AMBON, Siwalimanews – Gubernur Maluku, Murad Ismail me­minta dukungan umat Katolik membantu pemerintah bangun Maluku. Gubernur mengatakan hal itu kepada para uskup, pastor, suster dan seluruh peserta Sidang Sinode III Keuskupan Amboina saat jamuan makan siang di Kediaman Gubernur, kawasan Mangga Dua, Rabu (18/9).

“Sebagai gubernur dan memiliki tugas dan tanggung jawab yang besar, salah satu tugasnya bagaiman mensejahterakan masyarakat Maluku dan mengurangi angka kemiskinan serta menjaga sumber daya alam yang berlimpah untuk dinikmati oleh generasi sekarang dan generasi yang akan datang bukan perkara yang muda. Untuk itu saya butuh dukungan dari umat Katolik di Maluku,” kata Gubernur.

Pada kesempatan itu, Gubernur mengatakan, sejak dulu menjadi adat dan budaya orang Maluku, jika ada tamu, harus dijamu dengan baik. “Kalau kita tidak menjamu maka kita bukan merasa sebagai orang Maluku. Jadi saya minta masyarakat Maluku termasuk umat katolik untuk dukung saya agar sepak terjang saja bisa membawa Maluku ke arah yang lebih baik,” pintanya.

Menurut Gubernur, jamuan makan siang merupakan tanda kehormatan kepada para uskup dan peserta Sidang Sinode III Keuskupan Amboina yang berasal dari luar Maluku.

“Saya minta didoakan dari para uskup dari seluruh Indonesia yang hadir saat ini agar bisa membawa Maluku yang lebih baik kedepan,” ujarnya.

Baca Juga: Wawali Minta PKK Tingkatkan Harmonisasi & Kebersamaan

Diakui Gubernur, jamuan makan saat ini merupakan tanda kehormatan kepada para uskup dan peserta sidang sinode yang datang dari jauh untuk berkunjung ke Kota Ambon.

“Di Ambon ini enak, kita bisa makan ikan yang hanya sekali mati, olehnya kalau berkunjung sebaiknya lebih dari satu hari. Karena disini bisa makan ikan yang sekali mati dan juga menikmati kasbi (singkong red) yang sangat enak, itu hanya ada di Maluku,” ungkap Gubernur.

Pada kesempatan itu juga gubernur juga memaparkan kepada para uskup dan peserta Sidang Sinode III Keuskupan Amboina, kondisi Maluku saat ini yang mana dengan wilayah laut yang luas namun anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) masih sangat minim.

“Kita hanya diberikan anggaran 1 tahun itu Rp.2,8 triliun jauh bedanya dengan Kabupaten Tangerang Selatan yang APBD nya sebesar Rp 3,8 triliun per tahun,” jelas Gubernur.

Sebagai gambaran luas wilayah Maluku yang terdiri dari laut 92,4 persen dan daratan 5,6 persen dan 1.340 buah pulau.  Dengan APBD sangat kecil tambahnya, dengan luas wilayah yang besar pemerintah pusat belum memberikan kesempatan kepada Maluku untuk berdikari.

“Saya minta masyarakat Maluku dukung saya agar sepak terjang saya bisa membawa Maluku ke arah yang lebih baik,” tandasnya.

Ditempat yang sama Uskup Amboina Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC mengaku berterima kasih kepada gubernur yang mau menjamu para uskup dan juga peserta Sidang Sinode ke III Keuskupan Amboina di kediamannya.

“Kami merasa bahwa negara dan pemerintah hadir bagi kami umat Katolik, saya berterima kasih kepada pak gubernur yang mau menjamu kami untuk makan siang bersama,” tandas Uskup Mandagi.

Dirinya juga mengaku selalu menjalin komunikasi dengan pemerintah daerah dan mendukung kebijakan yang dilakukan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat.

25 Tahun Perjalanan Madagi

Setelah makan siang dengan gubernur, pada malam harinya, Keusukupan Amboina menggelar perayaan syukuran perjalanan 25 tahun kepemimpinan Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC di gedung Serbaguna Xaverius.

Sebelumnya digelar misa yang  berlangsung  di Gereja Katedral St.Fransiskus Xaverius Ambon, yang dipimpin 17 Uskup se Indonesia dan dihadiri ribuan umat Katolik di Kota Ambon.

Moto yang difunakan dalam rangka syukuran 25 tahun perjalanan rohani Uskup Mandagi itu “Kamu Telah Menerima dengan Cuma-Cuma Maka Berikanlah Pula dengan Cuma-Cuma”. Itulah sosok seorang Uskup Mandagi yang sederhana yang lahir dari orang tua Edwar Mandagi (ayah) dan Regina Dola (ibu) pada 27 April 1949 di  Desa Kamangta, Kecamatan Tombulu Kabupate Minahasa Sulewesi Utara.

Pantauan Siwalima, upacara misa awali dengan misa syukur yang dihadiri 17 uskup yakni Uskup Makassar, Uskup Manado, Uskup Bogor, Uskup Malang, Uskup Lampung, Uskup Tanjung Karang, Uskup Padang, Uskup Palembang, Uskup Samarinda, Uskup Bandung, Uskup Banjarmasin, Uskup Palangkaraya, Uskup Asmat dan Uskup Pontianak.

Gubernur Maluku, Murad Ismail dalam sambutannya mengatakan episkopal Uskup Diosis Amboina bukan waktu yang singkat, tetapi merupakan perjalanan panjang penuh liku-liku dan hambatan. Oleh sebab itu, sangat pantas untuk dirayakan, karena merupakan penyemangat dan bentuk perhatian umat kepada uskup selaku gembala umat.

“Saya berharap kehadiran Keuskupan Amboina dibawah kepemimpinan Uskup Mandagi, bisa bersenergi dengan pemerintah, terutama dalam memberikan kritik bagi pemerintah daerah.

Uskup Amboina,  Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC dalam sambutannya mengatakan, tepat 18 September,  25 tahun dirinya mengemban tangung jawab sebagai pimpinan umat Katolik di Maluku dan Maluku Utara sebagai Uskup Diosis Amboina.

“Di momen pesta perak ini, ada suka cita sendiri bagi Uskup karena sebanyak 17 Uskup turut menghadiri pesta peraknya. Jadi angka 25 tahun, menunjukan bahwa seorang manusia selalu ada pertumbuhan. Artinya tidak selalu muda. Dengan usia 70 tahun, dan masa jabatan 25 tahun, angka ini menyadarkan saya bahwa satu saat akan berakhir juga,” ujar Mandagi.

Ia berpesan jangan pernah menyerah menghadapi tantangan hidup. Menyerah berarti membunuh harapan dan impian. (S-39)