Jefry Engka Duduk di Kursi Pesakitan

Cemarkan Nama Baik

AMBON, Siwalimanews – Nelson Jefry Engka, terdakwa kasus pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan terhadap Lidya Gosal, Ronny Rambitan dan Lidia Lawrance, akhirnya duduk di kursi pesakitan.

Sidang perdana dengan agenda pembacaan dakwaan itu digelar secara terbuka di Pegadilan Negeri (PN) Ambon, Senin (7/10), yang dipimpin majelis hakim yang diketuai Felix Wuisan didampingi Syam­sudin La Hasan dan Yenny Tulak selaku hakim anggota.

Sementara terdakwa didam­pingi Penasihat Hukum,  Mar­then Fordatkosu dan Remon Tasane.

JPU Kejati Maluku, Awaludin dalam dakwaannya mengata­kan, pada Rabu (19/12) 2018 lalu, sekitar pukul. 11. 00 WIT, bertempat di Kafe Black Stret, Jalan Ay Patty Kecamatan. Sirimau Kota Ambon dengan sengaja menyerang kehormatan atau nama baik seseorang dengan menuduhkan sesuatu hal, yang secara terang diketahui umum.

Peristiwa tersebut berawal ketika saksi Lidya Laurence alias Lidya,  pada Senin tanggal. 08 Desember 2014 telah membeli sebidang tanah seluas 2. 220 M2 yang terletak di Desa Passo dari isteri terdak­wa yang bernama Josina Alice de Fretes, dengan harga Rp. 2. Miliar sesuai dengan akta jual beli Nomor 44/ A. JB/ 2014 tanggal 08 Desember 2014 dan jual beli tersebut disetujui oleh terdakwa selaku suami dari, Josina Alice de Fretes, sesuai dengan tanda­tangan terdakwa yang tertera.

Selanjutnya, pada tangga121 Desember 2018, saksi Lidya Laurence alias Lidya diberitahu­kan oleh temannya yang bernama Heni, bahwa nama saksi masuk dalam koran Kabar Timur dan Spektrum dan setelah saksi diberitahukan oleh temannya itu, lalu saksi lang­sung pada hari itu juga membeli koran Kabar Timur  dan langsung saksi memba­canya, dimana judulnya : Data AJB (Akta Jual Beli) SPBU Dipalsukan, Notaris.

Setelah saksi Lidya Laurence alias Lidya selesai membaca koran tersebut, saksi merasa malu karena koran itu sudah dibaca oleh masyarakat Kota Ambon.

Dan telah dituduhkan oleh terdakwa atau yang termuat dalam koran itu tertanggal 21 Desember 2018 itu adalah tidak benar.

Akhirnya, saksi korban pada tanggal 14 Januari 2019, melaporkan terdakwa ke Polda Maluku untuk diproses sesuai dengan bukti.

Perbuatan terdakwa diancam pidana sebagaimana diatur dalam pasal 310 ayat (1), KUHP.

Usai mendengarkan dakwaan tersebut, terdakwa langsung menyatakan tidak menerima dakwaan tersebut sehingga mengajukan eksepsi.

Majelis hakim kemudian menunda sidang hingga pekan depan, dengan agenda men­dengarkan eksepsi terdakwa. (S-16)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *