Gubernur: Maluku Laboratorium Perdamaian Dunia

AMBON, Siwalimanews – Gubernur Maluku Murad Ismail mengaku, kehidupan toleransi antar umat beragama di provinsi ini sangat luar biasa, bahkan Maluku adalah laboratorium perdamaian dunia.

Peresmian gedung gereja yang dilaksanakan menjelang persiapan umat Kristiani memasuki masa penantian kelahiran sang Putra Natal, tentu memiliki makna yang strategis yang akan membangun ketaatan jemaat terhadap kewajiban untuk senantiasa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

“Keberadaan sebuah gedung gereja sangat penting bagi umatnya untuk berdoa dan bwrsekutu serta meningkatkan iman dan taqwa kepada tuhan yang maha kuasa. Saya ingatkan kepada masyarakat Negeri Ullath, bahwa ini gereja luar biasa mungkin termahal di seluruh Maluku,” tandas gubernur dalam sambutannya saat peresmian Gedung Gereja Taman Hoea di Negeri Ullath, Kecamatan Saparua Timur, Kabupaten Maluku Tengah, Selasa (24/12) kemarin.

Menurutnya, dengan gereja semegah ini, namun jika masyarakat tidak hadir mengikuti ibadah setiap minggu, alangkah sayangnya, lebih baik gereja yang tidak punya dinding, namun jemaatnya setiap saat memenuhi gereja tersebut untuk memuji dan membasarkan nama Tuhan.

Orang Ullath luar biasa punya Ibu Mery Pical, kenapa demikian, karena tidak ada orang Maluku yang sudah hebat di Jakarta atau tanah rantau lainnya akan pulang melihat daerahnya. Untuk itu, jika gereja yang semagah ini, namun jemaatnya malas ke gereja, maka sangat disyangkan.

“Ibu Pical dan saya sama. Waktu proses pilkada, saya masih dua tahun lagi pensiun, saya Dankro Brimob saat itu. Dulu saya lihat Maluku dari sisi keamanan, tapi setelah kembali ke Jakarta, kok Maluku termiskin ke empat dan angka pengangguran tertinngi pertama dan pelayanan dasar serta pelayanan publik paling rendah di Indonesia dan yang membuat saya kembali ke Maluku tidak ada invstor yang mau datang ke sini. Padahal investor sangat banyak, tetapi semua dibawa tangan sebab semua ijinnya dari kementerian/lembaga,” tandasnya.

Padahal kata gubernur, tugas kepala daerah. adalah bagaimana mengentaskan kemiskinan, mampu mensejahterakan masyarakat sementara plus lainnya, kepala daerah harus mampu menjaga dan mempertahankan SDA agar dapat dimanfaatkan oleh generasi sekarang dan yang akan datang.

“Anak cucu kita harus merasakan apa yang kita rasakan. Ini kalau kita tidak  pertahankan, kita akan jadi penonton di negeri yang sangat kaya ini,” tandas gubernur.

Rumah ibadah lanjut gubernur, bukanlah sekedar sebuah bangunan arsitektual megah, yang dibangun dengan kerja keras dan kerja sama, melainkan dibangun dengan iman dan kasih serta pengharapan dengan mengandalkan Tuhan.

Seperti kata pemazmur, Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, maka siah-sialah usaha orang yang membangunnya. Gereja adalah sebuah persekutuan dan kehidupan religius bersama Tuhan yang berpusat pada pelayanan.

“Atas nama pemda saya berikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh Jemaat GPM Ullath yang telah selesaikan rangkaian pembangunan gedung gereja ini sehingga dapat ditahbiskan dan diresmikan jelang perayaan kelahiran sang Putra Natal,” ucap gubernur.

Kiranya semangat kerja sama menyelesaikan pembangunan gereja ini dengan melibatkan pelayan dan jemaat, tambah gubernur, hendaknya menjadi gaya hidup masyarakat Negeri Ullath yang juga menjadi cermin bagi seluruh masyarakat Maluku, karena tanpa persatuan, tanpa persekutuan dan tanpa kerja sama, tidak mampu berbuat apa-apa.

Sebelumnya, Ketua Panitia Pembangunan, Robby Sapulette dalam laporannya menjelaskan, biaya pembangunan direncanakan awalnya sebesar Rp 15 miliar, namun dalam perjalanannya gedung gereja ini selesai dibangun dengan menghabiskan biaya mencapai Rp 31 miliar.

“Peletakan batu pertama dilaksanakan pada bulan September 2014 dan selesai dibangun pada Desember 2019, artinya diselesikan dalam kurun waktu 5 tahun 3 bulan,” jelas Sapulette.

Pentahbisan dan peresmian Gedung Gereja Taman Hoea Negeri Ullath ini diawali dengan penyerahan gedung gereja dari Keluarga dr Chandra kepada Ketua MPH Sinode GPM Pendeta AJ Werinussa.

Kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan prasasti oleh ketua sinode, Dirjen Bimas Kristen Kemenag RI dan Gubernur Maluku. Usai penandatanganan prasasti, kemudian ketiganya bersama dr Chandra secara bersamaan menekan tombol pembukaan papan nama gereja.

Usai papan nama gereja terbuka, dilanjutkan dengan pengguntingan pita oleh bunda Widya Murad Ismail serta penyerahan kunci gedung gereja dari dr Chandra kepada gubernur dan kemudian gubernur menyerahkannya kembali kepada ketua sinode untuk membuka pintu gereja untuk dimulailah ibadah perdana pada gedung gereja tersebut.

Hadir pada pentahbisan gedung gereja ini, Ketua DPRD Maluku Lucky Wattimury, Pangdam XVI/Pattimura Mayjen TNI Marga Taufiq, Kapolda Maluku Irjen Pol Royke Lumowa, Staf Ahli Wantanas Mayjen TNI Izack Markus Patipeilohy, Rektor Unpatti MJ Sapteno, Kakanwil Kemenag Maluku Fasal Musaad, Plt Sekda Maluku Kasrul Selang, serta pra pimpinan OPD di lingkup Pemprov Maluku.

Turut menyaksikan langsung juga, gandong Negeri Ullath, dari Oma dan Buano, serta masyarakati Negeri Wassu dan Siri sori Islam yang merupakan pela dari Negeri Ullath bahkan masyarakat Ullath yang datang dari perantauan. (S-39)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *