Gempa 5,1 SR Guncang Ambon, Warga Panik  

AMBON, Siwalimanews – Kota Ambon dan sekitarnya kembali dihantam gempa bumi tektonik berke­kuatan 5,1 SR Selasa (12/11) malam sekitar pukul 19.10 :42 WIT. Gempa sempat membuat mas­yarakat panik dan lari berham­buran menyela­matkan diri, ter­utama dari ge­dung-gedung bertingkat.

Pantauan Siwa­lima, rumah-rumah sakit di Ambon seperti RS Al-Fatah dan Sum­ber Hidup harus mengevakuasi pasien keluar dari ruangan. Petugas dan keluarga pasien lari keluar menyelamatkan pasien yang sakit.

Gempa juga membuat sejumlah gedung seperti Maluku City Mall (MCM), tugu pahlawan Leimena di Poka mengalami retak. Bahkan marmer yang melapisi dinding tugu patung tersebut jatuh terlepas berhamburan di tanah.

Plafon MCM yang terbuat dari gypsum jatuh ke lantai, pengunjung lari ketakutan. Suasana yang tadi­nya ramai berubah menjadi hening. Warga memilih pulang ke rumah.

Hasil analisis BMKG menunjuk­kan gempa bumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo  M=5,1, Episenter gempa bumi terl­e­tak pada koordinat 3.49 LS dan 128.35 BT , atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 29 km arah Timur Laut Kota Ambon, Maluku pada kedalaman 10 km.

Kepala Seksi Bidang Data dan Informasi BMKG, Andi Ashar yang dikonfirmasi Siwalima mengaku, gempa ini dirasakan di Kota Ambon namun tak berpotensi tsunami.

“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposen­ter­nya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi da­ngkal akibat adanya aktivitas sesar lokal.  Hasil analisis mekanisme sum­ber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergera­kan mendatar (strike slip). Gempa dengan kekuatan 5.1 SR ini tidak berpotensi tsunami,” kata Ashar.

Menurutnya, guncangan gempa bumi ini dirasakan di daerah Ambon, Kairatu IV Mmi, Liang III Mmi.  Selain gempa pertama, ada juga sejumlah gempa susulan yang terjadi dan hasil analisis BMKG, gempa bumi ini masih merupakan bagian dari rangkaian aktivitas gempa susulan yang terjadi di Ambon sejak  26 September 2019 lalu dan telah tercatat aktivitas gempa susulan sebanyak 2.140 kali.

“Kami dihimbau kepada masyara­kat agar tetap tenang dan tidak ter­pengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebena­ran­nya. Menghindari dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa,” ingatnya.

Selain itu juga Ashar menghimbau kepada masyarakat untuk periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal cukup tahan gempa. “Pasti­kan informasi resmi hanya ber­sumber dari BMKG yang disebarkan melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi,” tandas Ashar.

Sementara itu Ramly warga Batu Merah kepada Siwalima mengaku kaget dan langsung berhamburan keluar dari rumah.

“Cukup kuat, kami berlarian keluar dari dalam rumah, semua orang panik,” ujar Ramly.

Dirinya bersama dengan keluar­ganya belum kembali ke dalam rumah karena takut terjadi gempa susulan. “Kami belum berani kembali ke rumah, takut ada susulan, semoga cepat berakhir dan tidak ada lagi gempa seperti ini,” ujar Ramly.

Voni warga Kayu Putih juga mengaku ketika gempa dirinya sedang berbelanja di salah satu kios. “Saya kaget, orang-orang berteriak ada gempa, lari. Saya terpaksa ikut lari keluar dari dalam kios, takut terjadi sesuatu,” jelas Voni.

Mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Kota Ambon ini juga ber­harap kejadian ini tidak lagi terulang. “Kita masih trauma dengan kejadian tanggal 26 September lalu, semoga tidak ada lagi gempa dengan kekua­tan sebesar itu,” tandasnya.

Berdasarkan data sementara yang dihimpun dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Ambon menyebutkan, sejumlah fasilitas sosial menjadi korban guncangan gempa tersebut. Diantaranya satu unit mesjid di Galunggung Desa Batu Merah rusak, pagar masjid di kawasan Kebun Cengkeh juga patah.

“Soal data belum pasti karena masih kroscek dengan camat-camat untuk mendapatkan data dari desa hingga kelurahan. Namun ada se­jum­lah fasilitas sosial yang rusak diantaranya satu unit mesjid rusak di Galunggung atas, pagar masjid di Ke­bun Cengkeh tembok-tembok masjid rusak dan plafon MCM juga rusak.  Patung Leimena juga menga­lami retak sehingga marmer yang membungkusi badan patuh jatuh ber­hamburan,” ungkap Kepala BPBD Kota Ambon, Demmy Pays. (S-39/S-40)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *