengeluarkan status wapada atas kejadian tanah ambles atau tanah merayap  di Sila. Meski secara ilmiah hal ini mem­butuhkan kajian mendalam, akan tetapi BPBD tidak boleh diam dan hanya menunggu hasil kajian Badan Geologi saja. Sebab jika tanah ambles itu berpotensi menimbulkan ben­cana yang lebih besar. Maka langkah sosialisasi dan identifikasi lokasi aman bagi warga sudah harus dilakukan.agar jika terjadi sesuatu maka warga secara mandiri dapat mengetahui kemana mereka meng­evakuasi diri. Jangan sampai ke­mudian bencana tiba-tiba terjadi dan menimbulkan dampak serius yang tidak diharapkan,” tandas Picarima.

Warga Takut

Saniri Negeri Sila, Jonasus Sose­lisa mengatakan warga yang tinggal berdekatan dengan lumbang ter­sebut ketakutan, sehingga pada malam hari, mereka harus mengungsi ke rumah warga lainnya.

“Disana masyarakat takut, me­mang tidak ada yang mengungsi namun untuk warga yang tinggal berdekatan dengan lubang, mau tidak mau mereka harus mengungsi ke orang lain ketika malam hari,” ungkap Soselisa kepada Siwalima melalui telepon selulernya, Senin (11/11).

Ia menjelaskan, pergeseran tanah terjadi seperti adanya gempa bumi didalam tanah namun tak dirasakan warga. Akibat dari itu, bukan saja ada lubang besar, namun juga ada beberapa rumah warga yang meng­alami retakan.

“Seakan-akan itu gempa dalam tanah jadi kita tidak rasa, warga se­mua ada, cuman tiba-tiba kok bunyi besar dengan disertai beberapa rumah retak,”jelas Soselissa.

Akibat terjadi tanah merayap, lanjut Soselissa, dalam waktu dekat dari LIPI, tim provinsi dan kabupaten serta pusat juga salah satu universitas dari Bandung akan melakukan pengkajian.

LIPI Minta Waspada

Sementara itu, Peneliti Muda Bidang Geologi Pusat Penelitian Laut Dalam (P2LD) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Fa­reza Sasongko mengatakan, pihak­nya telah meminta kepada tim BPBD Provinsi Maluku untuk meminta warga Negeri Sila, tinggalkan lokasi tanah merayap.

LIPI mengkaji sangat berbahaya jika masyarakat tetap tinggal di rumah mereka apalagi ketika malam hari.  “Kita sudah sampaikan kepada BPBD baik kabupaten maupun provinsi untuk meminta warga agar tak berada di rumah mereka, karena sangat berbahaya,”ujar Sasongko kepada Siwalim melalui telepon selulernya, Senin (11/11).

Ia menambahkan, dalam waktu dekat mereka bersama tim provinsi akan turun melakukan pengkajian dan penelitian penyebab terjadinya tanah merayap.

Sebelumnya diberitakan, Pusat Penelitian Laut Dalam (P2LD) Lemba­ga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyatakan tanah ambles di Desa Sila, Kecamatan Nusa­laut Kabupaten Maluku Tengah beberapa hari lalu merupakan fe­nomena “creeping” atau tanah me­rayap.

Oleh karena itu, mereka meng­himbau kepada masyarakat yang berada di Desa Sila untuk tetas was­pada. “Fenomena yang ter­jadi di Sila, Kecamatan Nusalaut meru­pakan salah satu gerakan massa tanah yang disebut ‘creeping’ atau tanah merayap,” kata Peneliti Muda Bidang Geologi P2LD LIPI, Fareza Sasongko Yuwono melalui telepon selulernya,  Jumat (8/11).

Ia menjelaskan, pada Senin(4/11), sekitar pukul 10.00 WIT, peristiwa dilaporkan oleh warga Desa Sila, Kecamatan Nusalaut, Kabupaten Maluku Tengah terjadi pergerakan tanah di lokasi seluas 50 meter persegi.

Pergerakan tanah terjadi di lokasi rekahan tanah yang terbentuk pada 2006, akibat gempa bumi magnitudo 6,1 yang berpusat di Laut Seram, Desa Wahai, Kecamatan Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah dengan kedalaman 117 kilometer. Lokasi pergerakan tanah itu berjarak sekitar 100 meter dari pantai setempat.

Tanah tersebut terus bergerak turun, dari yang sebelumnya seda­lam 75 centimeter hingga Rabu (6/11), pukul 14.00 WIT sudah menca­pai kedalaman antara 12-15 meter.

Tanah yang ambles tersebut sempat diukur oleh warga setempat meng­gunakan bambu berukuran sembilan meter dan tali sepanjang tiga meter. Mereka menemukan di dalam tanah ambles itu terdapat air laut.

Warga setempat khawatir dengan peristiwa itu karena di dekat lokasi terdapat tiga rumah, sedangkan kejadian itu tanpa didahului gun­cangan gempa. Menanggapi laporan tersebut, Fareza mengatakan ba­nyak faktor penyebab fenomena “creeping”, antara lain akibat getaran yang dihasilkan gempa bumi dan adanya rekahan tanah yang sudah ada sebelumnya.

Selain itu, kejenuhan air tanah yang dipengaruhi intensitas hujan dan intrusi air laut. “Perlu kajian lebih lanjut untuk mengetahui pe­nyebab pasti dan potensi baha­ya­nya,” ujar Fareza. (S-36/S-40)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *