AMBON, Siwalimanews – Tiap tahun jelang hari raya Natal dan akhir tahun, harga barang sembilan bahan pokok biasa melonjak naik  di setiap daerah. Tetapi kondisi ini berbeda di Kota Langgur, Kabupaten Maluku Tenggara.Tahun ini, jelang Natal dan hingga memasuki akhir tahun ini harga sembako masih stabil di pasar. Meski, tran­saksi jual beli berkurang akibat Covid-19.

Biasanya penyebab kenaikan harga sembako disebabkan langkanya pasokan, sulit mendapatkan sumber pasokan, kenaikan harga BBM, sampai pada kebijakan pemerintah.

Ibu Uli, salah satu pemilik kios sembako di pasar Langgur mengatakan bahwa semua harga sembako kecuali beras mengalami kenaikan harga yang turut mempengaruhi harga jual.

“Biasanya harga dinaikkan Rp 5.000, namun harga telur yang mengalami kenaikan harga paling tinggi. Dari Rp 50.000 per rak, naik sampai Rp 65.000 per rak,” ungkapnya saat ditemui di Pasar Langgur, pekan ini.

Ibu Uly memastikan stok persediaan sembako untuk melayani pembeli,masih tersedia sampai akhir tahun.

Baca Juga: Jabatan Empat PJU dan Kapolres Aru Dimutasikan

Dari pantauan lapangan, un­tuk harga daging ayam, ti­dak ada kenaikan harga yang berarti walau harga belinya, meningkat.

Ibu Ena, selaku penjual daging ayam mengatakan bahwa harga daging ayam per freezer sebelum menje­lang natal naik sampai Rp 1.718.000 dari harga Rp1.600.000 Namun harga jualnya tidak naik sehingga tidak memberikan keuntungan. “Terkait keuntu-ngan, hampir semua peda-gang terkena dampak dari wabah Covid-19,” akuinya.

Seperti diketahui, perban­dingan pendapatan pedagang sebelum pandemi Covid-19 dengan kondisi saat ini sangat kontras. Sebelum masa pan­demi, pendapatan mereka le­bih besar dan stabil sehingga membawa keuntu­ngan. Na­mun semenjak itu sampai pa­da situasi yang sekarang, pen­dapatan peda­gang sangat me­nurun. Hal ini disebabkan oleh sepinya pembeli karena masih was-was akan penye­baran virus corona. (S-32)